LPHK Negeri Linge Bergerak Pulihkan Hutan dan Sumber Air Pasca Bencana
- 28 Jun 2026 21:45 WIB
- Takengon
RRI.CO.ID, Takengon – Pasca bencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Aceh Tengah pada akhir 2025 lalu, Lembaga Pengelola Hutan Kampung (LPHK) Negeri Linge terus melakukan berbagai upaya pemulihan lingkungan dan membantu masyarakat terdampak.
Ketua LPHK Negeri Linge, M. Saleh atau yang akrab disapa Bang Adong Linge, menyampaikan hal tersebut dalam Program Ruang Komunitas RRI Takengon, Sabtu malam, 27 Juni 26. Ia mengatakan, salah satu langkah awal yang dilakukan pihaknya setelah bencana adalah membentuk tim ranger untuk melakukan pemantauan kawasan hulu sungai.
Menurut Bang Adong, tim menemukan adanya longsor besar di kawasan hulu yang berada jauh dari pemukiman. Kondisi tersebut menyebabkan air sungai menjadi keruh dan berpotensi membahayakan masyarakat.
“Tim kita turun ke hulu untuk melihat kondisi. Ternyata ada longsor besar dan ada sumbatan kayu-kayu yang bisa menghambat aliran air. Kami lakukan pembersihan agar tidak terjadi risiko lebih besar ketika hujan kembali turun,” ujarnya.
Selain pembersihan kawasan sungai, LPHK Negeri Linge juga melakukan penanaman kembali sejumlah jenis pohon untuk memperkuat kawasan yang terdampak. Beberapa jenis tanaman yang ditanam di antaranya kemiri dan pinus.
Penanaman tersebut dilakukan bersama masyarakat dengan dukungan Yayasan Hutan, Konservasi, dan lingkungan yang selama ini menjadi mitra pendamping LPHK Negeri Linge.
“Pohon ini diharapkan menjadi penahan alami agar ke depan ketika hujan besar, air tidak langsung turun ke pemukiman dan menyebabkan bencana kembali,” kata Bang Adong.
LPHK Negeri Linge juga ikut membantu pemulihan kebutuhan dasar masyarakat, terutama akses air bersih. Tim lembaga bersama masyarakat memasang saluran air agar kebutuhan rumah tangga dapat kembali terpenuhi.
Tidak hanya bergerak di bidang lingkungan, LPHK Negeri Linge juga mendukung perekonomian masyarakat melalui pengelolaan mesin giling kopi yang dapat dimanfaatkan warga dengan biaya terjangkau.
Bang Adong menjelaskan, mesin giling kopi tersebut membantu petani agar tidak perlu membawa hasil panen ke kampung lain untuk diproses.
Ia berharap seluruh pihak, termasuk pemerintah dan masyarakat, dapat terus memperkuat kolaborasi dalam pemulihan pasca bencana.
“Lingkungan ini membutuhkan kita, dan kita juga membutuhkan lingkungan. Hutan harus dijaga karena ini untuk generasi masa depan,” pesannya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....