Kebiasaan dan Budaya Bisa Bentuk Kesukaan pada Makanan Pedas
- 21 Sep 2026 21:59 WIB
- Talaud
RRI.CO.ID, Talaud - Makanan pedas menjadi bagian dari banyak hidangan dan digemari oleh masyarakat di berbagai negara termasuk Indonesia. Sensasi panas dan terbakar yang muncul setelah mengonsumsi cabai ternyata tidak selalu membuat seseorang menghindarinya. Bagi sebagian orang, rasa tersebut justru menjadi pengalaman makan yang menyenangkan.
Rasa pedas pada cabai terutama berasal dari senyawa capsaicin. Senyawa ini berinteraksi dengan reseptor saraf yang mendeteksi sensasi panas dan menimbulkan rasa terbakar di mulut. Karena itu sensasi pedas sebenarnya berbeda dengan rasa dasar seperti manis, asin, asam, pahit, dan umami. Kementerian Kesehatan juga menjelaskan bahwa capsaicin merupakan komponen cabai yang menimbulkan sensasi pedas dan panas.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Nutrition menunjukkan bahwa kesukaan terhadap cabai dapat terbentuk melalui proses yang disebut acquired taste atau selera yang diperoleh melalui pengalaman. Kajian tersebut menemukan bahwa paparan berulang terhadap makanan pedas merupakan salah satu faktor yang kuat dalam meningkatkan kesukaan seseorang terhadap rasa pedas.
Ketika seseorang terbiasa mengonsumsi makanan pedas, sensasi terbakar yang dirasakan dapat menjadi lebih ringan. Lingkungan dan budaya juga berpengaruh karena kebiasaan mengonsumsi cabai sejak masa kanak-kanak dapat meningkatkan frekuensi seseorang terpapar makanan pedas. Selain itu penelitian menemukan bahwa faktor individu termasuk genetika dan karakteristik pribadi, turut berperan dalam membentuk preferensi terhadap makanan pedas.
Penelitian lain juga menunjukkan adanya peningkatan kesukaan terhadap sensasi pedas setelah paparan berulang. Namun tingkat kesukaan tersebut berbeda pada setiap orang dan tidak berarti semua orang akan menyukai makanan dengan tingkat kepedasan yang sama.
Meski makanan pedas memiliki tempat tersendiri dalam pola makan masyarakat, konsumsi tetap perlu disesuaikan dengan kondisi tubuh. Kajian ilmiah mengenai dampak makanan pedas terhadap kesehatan menunjukkan hasil yang masih beragam, sehingga manfaat kesehatan tertentu tidak sebaiknya dianggap sebagai alasan untuk mengonsumsi makanan pedas secara berlebihan.
Dengan demikian kegemaran terhadap makanan pedas tidak semata-mata disebabkan oleh rasa yang kuat. Kebiasaan sejak kecil, paparan berulang, budaya, pengalaman makan, serta perbedaan individu dapat membuat seseorang semakin terbiasa dan menikmati sensasi yang ditimbulkan capsaicin.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....