Sering Bersikap Defensif saat Bertengkar? Ini Cara Mengatasinya
- 04 Agt 2026 14:15 WIB
- Takengon
RRI.CO.ID, Takengon : Pernah memulai perdebatan karena hal sepele, tetapi berakhir membahas masalah lama yang tidak ada kaitannya? Misalnya, pertengkaran tentang siapa yang seharusnya mencuci piring tiba-tiba berubah menjadi pembahasan soal kejadian bertahun-tahun lalu. Menurut para psikolog, kondisi tersebut sering kali dipicu oleh sikap defensif yang membuat penyelesaian masalah menjadi semakin sulit.
Jessica Harrison, Seorang Konselor pasangan menjelaskan bahwa sikap defensif sering kali muncul tanpa disadari. Seseorang merasa sedang meluruskan keadaan, padahal yang terjadi justru mengalihkan pembicaraan dari masalah utama.
"Ketika seseorang mulai membela diri secara berlebihan, persoalan yang sebenarnya ingin diselesaikan justru tertutup oleh masalah-masalah baru," ujar Harrison, dikutip dari Time (4/8/2026).
Sikap Defensif Merupakan Respons Alami
Dilansir dari sumber yang sama, Psikolog klinis spesialis terapi pasangan, Eli Kraiem, mengatakan bahwa sikap defensif bukanlah tanda kepribadian yang buruk. Respons tersebut merupakan mekanisme perlindungan ketika seseorang merasa harga diri atau citra dirinya sedang terancam.
Menurutnya, kritik sederhana dari pasangan atau orang terdekat terkadang terasa seperti penilaian terhadap karakter diri. Akibatnya, seseorang lebih sibuk membuktikan bahwa dirinya benar daripada mendengarkan inti persoalan.
Psikolog Dr. Jeff Katzman menilai respons defensif yang terus-menerus dapat merusak hubungan dalam jangka panjang karena membuat komunikasi menjadi tidak sehat dan menjauhkan hubungan emosional.
Kenali Tanda-Tanda Tubuh
Sikap defensif biasanya muncul lebih dulu melalui respons fisik sebelum seseorang berbicara. Ada beberapa tanda yang sering muncul, seperti dada terasa sesak, tenggorokan tercekat, jantung berdebar lebih cepat, atau perut terasa tegang.
Saat gejala tersebut muncul, seseorang disarankan berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri mengapa komentar tersebut memicu reaksi yang begitu kuat.
Cari Tahu Apa yang Sedang Dilindungi
Harrison menyebutkan jika seseorang perlu memahami apa yang sebenarnya sedang ingin dipertahankan. Sering kali yang dipertaruhkan bukan persoalan yang sedang dibahas, melainkan rasa ingin dianggap sebagai pasangan yang baik, teman yang dapat diandalkan, atau pekerja yang kompeten.
Dengan menyadari hal tersebut, seseorang dapat lebih fokus mendengarkan pesan lawan bicara daripada sibuk mempertahankan citra diri.
Ganti Sikap Ingin Menang dengan Rasa Ingin Memahami
Dr. Katzman menyarankan agar seseorang mengurangi keinginan untuk selalu merasa paling benar dan mulai membangun rasa ingin tahu terhadap sudut pandang orang lain.
Alih-alih langsung menyanggah, cobalah memahami alasan di balik perasaan lawan bicara. Tujuan komunikasi bukan untuk memenangkan perdebatan, melainkan mencari pemahaman bersama.
Temukan "Dua Persen Kebenaran"
Kraiem memperkenalkan konsep 2% truth, yaitu mencari sedikit bagian dari kritik yang memang benar. Misalnya ketika pasangan mengatakan, "Kamu tidak pernah mendengarkan." Daripada langsung membantah, seseorang bisa mengakui bagian yang benar, seperti, "Memang tadi aku kurang fokus saat kamu berbicara."
Pengakuan kecil seperti ini dapat meredakan ketegangan dan membuat lawan bicara lebih terbuka untuk berdiskusi.
Hindari Kata "Selalu" dan "Tidak Pernah"
Kata-kata yang bersifat mutlak seperti "selalu" atau "tidak pernah" sering memancing sikap defensif. Ucapan seperti, "Kamu tidak pernah membantu di rumah," biasanya akan dibalas dengan usaha membuktikan bahwa pernyataan tersebut tidak sepenuhnya benar. Akibatnya, pembahasan bergeser dari inti masalah. Karena itu, gunakan kalimat yang lebih spesifik mengenai situasi yang sedang dihadapi. Saat seseorang merasa terluka, jangan langsung memberikan pembelaan atau penjelasan.
Kraiem menyarankan untuk mengulang kembali inti yang disampaikan lawan bicara guna memastikan bahwa pesan mereka benar-benar dipahami.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....