Khairul Fikri Buktikan Keterbatasan Bukan Penghalang untuk Berkarya
- 21 Agt 2026 10:57 WIB
- Takengon
RRI.CO.ID, Takengon — Keterbatasan fisik tidak menghalangi Khairul Fikri untuk terus mengembangkan potensi di dunia kreatif. Seniman disabilitas asal Takengon tersebut kini aktif sebagai desainer grafis dan seniman scribble art sekaligus melanjutkan pendidikan di Bandung.
Kisah inspiratif Fikri disampaikan dalam program Hilirisasi Pro 1 RRI Takengon, Selasa, 18 Agustus 2026. Ia menceritakan perjalanan merantau sejak 2021 untuk melanjutkan pendidikan sekaligus mengembangkan kemampuan melalui komunitas disabilitas dan dunia seni.
Fikri mengatakan, keberadaan komunitas menjadi salah satu faktor penting yang membuat dirinya semakin percaya diri untuk mengembangkan kemampuan.
“Di sini mempunyai kelebihan masing-masing yang harus ditonjolkan. Kita membuka wadahnya, ada lukisan, ada kerajinan. Jadi tinggal memilih minat dan bakatnya mau dikembangkan di mana. Bagaimana caranya ada kelebihan yang bermanfaat bagi orang lain. Tanpa menggunakan fisik, tetapi menggunakan imajinasi, inovasi dan kreativitas,” ujar Fikri.
Ia mengaku mulai tertarik dengan desain grafis karena melihat kemampuan tersebut sebagai potensi yang dapat memberikan manfaat bagi orang lain. Dari hobi, kemampuan itu kemudian berkembang menjadi profesi dan sumber penghasilan.
Fikri juga menghadapi tantangan perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan atau AI. Menurutnya, AI memiliki sisi positif sebagai sumber referensi, tetapi juga dapat menimbulkan kesalahpahaman ketika karya digital buatan manusia dianggap sebagai hasil AI.
“Kalau dengan adanya AI, plus minus. Minusnya ketika saya membuat lukisan digital, banyak yang mengira itu hasil AI. Makanya saya sering membuat tutorial scribble art, supaya ketika orang mengatakan itu AI, kita sudah punya proses dan rekamannya,” jelasnya.
Meski demikian, Fikri tidak melihat AI semata-mata sebagai ancaman. Teknologi tersebut menurutnya tetap dapat digunakan untuk mencari referensi dan membuka inspirasi dalam mengembangkan karya.
Selain tantangan teknologi, ia juga menekankan pentingnya menghargai hak cipta. Karya orang lain dapat dijadikan bahan referensi, tetapi tidak boleh dijiplak dan diakui sebagai karya sendiri.
“Kita boleh mengambil karya orang lain sebagai contoh atau referensi, tetapi bukan mengambil logo orang. Kalau sudah sama, itu namanya menjiplak atau plagiat,” tegas Fikri.
Bagi Fikri, keberanian untuk bergerak menjadi hal penting, khususnya bagi penyandang disabilitas yang masih ragu mengembangkan kemampuan.
“Kalau ingin sukses, kita kembali ke diri sendiri. Ingin sukses, kita harus bergerak. Walaupun kita mempunyai keterbatasan, kita harus tetap berkembang. Jangan jadikan kekurangan sebagai renungan, tetapi jadikan kekurangan sebagai penyemangat hidup. Ingat, Allah mentakdirkan kita tidak pernah gagal,” pungkas Fikri.
Ia berpesan agar penyandang disabilitas tidak menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk berhenti berkarya. Perjalanan Khairul Fikri menjadi gambaran bahwa kreativitas, keberanian dan kemauan untuk terus belajar dapat membuka ruang bagi siapa saja untuk berkembang. Keterbatasan bukan akhir dari perjalanan, tetapi dapat menjadi bagian dari proses untuk menemukan potensi dan menghasilkan karya yang bermanfaat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....