Dosen UMRAH: Literasi Budaya Kepri Dinilai Masih Sebatas Estetika
- 25 Feb 2026 17:55 WIB
- Tanjungpinang
RRI.CO.ID, Tanjungpinang – Kekayaan budaya Kepulauan Riau seperti pantun dan gurindam dinilai memiliki potensi besar sebagai sumber literasi berbasis kearifan lokal. Namun, pengembangannya disebut masih dominan pada aspek estetika dan belum menyentuh kajian kritis.
Dosen Linguistik FKIP UMRAH, Nana Raihana Askurny, mengatakan, berbagai lomba berbalas pantun dan pembacaan Gurindam Dua Belas sudah berjalan baik. Akan tetapi, ia belum melihat adanya kompetisi atau kajian yang mendorong daya kritis generasi muda terhadap makna mendalam karya tersebut.
”Namun saya belum melihat gitu ya Literasi tahap yang tinggi nih Yang high order thinking skill,” ujar Nana Raihana Askurny, Rabu, 25 Februari 2026.
Nana menjelaskan, bahwa karya Raja Ali Haji seharusnya dapat dikaji lebih jauh, mulai dari latar sejarah penulisan hingga pesan moral yang terkandung di dalamnya. Pendekatan ini penting untuk membangun kemampuan analisis dan berpikir tingkat tinggi.
”Masih dalam konteks panggung gitu ya keindahan, estetika,” ucapnya.
Menurutnya, literasi budaya tidak boleh berhenti pada penampilan panggung semata. Generasi muda perlu diajak memahami konteks, nilai, serta relevansi karya sastra Melayu dengan kehidupan masa kini.
”Itu kan kajian yang sangat mendalam, yang high order street,” tuturnya.
Ia berharap, dengan penguatan kajian kritis, literasi budaya di Kepri dapat menjadi fondasi pengembangan intelektual. Selain itu juga mampu menjadi pelestarian identitas daerah.
”Penguatan kritis semoga mampu menjadi pelestarian identitas daerah,” katanya, mengakhiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....