Persagi Minta Evaluasi Pemberian MBG Selama Ramadan

  • 05 Mar 2026 06:51 WIB
  •  Ternate

RRI.CO.ID, Ternate - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama Ramadan menjadi sorotan dalam Dialog Interaktif “Ternate Pagi” di Radio Republik Indonesia (RRI). Dialog yang digelar Selasa, 3 Maret 2026 itu membahas peran MBG dalam menjaga asupan gizi anak selama bulan puasa, khususnya di Maluku Utara.

Hadir sebagai narasumber Kepala DPD Persatuan Ahli Gizi Nasional Indonesia (Persagi) Maluku Utara, Siti Salmia, bersama Koordinator Wilayah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Maluku Utara, Asriani Siti Nur M. Kamal, serta Ahli Gizi SPPG Tubo, Fahmi Usman. Ketiganya mengulas tantangan, capaian, hingga evaluasi pelaksanaan MBG agar tetap efektif meski dijalankan dalam kondisi berpuasa.

Siti Salmia menegaskan, tujuan utama MBG adalah memperbaiki status gizi anak. Namun, ia mengingatkan bahwa indikator keberhasilan tidak hanya terletak pada angka kecukupan gizi di atas kertas.

“Sebagus apa pun nilai gizinya, kalau tidak dimakan anak-anak, maka tidak ada manfaatnya. Itu poin pentingnya,” ujarnya, menekankan pentingnya konsumsi nyata oleh siswa.

Menurutnya, Ramadan menghadirkan tantangan tersendiri, terutama pada menu kering yang dibagikan pagi hari dan baru dikonsumsi saat berbuka. Rentang waktu yang panjang berpotensi memengaruhi keamanan dan mutu pangan.

Ia menyoroti bahan berprotein tinggi seperti telur rebus yang rentan jika tidak dikelola dengan standar keamanan pangan yang ketat. Siti juga mengingatkan pentingnya pengawasan terhadap pelaku UMKM yang terlibat dalam penyediaan menu kering.

Pengendalian mutu, kata dia, harus dilakukan secara menyeluruh. “Harus ada pengendalian mutu yang jelas, termasuk penerapan prinsip keamanan pangan di setiap titik kritis produksi hingga distribusi,” katanya menegaskan.

Sementara itu, Asriani Siti Nur menjelaskan bahwa menu Ramadan telah melalui perhitungan ahli gizi di masing-masing SPPG. Setiap porsi dirancang mengandung energi sekitar 500–600 kilokalori dan protein 14–20 gram.

Ia mengakui, tantangan terbesar bukan hanya pada kandungan gizi. Melainkan juga pada daya tarik makanan dari sisi rasa, aroma, dan tampilan.

“Anak-anak itu pertama melihat tampilan. Kalau tampilannya kurang menarik, mereka enggan makan, meski gizinya sudah sesuai,” ujarnya.

Untuk memastikan kualitas tetap terjaga, SPPG rutin melakukan evaluasi melalui uji organoleptik yang diisi pihak sekolah. Selain itu, masukan siswa juga diterima dalam bentuk “surat cinta” yang dimasukkan ke dalam kotak makanan. Masukan tersebut menjadi bahan evaluasi menu harian agar semakin sesuai dengan selera dan kebutuhan anak.

Terkait distribusi, Asriani menyebut pihaknya telah berkoordinasi dengan sekolah mengenai waktu pembagian. Opsi distribusi sore hari sempat ditawarkan agar makanan bisa langsung dikonsumsi saat berbuka.

Namun, sebagian sekolah keberatan dengan alasan jadwal kerja, faktor keamanan, hingga potensi kemacetan. “Jika sekolah tidak bersedia menerima MBG selama Ramadan, kami tidak memaksakan. Semua berdasarkan koordinasi dan persetujuan bersama,” ujarnya.

Di sisi lain, Fahmi Usman menegaskan bahwa MBG bukan sekadar program pembagian makanan. Lebih dari itu, MBG juga menjadi sarana edukasi gizi bagi anak-anak. Ia berharap program ini mampu membentuk kebiasaan makan sehat, sekaligus meningkatkan pemahaman siswa tentang pentingnya protein, karbohidrat, vitamin, dan mineral.

“Anak-anak perlu tahu kenapa harus makan telur, kenapa perlu buah. Jadi bukan sekadar makan, tapi paham nilai gizinya,” katanya.

Menutup dialog, Siti Salmia mendorong adanya evaluasi eksternal agar pelaksanaan MBG tetap sesuai petunjuk teknis yang telah ditetapkan. Ia menyatakan Persagi siap berkolaborasi dalam kajian dan penelitian untuk penyempurnaan program.

“Kita semua berniat baik untuk generasi ke depan. Maka niat baik itu harus diikuti praktik yang benar dan terbuka terhadap kritik,” katanya, mengakhiri.

Melalui dialog ini, masyarakat diharapkan semakin memahami dinamika pelaksanaan MBG selama Ramadan. Kolaborasi antara pemerintah, tenaga gizi, sekolah, dan masyarakat dinilai menjadi kunci menjaga asupan gizi anak di Maluku Utara tetap optimal meski tengah menjalani ibadah puasa.

Rekomendasi Berita