Kemenag Gayo Lues Tanam Kopi Arabika di Tanah Wakaf Produktif

  • 16 Jun 2026 20:45 WIB
  •  Takengon

RRI.CO.ID, Takengon: Kementerian Agama Kabupaten Gayo Lues memulai pengembangan wakaf produktif dengan menanam kopi Arabika varietas Gayo 1 di Blangbengkik, Kecamatan Blangpegayon. Program ini digagas untuk mengubah aset wakaf yang selama ini diam menjadi sumber ekonomi umat yang berkelanjutan.

Kepala Kantor Kemenag Gayo Lues Dr. Abd Syukur memimpin langsung penanaman perdana bersama jajaran ASN Kemenag di lokasi wakaf produktif Blangbengkik. Dia menyampaikan wakaf tidak terbatas pada pembangunan masjid atau madrasah.

“Melalui program ini kita ingin membuktikan bahwa wakaf dapat menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi umat. Tanah wakaf yang selama ini mungkin belum termanfaatkan secara maksimal, kita kelola menjadi lahan produktif yang memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat,” ujarnya.

Saat ini Kemenag Gayo Lues memiliki dua titik tanah wakaf produktif: Blangbengkik di Kecamatan Blangpegayon dan Panglime Linting di Kecamatan Dabun Gelang. Kedua lahan akan ditanami kopi Arabika Gayo 1 yang dikenal unggul dari segi kualitas dan produktivitas. Sebagai tanaman pendamping, akan ditanam durian dan alpukat dengan sistem tumpang sari.

Pemilihan kopi Arabika bukan tanpa alasan. Selain sesuai dengan kondisi geografis dataran tinggi Gayo, komoditas ini memiliki nilai ekonomi tinggi dan pasar luas hingga mancanegara. Walid menyebut hasil panen nantinya akan menjadi sumber pendanaan untuk kegiatan keagamaan, pendidikan, sosial, dan pemberdayaan masyarakat.

Lebih dari aspek ekonomi, program ini juga menyasar pelestarian lingkungan. Tanaman kopi, durian, dan alpukat merupakan tanaman tahunan yang menjaga kesuburan tanah, meningkatkan daya serap air, serta membantu kelestarian kawasan hutan pegunungan.

“Menanam kopi hari ini bukan hanya menanam pohon, tetapi menanam harapan. Kita sedang membangun pondasi ekonomi umat yang insya Allah hasilnya akan terus mengalir dan memberikan manfaat dalam jangka panjang. Inilah esensi wakaf, manfaatnya tidak terputus dan pahalanya terus mengalir,” tambah Walid, sapaan akrab Kakan Kemenag Gayo Lues.

Kebun wakaf produktif ini juga diproyeksikan sebagai sarana edukasi bagi masyarakat. Walid berharap model ini menjadi contoh bagi lembaga keagamaan dan masyarakat luas untuk mengelola wakaf secara profesional dan produktif.

“Kami ingin tanah wakaf ini menjadi investasi akhirat yang memberikan manfaat dunia,” pungkasnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....