RSUD Raja Ahmad Thabib Bantah Telantarkan Pasien

  • 09 Jun 2026 05:23 WIB
  •  Tanjungpinang

RRI.CO.ID, Tanjungpinang - Manajemen RSUD Raja Ahmad Thabib (RAT) Kepulauan Riau membantah keras tuduhan penelantaran terhadap seorang pasien disabilitas pengguna BPJS Kesehatan yang viral di media sosial. Pihak rumah sakit menegaskan bahwa persoalan yang dikeluhkan oleh pasien bernama Iwan Arifin tersebut murni akibat kendala teknis dan miskomunikasi antrean.

Direktur RSUD RAT, Bambang Utoyo, memastikan tidak ada unsur kesengajaan untuk mengabaikan hak pelayanan pasien dalam insiden tersebut. "Kami sampaikan bahwa tidak ada penelantaran pasien, kami sudah cross check ke petugas lapangan," ujar Bambang Utoyo, Senin 8 Juni 2026.

Bambang menjelaskan, pasien awalnya selesai menjalani pemeriksaan di Poliklinik Bedah Saraf pada pagi hari lalu dirujuk ke Poliklinik Rehabilitasi Medis. Namun, layanan spesialis rehabilitasi medis di RSUD RAT baru bisa beroperasi mulai pukul 15.00 WIB karena keterbatasan tenaga medis.

Saat ini rumah sakit masih memaksimalkan dokter spesialis paruh waktu pinjaman dari RS AL . Dokter yang bersangkutan harus menyelesaikan tugas di instansi induknya terlebih dahulu sebelum bergeser melayani pasien di RSUD RAT.

“Kami akui belum memiliki dokter spesialis rehabilitasi medik, masih meminjam dokter RSAL,” ucapnya.

Terkait waktu tunggu yang lama, pihak rumah sakit menyatakan petugas telah menginformasikan jadwal operasional tersebut kepada pasien sejak awal. Ketika jadwal pelayanan dimulai pukul 15.00 WIB, petugas medis langsung memanggil pasien sesuai nomor urutan.

“Memang antrean banyak, mungkin lama menunggu jadi miskomunikasi,” tuturnya.

Sangat disayangkan, saat nama pasien dipanggil hingga pukul 16.30 WIB, yang bersangkutan ternyata sudah tidak berada di lokasi. "Saat dipanggil, yang bersangkutan sudah tidak ada dan petugas kami sempat mencari hingga berkoordinasi dengan security," Bambang, menjelaskan.

Bambang menambahkan bahwa antrean di poliklinik tersebut memang sangat padat karena harus melayani berbagai pasien dengan kondisi khusus seperti stroke. Kepadatan volume pasien inilah yang membuat waktu tunggu menjadi lebih lama dari biasanya sehingga memicu kesalahpahaman.

“Pasien-pasien yang dilakukan rehabilitasi kebanyakan disitu pasien dengan kondisi khusus,” katanya.

Di sisi lain, reporter RRI sempat berupaya menghubungi Iwan Arifin untuk meminta konfirmasi berimbang, namun yang bersangkutan enggan diwawancarai secara langsung. Melalui pesan singkat WhatsApp, pasien meminta reporter untuk terlebih dahulu berkoordinasi dan meminta izin kepada media pertama yang memuat beritanya sebelum menemui dirinya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....