Bau Mulut Bisa Jadi Tanda Gangguan Kesehatan Serius

  • 21 Jul 2026 18:41 WIB
  •  Talaud

RRI.CO.ID, Talaud – Bau mulut atau halitosis tidak hanya berkaitan dengan kebersihan gigi dan mulut, tetapi juga dapat menjadi tanda adanya gangguan kesehatan tertentu. Karena itu, kondisi ini tidak boleh dianggap sepele, terutama jika berlangsung dalam waktu lama meski kebersihan mulut telah dijaga.

Mengutip informasi Halodoc, halitosis merupakan kondisi ketika napas mengeluarkan aroma tidak sedap akibat berbagai faktor, mulai dari penumpukan bakteri di rongga mulut hingga penyakit tertentu. Diperkirakan sekitar 25 persen penduduk dunia pernah mengalami masalah bau mulut.

Gejala utama halitosis adalah aroma napas yang tidak sedap. Kondisi tersebut kerap disertai rasa tidak nyaman di mulut, mulut kering, hingga munculnya lapisan putih pada permukaan lidah akibat penumpukan bakteri.

Menurut Halodoc, penyebab bau mulut paling sering adalah kurang menjaga kebersihan gigi dan mulut. Sisa makanan yang tertinggal di sela-sela gigi maupun permukaan lidah dapat menjadi tempat berkembangnya bakteri penghasil senyawa sulfur yang menimbulkan bau tidak sedap.

Selain itu, konsumsi makanan beraroma tajam seperti bawang putih, bawang merah, petai, dan jengkol juga dapat memengaruhi aroma napas karena senyawa dari makanan tersebut terserap ke aliran darah sebelum dikeluarkan melalui paru-paru.

Mulut kering atau xerostomia menjadi salah satu penyebab umum halitosis. Berkurangnya produksi air liur membuat rongga mulut tidak mampu membersihkan sisa makanan dan bakteri secara optimal sehingga bau mulut lebih mudah muncul.

Penggunaan produk tembakau seperti rokok turut meningkatkan risiko halitosis. Selain menyebabkan bau mulut, kebiasaan merokok juga dapat memicu penyakit gusi, mengganggu fungsi pengecap, hingga meningkatkan risiko kanker mulut.

Tidak hanya itu, bau mulut juga dapat berkaitan dengan berbagai penyakit, seperti infeksi saluran pernapasan, sinusitis kronis, diabetes, penyakit refluks asam lambung (GERD), serta gangguan fungsi hati maupun ginjal. Karena itu, bau mulut yang tidak kunjung membaik sebaiknya diperiksakan ke dokter atau dokter gigi untuk mengetahui penyebabnya.

Dalam penanganannya, masyarakat disarankan untuk menjaga kebersihan gigi dan mulut dengan menyikat gigi minimal dua kali sehari menggunakan pasta gigi berfluorida, membersihkan sela-sela gigi dengan benang gigi, serta menyikat atau membersihkan permukaan lidah secara rutin.

Selain itu, mencukupi kebutuhan air putih, menghentikan kebiasaan merokok, membatasi konsumsi makanan yang memicu bau mulut, serta melakukan pemeriksaan gigi secara berkala sedikitnya dua kali setahun juga menjadi langkah penting untuk mencegah halitosis.

Apabila bau mulut tetap berlangsung meski kebersihan mulut telah dijaga, masyarakat disarankan segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk memastikan apakah halitosis berkaitan dengan penyakit tertentu sehingga dapat ditangani sesuai penyebabnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....