Dinkes Tanjungpinang Intensifkan Penanganan Kasus Malaria di Senggarang

  • 25 Jun 2026 16:38 WIB
  •  Tanjungpinang

RRI.CO.ID, Tanjungpinang - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tanjungpinang terus mengintensifkan upaya penanganan kasus malaria yang ditemukan di sejumlah wilayah, khususnya di kawasan Senggarang. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan Kota Tanjungpinang kembali terbebas dari penularan malaria sebelum akhir tahun 2026, Kamis, 25 Juni 2026.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tanjungpinang, Rustam, mengatakan terdapat enam titik yang menjadi lokasi pemantauan kasus malaria. Dari jumlah tersebut, empat titik menunjukkan tren penurunan kasus, sementara dua wilayah masih menjadi fokus penanganan karena angka kasus yang relatif tinggi, yakni Sebauk Laut dan Senggarang Besar.

”Dari enam titik yang kami pantau, empat lokasi kasusnya sudah melandai dan terus berkurang,” ujar Rustam.

Ia mengimbau masyarakat yang mengalami gejala demam agar segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat. Menurutnya, puskesmas telah menyediakan layanan pemeriksaan malaria selama 24 jam lengkap dengan tes cepat untuk mendeteksi penyakit tersebut secara dini.

”Yang paling penting, masyarakat yang mengalami demam harus segera mengakses layanan kesehatan,” ucapnya.

Rustam menjelaskan, mayoritas kasus malaria yang ditemukan di wilayah Senggarang merupakan jenis malaria vivaks. Penderita yang dinyatakan positif harus mengonsumsi obat sesuai anjuran tenaga kesehatan hingga tuntas untuk mencegah kekambuhan dan memutus rantai penularan.

”Kasus yang ditemukan adalah malaria vivaks. Selain obat DHP, pasien juga harus mengonsumsi Primakuin selama 14 hari,” tuturnya.

Menurutnya, pasien yang tidak menyelesaikan pengobatan berpotensi menjadi sumber penularan baru di lingkungan sekitarnya. Karena itu, keterlibatan masyarakat dinilai sangat penting dalam mendukung upaya pemerintah untuk mengendalikan kasus malaria.

”Targetnya sebelum akhir tahun 2026 tidak ada lagi kasus malaria di Tanjungpinang,” katanya.

Selain pengobatan dan pemantauan kasus, Dinkes Tanjungpinang juga akan menerapkan metode Indoor Residual Spraying (IRS) atau penyemprotan dinding rumah pada wilayah yang masih aktif terjadi penularan. Metode tersebut dinilai lebih efektif dibandingkan fogging karena mampu memberikan perlindungan hingga tiga bulan.

”Yang akan kami lakukan adalah IRS atau penyemprotan dinding rumah di wilayah yang masih aktif terjadi penularan,” katanya.

Sejumlah wilayah yang sebelumnya menjadi lokasi penularan seperti Sebauk Darat dan Kampung Bebek dilaporkan menunjukkan perkembangan positif dengan jumlah kasus yang terus menurun. Dinkes berharap kondisi tersebut dapat dipertahankan hingga seluruh wilayah di Kota Tanjungpinang kembali bebas malaria.

”Kampung Bebek dan Sebauk Darat telah menunjukan perkembangan yang positif,” katanya, mengakhiri.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....