Enam Pola Asuh Era 90-an yang Perlu Ditinggalkan
- 29 Jul 2026 14:20 WIB
- Takengon
RRI.CO.ID, Takengon : RRI.CO.ID, Takengon : Era 1990-an kerap dikenang sebagai masa ketika anak-anak bebas bermain di luar rumah tanpa gawai, menghabiskan waktu bersama teman hingga senja, dan tumbuh dengan kehidupan yang terasa lebih sederhana. Namun, di balik nostalgia tersebut, tidak semua pola asuh pada masa itu layak dipertahankan.
Seiring berkembangnya penelitian tentang kesehatan mental dan perkembangan anak, ada sejumlah kebiasaan dalam mendidik anak di era 1990-an yang justru berpotensi memberikan dampak negatif hingga dewasa. Berikut enam pelajaran masa kecil yang sebaiknya tidak diwariskan kepada generasi saat ini.
1. Menyembunyikan Perasaan, Bukan Membicarakannya
Pada era 1990-an, pembahasan mengenai kesehatan mental masih tergolong minim. Anak-anak yang terlalu sering mengungkapkan perasaan kerap dianggap berlebihan, mencari perhatian, atau terlalu lemah.
Akibatnya, banyak orang dewasa saat ini harus belajar kembali mengenali dan mengekspresikan emosi secara sehat. Orang tua sebaiknya membiasakan anak berbicara tentang perasaan mereka, sekaligus menanamkan bahwa meminta bantuan bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk keberanian.
2. Menganggap Perundungan sebagai Hal Biasa
Dulu, anak yang berbeda dari teman-temannya sering menjadi sasaran ejekan. Tidak sedikit orang dewasa saat itu yang menyarankan korban untuk "bersikap lebih kuat" atau mengabaikan perundungan.
Kini diketahui bahwa perundungan dapat meninggalkan dampak psikologis jangka panjang, mulai dari trauma, rendah diri, hingga gangguan hubungan sosial saat dewasa. Apalagi, kemunculan media sosial membuat perundungan dapat terjadi kapan saja melalui dunia maya.
Karena itu, setiap bentuk perundungan perlu ditangani secara serius, bukan dianggap sebagai bagian normal dari proses tumbuh kembang.
3. "Cari Solusi Sendiri"
Mengajarkan anak mandiri memang penting. Namun, pada masa lalu, kalimat "selesaikan sendiri" sering kali diucapkan tanpa memberikan bimbingan yang memadai.
Akibatnya, sebagian anak merasa diabaikan ketika menghadapi kesulitan, baik di rumah maupun di sekolah. Pendekatan yang lebih tepat saat ini adalah memberikan arahan dan dukungan agar anak mampu menemukan solusi sendiri tanpa merasa sendirian menghadapi masalah.
4. Bebas Bermain hingga Waktu Makan Malam
Banyak orang mengenang masa ketika anak cukup diberi pesan, "Pulang sebelum makan malam." Kebebasan itu memang memberi ruang bagi anak untuk bermain, berimajinasi, dan belajar menyelesaikan konflik.
Namun, kenyataannya tidak semua anak tumbuh di lingkungan yang aman. Ada pula yang tidak memiliki rumah yang nyaman untuk kembali atau lingkungan pergaulan yang sehat.
Karena itu, kebebasan tetap perlu disertai pengawasan dan rasa aman agar benar-benar memberikan manfaat bagi perkembangan anak.
5. Menahan Rasa Sakit demi Terlihat Kuat
Ungkapan seperti "jalan saja, nanti juga sembuh" atau "jangan cengeng" cukup lazim terdengar pada masa lalu, terutama saat anak mengalami cedera ringan ketika berolahraga.
Para pakar tumbuh kembang anak memahami bahwa rasa nyeri bisa menjadi tanda awal cedera yang lebih serius. Mengabaikannya justru berisiko memperburuk kondisi.
Anak-anak saat ini didorong untuk mengenali sinyal tubuh mereka dan segera mencari penanganan yang tepat apabila mengalami keluhan fisik.
6. Mengomentari Bentuk Tubuh sebagai Hal Lumrah
Komentar mengenai berat badan atau bentuk tubuh dulunya sering dianggap candaan atau bentuk perhatian. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa komentar semacam itu dapat memengaruhi harga diri, memicu pola makan tidak sehat, hingga menimbulkan citra tubuh negatif.
Di tengah maraknya media sosial, filter digital, dan standar kecantikan yang tidak realistis, anak-anak justru membutuhkan lingkungan yang mendukung penerimaan diri, bukan menambah tekanan terhadap penampilan fisik mereka.
Pendekatan Pengasuhan Terus Berkembang
Perkembangan ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa pola asuh yang baik tidak hanya membentuk kemandirian, tetapi juga memperhatikan kesehatan mental, keamanan, dan kesejahteraan emosional anak.
Meski era 1990-an menyimpan banyak kenangan indah, orang tua masa kini memiliki kesempatan untuk mengambil nilai-nilai positif dari masa lalu tanpa harus mengulang kebiasaan yang terbukti kurang mendukung tumbuh kembang anak.
Dengan membangun komunikasi yang terbuka, memberikan dukungan emosional, serta menciptakan lingkungan yang aman, anak-anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri, tangguh, dan sehat secara fisik maupun mental.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....