Pentingnya Penguatan Kapasitas Perempuan dalam Menghadapi Bencana

  • 30 Jan 2025 13:08 WIB
  •  Takengon

KBRN, Takengon : Bencana adalah serangkaian peristiwa yang mengancam kehidupan dan penghidupan masyarakat, baik akibat faktor alam, non alam, maupun aktivitas manusia. Dampaknya meluas, mencakup korban jiwa, kerusakan lingkungan, kerugian materi, hingga trauma psikologis.

Bencana dapat datang tanpa peringatan, seperti banjir, tanah longsor, atau pandemi, seperti Covid-19. Dalam situasi darurat ini, kesiapan menjadi kunci utama untuk mengurangi dampak buruknya.

Namun, dapatkah kita tetap tenang ketika bencana melanda? Jawaban ini tidak mudah, sebab bencana selalu hadir dengan ancaman yang signifikan, baik secara fisik, material, maupun mental. Dalam konteks ini, kelompok rentan, terutama perempuan, menghadapi tantangan yang lebih besar karena beban ganda yang mereka pikul.

Perempuan: Kelompok Rentan dalam Situasi Bencana

Dalam budaya masyarakat Timur, perempuan memiliki peran besar dalam aktivitas domestik. Konstruksi sosial dan pembagian peran gender mengarahkan perempuan untuk mengelola rumah tangga, sementara laki-laki bertugas mencari nafkah. Sayangnya, dalam situasi bencana, perempuan tidak hanya harus melanjutkan tugas domestik, tetapi juga menghadapi kondisi fisik dan mental yang lebih berat.

Pada masa tanggap darurat atau pemulihan pascabencana, perempuan, terutama ibu hamil dan menyusui, tetap harus menjalankan peran pengasuhan. Sementara aktivitas ekonomi laki-laki sering kali terhenti akibat bencana, perempuan justru harus meningkatkan aktivitas domestiknya. Beban ini diperparah dengan trauma psikologis yang sering kali dialami perempuan pascabencana. Meskipun demikian, tugas domestik tetap harus dilakukan demi keberlangsungan keluarga.

Kerentanan perempuan juga diperburuk oleh aspek fisik dan emosional. Dalam situasi darurat, perempuan cenderung lebih terpapar risiko, seperti kurangnya akses terhadap fasilitas kesehatan atau sanitasi yang memadai. Selain itu, trauma psikologis akibat kehilangan atau kehancuran dapat memengaruhi keseimbangan emosional mereka.

Penguatan Kapasitas Perempuan: Suatu Keharusan

Dalam menghadapi bencana, ketenangan adalah kunci. Namun, untuk mencapainya, perempuan perlu dibekali dengan kapasitas yang memadai. Penguatan kapasitas mencakup pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan yang terus diasah untuk meningkatkan kesiapan menghadapi bencana.

1. Edukasi Berkelanjutan

Perempuan perlu memahami potensi bencana di lingkungannya, langkah mitigasi, dan tindakan darurat yang tepat. Edukasi ini harus diberikan secara sistematis, baik melalui pelatihan, simulasi bencana, maupun program komunitas.

2. Pembiasaan dan Latihan

Pengetahuan saja tidak cukup tanpa praktik yang berulang. Latihan evakuasi, penggunaan alat keselamatan, hingga penyediaan kebutuhan darurat seperti masker dan obat-obatan, dapat membentuk kebiasaan yang berguna saat bencana terjadi.

3. Penguatan Mental dan Emosi

Aspek mental sering kali terlupakan, padahal sangat penting. Dukungan psikososial, konseling, dan kelompok pendukung dapat membantu perempuan menghadapi tekanan emosional akibat bencana.

Kapasitas Perempuan dan Pengurangan Risiko

Ketika perempuan memiliki kapasitas yang memadai, mereka tidak hanya dapat melindungi diri, tetapi juga berkontribusi dalam melindungi keluarga, terutama anak-anak. Perempuan yang tanggap terhadap bencana dapat mengurangi risiko bagi diri mereka sendiri dan orang-orang di sekitarnya.

Sebagai contoh, ibu yang mengetahui cara memberikan pertolongan pertama dapat menyelamatkan anaknya dalam situasi darurat. Selain itu, perempuan juga memiliki peran penting dalam membangun kesadaran kolektif di komunitasnya. Dengan peran pengasuhan yang dominan, perempuan dapat menanamkan pengetahuan dan kebiasaan baik kepada generasi berikutnya.

Kesimpulan

Penguatan kapasitas perempuan adalah langkah strategis dalam pengurangan risiko bencana. Dengan edukasi, pembiasaan, dan penguatan mental, perempuan dapat lebih siap menghadapi ancaman bencana. Ketika perempuan tangguh dalam menghadapi situasi darurat, mereka juga membantu menciptakan lingkungan keluarga dan komunitas yang lebih resilien. Oleh karena itu, upaya sistematis untuk meningkatkan kapasitas perempuan harus menjadi prioritas dalam kebijakan penanggulangan bencana.

Penulis : Rahmi Nia Ivana (Pemerhati Masalah Perempuan, Anak dan Keluarga)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....