Pesan Kehidupan Dari Ulama Persia
- 05 Okt 2026 06:31 WIB
- Takengon
Poin Utama
- Kehidupan mulia tidak ditentukan oleh banyaknya harta, jabatan, atau kemewahan yang dimiliki seseorang.
- Kemuliaan sejati dapat ditemukan dalam sikap kerendahan hati, rasa cukup, kesederhanaan, dan pengamalan ilmu pengetahuan.
- Pesan ini disampaikan oleh Kepala Dinas Syariat Islam Aceh Tengah Muslim MCL dalam tausiyah Subuh di Masjid Ruhama Takengon pada Senin, 5 Oktober 2026.
RRI.CO.ID, Takengon: Kehidupan yang mulia tidak selalu ditandai dengan banyaknya harta, jabatan, maupun kemewahan. Kemuliaan justru dapat ditemukan dalam kerendahan hati, rasa cukup, kesederhanaan, serta ilmu yang diamalkan.
Pesan tersebut disampaikan Kepala Dinas Syariat Islam Aceh Tengah, Muslim MCL, dalam tausiyah Subuh di Masjid Ruhama Takengon, Senin (5/10/2026).
Dalam tausiyahnya, Muslim mengangkat sejumlah pelajaran dari pemikiran ulama besar Persia, Imam Fakhruddin ar-Razi, yang dikenal sebagai salah seorang ulama besar dalam bidang tafsir dan teologi. Pemikiran tersebut, menurut Muslim, memberikan sejumlah renungan penting tentang bagaimana manusia seharusnya menjalani kehidupan.
| Baca juga: Tidak Ada yang Sia-Sia dalam Ciptaan Allah |
Ada lima pesan yang disampaikan kepada jamaah.
Pertama, kemuliaan yang hakiki bukan terletak pada banyaknya harta, tetapi pada sikap tawadhu.
Muslim mengingatkan bahwa harta dan kedudukan tidak semestinya menjadi ukuran kemuliaan seseorang. Sikap rendah hati atau tawadhu justru menjadi bagian penting dari kemuliaan manusia.
Kedua, kekayaan sejati adalah qanaah.
Menurut Muslim, kekayaan tidak selalu identik dengan banyaknya harta yang dimiliki. Seseorang dapat memiliki harta yang berlimpah, tetapi tetap merasa kurang. Sebaliknya, orang yang memiliki sifat qanaah mampu merasakan kecukupan dan mensyukuri apa yang telah diberikan Allah SWT.
Ketiga, rasa aman yang sejati berada di akhirat.
Muslim menyampaikan bahwa dunia bukanlah tempat untuk mencari rasa aman yang abadi. Kehidupan dunia bersifat sementara, sedangkan keamanan dan kebahagiaan yang hakiki diharapkan diperoleh ketika manusia mendapatkan keselamatan di akhirat dan masuk ke dalam surga.
Keempat, carilah ketenangan dalam kesederhanaan.
Di tengah kehidupan yang semakin mendorong manusia mengejar berbagai keinginan, kesederhanaan menjadi salah satu jalan untuk memperoleh ketenangan. Muslim mengajak jamaah agar tidak menjadikan kemewahan sebagai ukuran utama kebahagiaan.
Kelima, carilah ilmu yang bermanfaat dan amalkan.
Muslim menekankan bahwa ilmu tidak berhenti pada proses mengetahui. Ilmu harus melahirkan amal dan perubahan dalam kehidupan. Karena itu, ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang mampu membimbing seseorang menjadi lebih baik serta memberikan manfaat bagi orang lain.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....