Warga Keluhkan Jalan Berlubang, PUPR Aceh Tengah Akui Patching Belum Maksimal
- 01 Okt 2026 16:03 WIB
- Takengon
RRI.CO.ID, Takengon: Warga mengeluhkan sejumlah ruas jalan Nasional di Kabupaten Aceh Tengah yang kembali berlubang, meski sebelumnya telah dilakukan penambalan oleh pemerintah.
Warga menyebut, beberapa titik jalan yang baru ditambal sekitar satu bulan lalu kini kembali mengalami kerusakan. Kondisi tersebut dinilai mengganggu pengguna jalan, terutama saat hujan ketika lubang tertutup genangan air dan sulit terlihat oleh pengendara.
Selain itu, warga juga menyoroti lubang di kawasan lampu merah Paya Ilang yang disebut belum ditangani. Lubang tersebut kini semakin besar dan berpotensi membahayakan pengendara yang tidak mengetahui kondisi jalan.
Warga berharap pemerintah meningkatkan pengawasan terhadap proses pemeliharaan jalan agar penanganan kerusakan dilakukan dengan kualitas yang baik dan tidak mudah kembali berlubang.
Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Dinas PUPR Aceh Tengah, Pijas Visara dikonfirmasi RRI dalam program Halo RRI menjelaskan bahwa pada tahun 2026 tidak tersedia anggaran khusus untuk kegiatan patching atau penambalan jalan.
Menurut Pijas, anggaran pemeliharaan rutin sebesar 200 juta rupiah sejak awal Maret 2026 dialihkan untuk penanggulangan bencana. Penanganan bencana tersebut dilakukan tanpa lagi menggunakan anggaran Belanja Tidak Terduga atau BTT.
“Tahun ini anggaran untuk Patching tidak ada, krn pemeliharaan rutin kita sudah ke penanggulangan bencana (200jt) sejak awal Marer 2026 sampai saat ini, krn mulai dari awal maret penanganan bencana sudah tidak pakai anggaran BTT,” katanya, Rabu 30 September 2026.
Sementara kegiatan patching yang sempat dilakukan, kata Pijas, memanfaatkan sisa aspal sebanyak lima drum. Aspal tersebut kemudian digunakan untuk membuat lapisan tipis aspal atau latasir.
Pijas mengakui hasil pekerjaan tersebut belum maksimal dan merata. Ia menjelaskan, pekerjaan patching dengan standar yang lebih baik seharusnya dilakukan dengan penggantian lapisan dasar atau base, kemudian menggunakan material aspal AC atau BC (hotmix).
“Terkait kegiatan patching yang ada, ini dikerjakan karena ada sisa aspal lima drum, jadi inisiatif kita untuk membuat aspal (latasir), makanya tidak maksimal dan merata hasilnya, karena kalau standar patching harus ada pergantian base, dan aspalnya AC/BC ( hotmix),” katanya lagi.
PUPR Aceh Tengah menyatakan keterbatasan anggaran menjadi salah satu kendala dalam penanganan kerusakan jalan, sementara masyarakat berharap perbaikan tetap dilakukan pada titik-titik yang membahayakan pengguna jalan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....