Mengenal Isra Mi’raj, Perjalanan Agung Nabi Muhammad SAW
- 16 Jan 2026 08:42 WIB
- Takengon
RRI.CO.ID, Takengon: Isra Mi’raj merupakan salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah Islam. Peristiwa agung ini menjadi tonggak spiritual umat Islam karena di dalamnya Nabi Muhammad SAW memperoleh pengalaman luar biasa serta menerima perintah langsung dari Allah SWT yang menjadi pedoman hingga akhir zaman.
Secara istilah, Isra adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Palestina. Sementara Mi’raj adalah perjalanan Rasulullah SAW dari Masjidil Aqsa menuju Sidratul Muntaha di langit ketujuh. Seluruh rangkaian peristiwa ini terjadi hanya dalam satu malam, sebagai bentuk kemuliaan dan keistimewaan yang Allah SWT berikan kepada Rasul-Nya.
Peristiwa Isra Mi’raj diabadikan dalam Al-Qur’an, tepatnya dalam Surah Al-Isra ayat 1, yang artinya:
“Maha Suci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.”
Baca: Momentum Isra Mi’raj, Refleksi Anak Muda yang Relevan
Para ulama sepakat bahwa perjalanan Isra Mi’raj dilakukan Rasulullah SAW dalam keadaan sadar, bukan mimpi. Dalam perjalanan tersebut, Nabi Muhammad SAW ditemani Malaikat Jibril dan mengendarai Buraq, makhluk istimewa yang Allah SWT ciptakan khusus untuk perjalanan ini.
Dalam perjalanan Isra, Rasulullah SAW singgah di beberapa tempat bersejarah dan melaksanakan shalat dua rakaat di setiap persinggahan. Tempat-tempat tersebut antara lain Kota Madinah, yang kelak menjadi tempat hijrah beliau; Kota Madyan, tempat Nabi Musa AS pernah berlindung; Bukit Thur Sina, lokasi Nabi Musa AS berbicara langsung dengan Allah SWT; Baitul Lahm, tempat kelahiran Nabi Isa AS; dan terakhir Masjidil Aqsa.
Baca juga: Isra Mikraj, Menag Ajak Umat Peduli Alam Sosial
Salah satu kisah penuh makna dalam perjalanan ini adalah saat Rasulullah SAW dihadapkan pada pilihan antara susu dan khamar. Beliau memilih susu, yang melambangkan kesucian dan fitrah. Pilihan ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW dan umatnya akan selalu berada di jalan kebenaran yang diridhai Allah SWT.
Setelah melaksanakan shalat berjamaah di Masjidil Aqsa, Nabi Muhammad SAW melanjutkan perjalanan Mi’raj menuju Sidratul Muntaha. Dalam perjalanan tersebut, beliau melewati tujuh lapis langit dan bertemu dengan para nabi terdahulu. Di langit pertama beliau bertemu Nabi Adam AS, langit kedua bertemu Nabi Yahya AS dan Nabi Ishaq AS, langit ketiga bertemu Nabi Yusuf AS, langit keempat bertemu Nabi Idris AS, langit kelima bertemu Nabi Harun AS, langit keenam bertemu Nabi Musa AS, dan di langit ketujuh bertemu Nabi Ibrahim AS.
Rasulullah SAW juga singgah di Baitul Makmur, tempat para malaikat beribadah kepada Allah SWT. Puncak dari peristiwa Isra Mi’raj adalah diterimanya perintah shalat lima waktu dalam sehari semalam, yang menjadi kewajiban utama bagi umat Islam.
Hikmah besar dari Isra Mi’raj adalah penegasan pentingnya shalat sebagai sarana komunikasi langsung antara hamba dan Allah SWT. Shalat menjadi pengingat agar umat Islam senantiasa mengingat Allah di tengah kesibukan dunia, sekaligus memperkuat keimanan dan ketakwaan.
Isra Mi’raj bukan hanya peristiwa luar biasa, tetapi juga menjadi peringatan bagi umat Islam untuk menjalankan shalat dengan penuh kesadaran, keikhlasan, dan kekhusyukan. Melalui shalat, umat Islam diharapkan mampu meraih ketenangan batin dan menjalani kehidupan yang lebih bermakna.
Peringatan Isra Mi’raj merupakan salah satu hari besar keagamaan Islam. Berdasarkan kalender digital Kementerian Agama Republik Indonesia, 27 Rajab 1447 Hijriah bertepatan dengan Jumat, 16 Januari 2026.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....