Phytoene Tomat Berpotensi Lindungi Hati

  • 08 Sep 2026 17:17 WIB
  •  Takengon

RRI.CO.ID, Takengon: Tomat tidak hanya dikenal karena warna merah dan kandungan likopennya. Penelitian terbaru menemukan senyawa tidak berwarna bernama phytoene yang berpotensi membantu melindungi hati dari penumpukan lemak.

Penelitian Tufts University yang diterbitkan dalam Molecular Nutrition & Food Research menemukan bahwa pemberian phytoene mampu mengurangi tingkat keparahan penyakit hati berlemak pada tikus. Temuan tersebut menarik karena penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa bubuk tomat utuh terkadang memberikan perlindungan hati yang lebih baik dibandingkan likopen murni, disadur dari Scitechdaily.

Bukan Hanya Likopen

Likopen selama ini menjadi salah satu senyawa tomat yang paling banyak mendapat perhatian. Selain memberikan warna merah pada tomat matang, likopen dikenal sebagai antioksidan.

Namun, peneliti menduga manfaat tomat bagi kesehatan tidak hanya berasal dari likopen. Phytoene merupakan salah satu bahan awal yang digunakan tanaman untuk menghasilkan likopen dan karotenoid lainnya. Berbeda dengan likopen, phytoene tidak memiliki warna.

Menurut peneliti, phytoene juga lebih mudah diserap tubuh dibandingkan likopen berdasarkan penelitian sebelumnya.

Membantu Hati Membakar Lemak

Dalam penelitian tersebut, tikus diberikan makanan kaya karbohidrat olahan selama enam bulan untuk meniru pola makan yang berkaitan dengan penyakit hati berlemak.

Sebagian tikus kemudian mendapatkan phytoene dengan dosis yang diperkirakan setara dengan konsumsi tiga hingga empat tomat mentah berukuran sedang atau sekitar 100 gram pasta tomat per hari.

Hasilnya, tikus yang mendapatkan phytoene mengalami penyakit hati berlemak yang lebih ringan dibandingkan tikus yang tidak memperoleh senyawa tersebut.

Peneliti menemukan phytoene mengaktifkan sejumlah protein yang berperan dalam mengatur metabolisme hati. Aktivitas ini tampaknya mendorong hati membakar kelebihan lemak untuk menghasilkan energi sehingga lemak tidak terlalu banyak menumpuk di dalam sel.

Cara Kerjanya Masih Diteliti

Menariknya, penelitian juga menunjukkan bahwa phytoene mungkin tidak langsung memberikan manfaat dalam bentuk aslinya.

Tikus yang tidak memiliki dua enzim tertentu justru menumpuk phytoene dalam jumlah lebih besar di hati. Namun, perlindungan terhadap penyakit hati tidak meningkat.

Hal ini memberikan petunjuk bahwa phytoene kemungkinan perlu diubah terlebih dahulu menjadi metabolit tertentu agar dapat memberikan efek biologis.

Peneliti masih berusaha mengetahui metabolit apa yang bertanggung jawab terhadap efek tersebut.

Genetik Bisa Berpengaruh

Perbedaan genetik pada manusia juga dapat memengaruhi cara tubuh memproses phytoene. Setiap orang dapat memiliki variasi pada enzim yang terlibat dalam proses tersebut. Karena itu, jumlah phytoene yang sama dari makanan belum tentu menghasilkan respons yang sama pada setiap orang.

Dalam penelitian pada tikus, jenis kelamin juga tampaknya memengaruhi penumpukan phytoene. Tikus betina memiliki kadar phytoene di hati lebih tinggi dibandingkan tikus jantan.

Namun, belum diketahui apakah perbedaan tersebut juga memengaruhi manfaat perlindungan terhadap hati.

Tomat Tetap Bagian dari Pola Makan Sehat

Phytoene tidak hanya ditemukan pada tomat. Senyawa ini juga terdapat pada sejumlah buah dan sayuran, seperti wortel, paprika merah, jeruk bali merah muda, semangka, dan aprikot.

Meski demikian, hasil penelitian ini belum dapat langsung disimpulkan berlaku pada manusia karena penelitian tersebut dilakukan pada tikus.

Karena itu, phytoene belum dapat disebut sebagai pengobatan penyakit hati. Penelitian lebih lanjut pada manusia diperlukan untuk mengetahui seberapa besar manfaatnya, dosis yang tepat, serta bagaimana tubuh memproses senyawa tersebut.

Untuk saat ini, temuan tersebut semakin menunjukkan bahwa manfaat makanan utuh seperti tomat kemungkinan berasal dari kombinasi berbagai senyawa di dalamnya, bukan hanya satu zat saja.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....