Rumah Zakat Dorong Penerima Manfaat di Aceh Tengah Naik Kelas, Mustahik ke Muzaki
- 26 Agt 2026 08:14 WIB
- Takengon
Poin Utama
- Rumah Zakat Aceh Tengah menjalankan program pendampingan berkelanjutan untuk memberdayakan penerima manfaat mencapai kemandirian ekonomi.
- Program ini dirancang untuk mengubah status penerima zakat (mustahik) menjadi pemberi zakat (muzaki) melalui pemberdayaan sistematis.
- Gunedi Saufa Asri, Relawan Inspirasi Rumah Zakat, menyampaikan visi program dalam acara Ruang Komunitas Pro 1 RRI Takengon bertema 'Berbagi Aksi, Menggugah Hati' pada Senin, Agustus 2026.
RRI.CO.ID, Takengon — Rumah Zakat di Aceh Tengah tidak ingin program bantuan berhenti pada pemberian dana atau kebutuhan dasar. Melalui pendampingan berkelanjutan, penerima manfaat didorong agar mampu mandiri secara ekonomi hingga suatu saat dapat berubah dari penerima zakat (mustahik) menjadi pemberi zakat (muzaki).
Hal tersebut disampaikan Relawan Inspirasi Rumah Zakat, Gunedi Saufa Asri, dalam program Ruang Komunitas Pro 1 RRI Takengon bertema “Berbagi Aksi, Menggugah Hati”, Senin, Agustus 2026.
Gunedi mengatakan, pemberdayaan masyarakat menjadi salah satu fokus utama Relawan Inspirasi yang telah dijalaninya selama sekitar lima tahun di Aceh Tengah. Sebelum memberikan bantuan, pihaknya terlebih dahulu melakukan identifikasi dan pendampingan untuk memahami kondisi penerima manfaat.
Menurutnya, perubahan pola pikir menjadi langkah penting dalam proses pemberdayaan. Masyarakat tidak hanya diberikan modal atau sarana usaha, tetapi juga diajak memahami persoalan dan mencari solusi yang sesuai dengan kondisi mereka.
“Cara berpikirnya dulu yang kita sama-sama diskusikan menghadapi permasalahan, kemudian baru kita intervensi dari pembiayaan dan yang lain-lain,” ujar Gunedi.
Program pemberdayaan tersebut antara lain dijalankan melalui Desa Berdaya di Desa Asir-Asir dan Desa Gelulungi, Kecamatan Pegasing. Di Desa Asir-Asir, salah satu bentuk pendampingan dilakukan pada sektor peternakan kambing. Rumah Zakat juga melakukan kolaborasi dengan Baitul Mal Aceh dalam pengembangan usaha jamur merang di SMP Azizahra.
Gunedi menjelaskan, pendampingan diberikan secara berkelanjutan dan disesuaikan dengan kondisi masing-masing penerima manfaat. Target akhirnya bukan sekadar menyelesaikan kebutuhan jangka pendek, tetapi membantu masyarakat keluar dari ketergantungan terhadap bantuan.
“Kita berharap dalam beberapa kali intervensi program, penerima manfaat ini bisa keluar dari statusnya sebagai penerima, kalau bisa menjadi statusnya muzaki,” katanya.
Selain pemberdayaan ekonomi, kegiatan Relawan Inspirasi juga mencakup peningkatan iman dan takwa melalui kajian pekanan dan majelis taklim. Bagi Gunedi, keberhasilan program bukan hanya diukur dari bantuan yang tersalurkan, tetapi dari perubahan yang terjadi pada kehidupan masyarakat setelah mendapatkan pendampingan.
Semangat tersebut menjadi bagian dari upaya Rumah Zakat untuk menjadikan kegiatan sosial sebagai jalan menuju kemandirian masyarakat, sekaligus memperkuat kepedulian dan hubungan antarsesama di Aceh Tengah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....