Ketika Bebujang dan beberu Gayo Makin Asing Dengan Sumang Percerakan
- 30 Jul 2026 09:02 WIB
- Takengon
RRI.CO.ID, Takengon - Hidup di zaman yang penuh dengan hiruk-pikuk ini memang membuat kita semakin sulit menjaga nilai-nilai yang telah dibangun dan diwariskan dengan baik oleh para orang tua dan leluhur terdahulu. Akan tetapi, kondisi tersebut bukanlah alasan bagi kita untuk mengabaikan, apalagi meninggalkan, aturan dan nilai-nilai adat yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Gayo.
Dalam 'Sumang Percerakan' terdapat banyak larangan yang dalam adat Gayo disebut 'kemali'. Beberapa di antaranya adalah memanggil orang yang lebih tua dengan sebutan 'ko', meninggalkan budaya 'bertutur' kepada orang yang lebih tua, berbicara tanpa menggunakan bahasa kiasan yang santun, menggunakan kata-kata kasar kepada anak-anak, minimnya akhlak dan adab hingga mengeluarkan kata-kata 'jejisen', serta membicarakan hal-hal yang tidak semestinya dengan lawan jenis yang bukan mahram.
Menurut orang-orang terdahulu, nilai-nilai dalam Sumang Percerakan wajib diterapkan sejak dini oleh orang tua dan keluarga di Gayo. Hal ini karena nilai-nilai adat Gayo memiliki keterkaitan yang erat dengan ajaran Islam. Salah satunya dapat dilihat dari firman Allah SWT:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
Artinya : "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar." (QS. Al-Ahzab: 70)
Allah SWT juga berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ
Artinya : "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diperolok-olok lebih baik daripada mereka yang mengolok-olok. Janganlah kamu saling mencela dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk." (QS. Al-Hujurat: 11)
Rasulullah SAW juga bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Artinya : "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadis lainnya, Rasulullah SAW bersabda:
لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ وَلَا الْفَاحِشِ وَلَا الْبَذِيءِ
Artinya : "Seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencela, suka melaknat, berkata keji, dan berkata kotor." (HR. Tirmidzi)
Jika berbicara mengenai perspektif Islam terhadap Sumang Percerakan, dapat dilihat bahwa nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sejalan dengan ajaran Islam, khususnya dalam hal menjaga lisan, menghormati orang yang lebih tua, menjaga adab dalam berkomunikasi, serta membangun hubungan sosial yang santun dan bermartabat.
Oleh karena itu, Sumang Percerakan harus terus dilestarikan dengan cara menerapkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga maupun di sekolah. Nilai-nilai yang terkandung dalam adat Gayo tersebut memiliki pesan moral yang kuat dan relevan dengan prinsip-prinsip akhlak dalam Islam.
Penerapan Sumang Percerakan menjadi semakin penting di tengah kondisi saat ini. Kita dapat melihat adanya kemerosotan akhlak dan adab di kalangan 'bebujang' dan 'beberu' Gayo, baik dalam hubungan dengan sesama maupun ketika berinteraksi dengan orang yang lebih tua. Sikap saling menghormati, menjaga tutur kata, dan memahami batasan dalam pergaulan perlu kembali ditanamkan sejak dini.
Melestarikan 'Sumang Percerakan' bukan sekadar mempertahankan sebuah tradisi, tetapi juga menjaga jati diri masyarakat Gayo. Adat dan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para leluhur merupakan pedoman yang dapat membentuk pribadi yang berakhlak, santun, dan menghargai sesama.
Ketika nilai-nilai Sumang Percerakan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, dampaknya bukan hanya dirasakan oleh diri sendiri, tetapi juga oleh orang-orang di sekitar kita. Dengan menjaga lisan, menghormati orang lain, dan menjunjung tinggi adab dalam pergaulan, kita tidak hanya turut menjaga warisan budaya Gayo, tetapi juga berusaha menjalankan nilai-nilai kebaikan yang dianjurkan dalam ajaran Islam.
Oleh: Sayful Umam (Penulis adalah mahasiswa S1 Universitas Al-Azhar, Mesir)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....