Khairul Fikri Ubah Foto Biasa Menjadi Karya Scribble Art Bernilai Ekonomi

  • 21 Agt 2026 10:58 WIB
  •  Takengon

RRI.CO.ID, Takengon — Sebuah foto yang tersimpan di telepon genggam tidak harus berhenti menjadi kenangan. Di tangan seniman disabilitas asal Takengon, Khairul Fikri, foto biasa dapat diolah menjadi karya scribble art yang memiliki nilai estetika sekaligus nilai ekonomi.

Hal tersebut disampaikan Khairul Fikri dalam program Hilirisasi Pro 1 RRI Takengon, Selasa, 18 Agustus 2026, dengan tema “Coretan Jadi Cuan: Hilirisasi Scribble Art di Era Digital.”

Fikri menjelaskan, scribble art merupakan karya digital yang dibuat menggunakan garis dan coretan untuk membentuk karakter wajah maupun berbagai objek. Prosesnya dimulai dari foto yang diberikan konsumen, kemudian dibuat sketsa dan diolah kembali menggunakan perangkat digital.

“Kita kepada konsumen meminta gambar dasar dulu. Ketika sudah dikirim gambar dasar atau gambar awal, kita sketsa ulang dari awal, dari mata, wajah, dahi dan sebagainya. Baru kita desain ulang, kita coret-coret,” ujar Fikri.

Menurutnya, scribble art tidak hanya terbatas pada objek manusia. Rumah, kendaraan, masjid, pemandangan maupun berbagai objek lainnya juga dapat dikembangkan menjadi karya visual.

Selama lebih dari dua tahun menekuni scribble art, Fikri mengaku telah menghasilkan lebih dari seribu karya. Kreativitas tersebut kemudian dikembangkan menjadi jasadesain dan berbagai produk turunan.

Salah satu bentuk hilirisasi yang pernah dilakukan adalah mengaplikasikan desain scribble art sebuah masjid pada gelas dan kotak amal di Bandung. Menurut Fikri, hal tersebut membuktikan bahwa sebuah karya digital dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki manfaat sekaligus nilai ekonomi.

“Tidak hanya dicetak. Bisa dialihkan menjadi mug, cangkir, kaos, dan sebagainya. Jadi satu karya dari foto yang biasa bisa diturunkan menjadi banyak produk,” jelasnya.

Fikri juga memanfaatkan media sosial untuk memasarkan karya. Ia menilai pelaku usaha kreatif harus mampu menjelaskan produk sekaligus membuat konten promosi yang menarik perhatian calon konsumen.

“Kita pahami dulu produk kita itu apa. Ketika kita sudah paham dengan produk atau karya kita, kita mudah berbicara ke publik. Bikin orang penasaran dulu dengan video kita,” ungkapnya.

Ia menambahkan, keberanian untuk memulai menjadi kunci dalam mengembangkan kreativitas menjadi peluang ekonomi. Jangan tunggu kita hebat. Ketika ada peluang, kita harus mulai. Kalau kita menunggu sampai hebat, menunggu sampai ada waktu untuk memulai, itu bisa terlambat.

Kisah tersebut menunjukkan bahwa hilirisasi tidak hanya berkaitan dengan industri besar. Dunia seni dan ekonomi kreatif juga memiliki peluang untuk menciptakan nilai tambah, dari sebuah foto, menjadi karya, kemudian berkembang menjadi produk dan sumber penghasilan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....