Vesaka Sanada 2570 BE: Waisak Jadi Momentum Rawat Harmoni dan Kedamaian

  • 21 Mei 2026 16:23 WIB
  •  Ternate

RRI.CO.ID, Ternate- Perayaan Waisak 2570 BE Tahun 2026 menjadi momentum penting bagi umat Buddha untuk kembali merefleksikan nilai kasih sayang, kebijaksanaan, serta harmoni dalam kehidupan bermasyarakat. Hal itu mengemuka dalam dialog interaktif Pro 1 RRI Ternate bertajuk “Vesaka Sanada 2570 BE” dengan tema “Dharma Menjaga Perdamaian Dunia”. Kamis 21 Mei 2026.

Hadir sebagai narasumber Marsam selaku Pembimas Buddha Maluku Utara, V.A Lian Zhao Sang Shi Vajra Acariya selaku Dharma Duta, serta Fandy Kalensang selaku Ketua Pembina Yayasan Semeru Dharma.

Dalam dialog itu dijelaskan, Waisak bukan sekadar perayaan keagamaan, tetapi juga momentum untuk membersihkan diri dari pikiran, ucapan, dan perbuatan yang buruk.

V.A Lian Zhao Sang Shi Vajra Acariya mengatakan ritual mandi Buddha atau Yivo merupakan simbol membersihkan hati dan batin manusia dari berbagai penderitaan serta karma buruk.“Makna Waisak itu mengingatkan kita untuk menjaga hati, pikiran, dan perbuatan agar hidup menjadi lebih baik dan damai,” ujarnya melalui penerjemah.

Ia juga mengaku terkesan dengan kondisi Kota Ternate yang dinilai memiliki lingkungan alam yang indah dan udara yang bersih sehingga mendukung ketenangan spiritual.“Ternate sangat baik untuk melatih diri dan bermeditasi karena suasananya tenang dan harmonis,” katanya.

Sementara itu, Marsam, S.Ag., M.Si menjelaskan rangkaian Vesaka Sanada telah dimulai sejak 1 Mei 2026 melalui puasa pertama atau upawasa, kegiatan ekoteologi, hingga penuangan ekoenzim ke sungai sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan.Menurutnya, lingkungan yang bersih sangat mendukung kehidupan spiritual umat beragama.

Ia menambahkan, tema Waisak sejalan dengan program moderasi beragama yang terus digaungkan Kementerian Agama guna memperkuat kerukunan dan harmoni di tengah masyarakat majemuk.“Waisak tahun ini juga diisi dengan bakti sosial, doa bersama, pembacaan sutra, hingga detik-detik Waisak yang dilaksanakan serentak secara nasional pada 31 Mei,” jelasnya.

Dalam dialog tersebut, para narasumber juga menyoroti kuatnya toleransi antarumat beragama di Kota Ternate. Kehadiran rumah ibadah umat Buddha di kawasan Air Tege-Tege disebut menjadi salah satu bukti nyata kerukunan masyarakat.“Ketika kami ingin membangun tempat ibadah, masyarakat setempat justru mendukung. Itu menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi kami,” ungkap Marsam.

Senada dengan itu, Pandita Dharmaduta Fandy Kalensang, ST, DEA menilai keberagaman di Ternate merupakan sebuah keindahan yang perlu terus dijaga bersama.“Keberagaman bukan hambatan, tetapi lukisan indah yang dititipkan Tuhan kepada kita,” katanya.

Dialog interaktif itu juga mendapat respons positif dari pendengar lintas agama. Salah seorang penelepon dari Madiun, Jawa Timur, menyampaikan bahwa inti dari setiap agama adalah menjaga hati dan menebarkan cinta kasih kepada sesama.Menutup dialog, para narasumber berharap perayaan Waisak 2570 BE dapat membawa kedamaian, memperkuat toleransi, serta menginspirasi masyarakat untuk hidup harmonis dalam keberagaman.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....