Ketika Lampu Lalu Lintas Padam, Ketertiban Jalan Ikut Dipertaruhkan
- 23 Agt 2026 15:21 WIB
- Takengon
Poin Utama
- Lampu lalu lintas di Simpang Lima Aceh Tengah dan terminal lama Takengon sudah beberapa bulan tidak berfungsi optimal.
- Kondisi ini memaksa pengendara untuk mengandalkan kewaspadaan dan kesadaran masing-masing saat melintas di persimpangan tersebut.
- Keadaan tidak tertibnya persimpangan jalan di Takengon menjadi lebih rawan saat pengendara dalam terburu-buru mengejar waktu.
RRI.CO.ID, Takengon: Pagi hari di sejumlah persimpangan jalan di Takengon tak selalu berjalan tertib. Ketika pengendara berpacu mengejar waktu, keberadaan lampu lalu lintas menjadi penting untuk mengatur siapa yang harus berhenti dan siapa yang mendapat giliran melintas.
Namun, kondisi berbeda terjadi di kawasan Simpang Lima Aceh Tengah dan terminal lama Takengon. Traffic light yang sudah beberapa bulan tidak berfungsi optimal membuat pengendara harus mengandalkan kewaspadaan dan kesadaran masing-masing saat melintas.
Keluhan itu disampaikan Ratna, salah seorang warga melalui program Halo RRI Takengon. Ia mengaku kondisi tersebut paling terasa pada pagi hari, ketika arus kendaraan meningkat karena aktivitas masyarakat mengantar anak ke sekolah.
“Karena pagi-pagi tuh kan berebut terus, maksudnya mau antar anak sekolah semuanya mau cepat. Jadi kalau ada kayak gitu kan nggak tertib jadinya,” ujar Ratna.
Keluhan masyarakat tersebut bukan tanpa alasan. Lampu lalu lintas bukan sekadar perangkat yang menyala merah, kuning, dan hijau. Di tengah padatnya arus kendaraan, traffic light menjadi salah satu instrumen penting untuk menciptakan keteraturan sekaligus mengurangi risiko kecelakaan di persimpangan.
Namun di balik lampu yang padam, terdapat persoalan lain yang harus dihadapi pemerintah daerah.
Kepala Dinas Perhubungan Aceh Tengah, Ariansyah, mengakui kondisi traffic light di wilayah tersebut secara umum sudah tidak memadai. Sebagian perangkat bahkan telah berusia cukup tua, mulai dari 10, 15 hingga 20 tahun.
Usia perangkat yang sudah lama, ditambah kondisi cuaca, membuat traffic light lebih rentan mengalami gangguan. Saat hujan, misalnya, sambungan kabel dan mesin dapat mengalami gangguan sehingga lampu lalu lintas tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
Persoalannya kemudian bukan hanya soal kerusakan perangkat, tetapi juga ketersediaan anggaran untuk melakukan perawatan.
| Baca juga: Polres Aceh Tengah Inten Patroli Malam |
Ariansyah mengatakan, biaya pemeliharaan traffic light membutuhkan anggaran yang cukup besar. Sementara kondisi fiskal Kabupaten Aceh Tengah membuat biaya perawatan tersebut belum dapat dianggarkan pada tahun ini.
Kerusakan lampu lalu lintas juga bukan persoalan baru. Menurut Ariansyah, keluhan masyarakat telah muncul sejak pascabencana hidrometeorologi, sekitar Februari hingga Maret 2026.
Meski demikian, pemerintah daerah tidak tinggal diam. Dinas Perhubungan Aceh Tengah telah mengusulkan anggaran perawatan melalui anggaran perubahan tahun 2026.
“Jika anggaran tersebut terealisasi, perbaikan diharapkan dapat segera dilakukan,” ujarnya.
Bagi masyarakat, perbaikan traffic light bukan semata-mata tentang membuat lampu kembali menyala. Lebih dari itu, keberadaan lampu lalu lintas dibutuhkan untuk memastikan setiap pengguna jalan mendapatkan hak yang sama untuk melintas dengan aman dan tertib.
Sebab, ketika lampu lalu lintas padam, bukan hanya warna merah, kuning dan hijau yang hilang dari persimpangan. Ketertiban dan keselamatan pengguna jalan pun ikut dipertaruhkan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....