Mengingat Hakikat Kehidupan agar Tidak Sombong dan Putus Asa
- 12 Sep 2026 17:38 WIB
- Takengon
RRI.CO.ID, Takengon – Manusia diingatkan untuk menyadari hakikat keberadaannya di dunia, bahwa setiap manusia pada awalnya tidak ada dan pada akhirnya akan kembali kepada Allah SWT. Kesadaran tersebut dinilai penting agar manusia mampu menjalani kehidupan secara seimbang, tidak mudah putus asa ketika berada dalam kekurangan dan tidak sombong ketika memperoleh harta, jabatan maupun berbagai kenikmatan dunia.
Pesan tersebut disampaikan Tgk. Prof. Dr. KH. Faqihuddin Abdul Qadir, Lc., MA atau yang akrab disapa Kang Faqih, dalam Ceramah Subuh yang disiarkan secara langsung dari Masjid Agung Ruhama Takengon, Jumat, 11 September 2026 melalui Pro 1 RRI Takengon.
Kang Faqih mengingatkan, Al-Qur'an menggambarkan manusia sebagai makhluk yang dahulu belum dikenal dan tidak memiliki apa-apa. Karena itu, manusia tidak sepatutnya membanggakan apa yang dimiliki, sebab seluruh kehidupan dan kepemilikan pada akhirnya akan berakhir dan kembali kepada Allah SWT.
Menurutnya, kesadaran tersebut juga perlu ditempatkan dalam konteks kebesaran alam semesta. Manusia merupakan bagian yang sangat kecil dibandingkan luasnya bumi, planet dan alam semesta. Harta, jabatan maupun kekuasaan yang dimiliki manusia juga tidak sebanding dengan kebesaran ciptaan Allah SWT.
| Baca juga: Nikmat Terbesar adalah Ketaatan kepada Allah |
Namun, manusia tetap memiliki makna ketika kehidupannya dijalani bersama Allah SWT. Hal tersebut tercermin dalam kalimat inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, yang mengingatkan bahwa manusia adalah milik Allah dan kepada-Nya seluruh manusia akan kembali.
Ia menambahkan, ibadah seperti salat, puasa, zakat dan haji pada hakikatnya menjadi sarana pendidikan bagi manusia untuk menyadari kebesaran Allah sekaligus memperbaiki diri. Ketika mengucapkan Allahu Akbar, manusia diajak menyadari bahwa kebesaran sejati bukan berasal dari harta maupun jabatan, melainkan dari kedekatan kepada Allah SWT.
Kang Faqih mengajak umat menjadikan kesadaran tentang awal dan akhir kehidupan sebagai bekal untuk terus beriman, beramal saleh dan menjalani kehidupan dengan rendah hati. Dengan demikian, manusia diharapkan mampu tetap bersyukur ketika memperoleh nikmat dan tetap kuat ketika menghadapi keterbatasan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....