Ekonomi Kepri Tumbuh 7,04 Persen pada Triwulan I-2026

  • 07 Mei 2026 09:10 WIB
  •  Tanjungpinang

RRI.CO.ID, Tanjungpinang – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) mencatat pertumbuhan ekonomi Kepri pada triwulan I tahun 2026, dengan Migas tumbuh sebesar 7,04 persen secara (y-on-y). Sementara tanpa Migas, Pertumbuhan ekonomi Kepri tumbuh sebesar 5,50% (y-on-y).

Kepala BPS Kepri, Toto Haryanto Silitonga, mengatakan perekonomian Kepulauan Riau Triwulan I-2026 yang diukur berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku (ADHB) mencapai Rp99,38 triliun. Sementara Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) mencapai Rp57,65 triliun.

“Perekonomian Kepulauan Riau triwulan I-2026 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya tumbuh sebesar 7,04 persen, tumbuh lebih cepat dibanding pertumbuhan triwulan I-2025 (y-on-y) yang tumbuh sebesar 5,16 persen,” ucap Toto Haryanto Silitonga, Kamis, 7 Mei 2026.

Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan pada triwulan ini didorong oleh kategori Industri Pengolahan yang memiliki andil pertumbuhan sebesar 2,50 persen. Dari sisi pengeluaran, Komponen Pembentukan Modal TetapBruto mempunyai andil pertumbuhan sebesar 3,02 persen.

“Komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga juga memiliki andil pertumbuhan ekonomi Kepri dengan andil sebesar 1,80 persen,” tuturnya.

Secara (q-to-q), Ekonomi Kepulauan Riau triwulan I-2026 dibandingkan dengan triwulan IV-2025 mengalami kontraksi sebesar 3,54 persen. Kategori yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah kategori Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebesar 5,82 persen, disusul kategori Jasa Perusahaan sebesar 3,66 persen, kategori Informasi dan Komunikasi sebesar 3,16 persen.

Andil kontraksi pertumbuhan terbesar disumbangkan oleh kategori Konstruksi dengan andil kontraksi sebesar 1,36 persen, diikuti kategori Pertambangan dan Penggalian dengan andil kontraksi sebesar 1,00 persen dan Industri Pengolahan dengan andil kontraksi sebesar 0,90 persen.

“Struktur Ekonomi Kepulauan Riau pada triwulan I-2026 masih didominasi oleh Industri Pengolahan (42,42%), Konstruksi (19,59%); dan Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor (9,66%),” katanya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....