Tutupan Hutan Aceh Tengah Hilang Hampir 7.000 Hektare

  • 17 Mei 2026 05:51 WIB
  •  Takengon

RRI.CO.ID, Takengon – Kerusakan tutupan hutan di Aceh Tengah pasca bencana akhir November 2025 disebut semakin mengkhawatirkan. Berdasarkan data terbaru yang disampaikan komunitas lingkungan Gayo Environmental Conservation (GEC), luas tutupan hutan di wilayah tersebut berkurang sekitar 17,4 persen atau hampir 7.000 hektare.

Data itu disampaikan Salwa Afniola dari Biodiversity and Forest GEC-KLH Gayo dalam program Go Green PRO 1 RRI Takengon FM 93,0 MHz, Sabtu, 16 Mei 2026. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi pengingat serius bahwa kerusakan hutan memiliki hubungan erat dengan meningkatnya risiko banjir, longsor, dan cuaca ekstrem di wilayah Gayo.

“Kalau hutan rusak, daya serap air menurun. Akibatnya hujan deras lebih mudah menyebabkan banjir dan longsor,” ujar Salwa.

Ia menjelaskan, dari hampir 7.000 hektare hutan yang hilang, sekitar 5.500 hektare rusak akibat faktor alam pasca bencana, sementara sekitar 1.500 hektare lainnya dipicu aktivitas manusia seperti pembukaan lahan dan penebangan liar.

Salwa menyebut hutan memiliki fungsi penting sebagai penyimpan karbon, penghasil oksigen, sekaligus penyerap air alami. Ia mengibaratkan hutan seperti spons besar yang mampu menahan air agar tidak langsung mengalir deras ke permukiman warga.

Menurutnya, kerusakan hutan yang terus terjadi selama bertahun-tahun juga memperburuk perubahan iklim. Kondisi itu menyebabkan curah hujan semakin ekstrem dan alam kehilangan kemampuan menjaga keseimbangan ekosistem.

Selain membahas dampak kerusakan hutan, GEC juga memperkenalkan program konservasi Magnolia Baghamii, salah satu pohon langka endemik Aceh yang kini berstatus terancam kritis. Program tersebut dilakukan bersama Forum Pohon Langka Indonesia melalui pembibitan ribuan pohon untuk ditanam kembali di kawasan hutan Gayo.

“Konservasi ini bukan hanya menanam pohon, tetapi mengembalikan fungsi hutan untuk masa depan,” katanya.

Salwa juga mendorong masyarakat menerapkan pola pertanian ramah lingkungan melalui sistem agroforestri, yakni menanam komoditas seperti kopi atau cabai di bawah naungan pohon hutan tanpa harus membuka lahan secara besar-besaran.

Ia menegaskan, menjaga hutan bukan hanya tugas pemerintah atau komunitas lingkungan, melainkan tanggung jawab seluruh masyarakat. Edukasi sejak usia dini juga dinilai penting agar generasi muda memahami bahwa hutan merupakan warisan alam yang harus dijaga bersama.

Program Go Green RRI Takengon disiarkan setiap Sabtu pukul 15.00 WIB dan menghadirkan berbagai pembahasan seputar lingkungan, konservasi hutan, dan perubahan iklim di Tanah Gayo.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....