Ramadhan di Negeri Sakura, Kisah Perawat Asal Gayo di Yokohama
- 01 Mar 2026 07:47 WIB
- Takengon
RRI.CO.ID, Takengon: Suasana Ramadhan tak hanya dirasakan di Indonesia, tetapi juga di berbagai penjuru dunia, termasuk di Negeri Sakura. Hal itu terungkap dalam program “Kurma (Kisah Unik Ramadhan)” Pro 1 RRI Takengon yang menghadirkan narasumber Ns Rahma Hidayati, S.Kep, seorang perawat asal Jagong Jeget, Aceh Tengah, yang kini bekerja di Yokohama, Jepang, Sabtu 28 Februari 2026.
Dalam perbincangan hangat bersama penyiar Nur Hasanah, Rahma membagikan pengalamannya menjalani ibadah puasa selama dua tahun terakhir di Jepang. Ia mengaku, Ramadhan di negeri minoritas Muslim tersebut memberikan kesan yang berbeda dibandingkan dengan suasana di kampung halaman.
“Kalau di Aceh suasananya sangat terasa, mulai dari azan yang berkumandang, tradisi meugang, sampai berburu takjil. Di Jepang tentu berbeda, lebih tenang dan tidak ada keramaian seperti di sini,” ungkap Rahma.
Bekerja sebagai perawat di salah satu rumah sakit di Yokohama, Rahma harus tetap profesional menjalankan tugasnya meski sedang berpuasa. Sistem kerja tiga shift membuatnya harus pandai mengatur waktu sahur dan berbuka, bahkan tak jarang berbuka di tempat kerja.
Durasi puasa di Jepang saat ini berkisar 11–12 jam, sedikit lebih singkat dibandingkan Indonesia karena masih dalam musim dingin. Namun, Rahma menyebut saat musim panas, durasi puasa bisa mencapai 15 jam.
Sebagai Muslim minoritas, Rahma menuturkan bahwa pelaksanaan ibadah seperti tarawih lebih sering dilakukan di rumah. Meski terdapat komunitas Muslim dan tempat ibadah, jarak dan waktu kerja menjadi tantangan tersendiri. Bahkan, untuk salat Idulfitri, komunitas Muslim biasanya menyewa taman atau lapangan tanpa menggunakan pengeras suara demi menjaga ketenangan lingkungan sekitar.
“Kami tetap menjaga toleransi dan menghormati budaya setempat. Di sini sangat menjunjung tinggi disiplin dan menghargai waktu. Itu jadi pelajaran berharga bagi saya,” tambahnya.
Kerinduan terhadap kampung halaman tentu tak terelakkan. Rahma mengaku merindukan tradisi meugang, suasana berbuka bersama keluarga, hingga kemeriahan takjil yang mudah ditemukan di Aceh. Untuk mengobati rasa rindu, ia dan rekan-rekan diaspora Indonesia kerap memasak makanan sendiri. Sesekali, UMKM Indonesia di Jepang membuka lapak takjil setiap akhir pekan yang menjadi pengobat rindu akan cita rasa Nusantara.
Dukungan keluarga menjadi kekuatan utama Rahma merantau jauh dari Tanah Air. Meski awalnya sempat muncul kekhawatiran, terutama karena ia perempuan dan tinggal jauh, komunikasi serta doa keluarga membuatnya semakin mantap menjalani karier di luar negeri.
Di akhir perbincangan, Rahma menyampaikan pesan kepada keluarga dan generasi muda di Takengon agar terus semangat meraih mimpi.
“Di mana pun kita berada, tetap jaga semangat, komitmen, dan jangan lupa tujuan utama kita menjalankan ibadah. Semoga Ramadhan tahun ini membawa kebaikan untuk kita semua,” pesannya.
Kisah Rahma menjadi inspirasi bahwa Ramadhan tetap bermakna di mana pun dijalani. Meski tanpa hiruk pikuk dan tradisi khas seperti di Tanah Gayo, nilai ibadah, toleransi, dan kedisiplinan tetap menjadi warna utama Ramadhan di Negeri Sakura.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....