Ketika Media Sosial Mendefinisikan Perilaku Toxic

  • 07 Okt 2026 11:57 WIB
  •  Takengon

RRI.CO.ID, Takengon : Istilah perilaku toksik dan trauma semakin sering muncul di media sosial. Namun, keduanya tidak selalu memiliki makna yang sama dan perlu dilihat berdasarkan konteks.Tak semua perilaku yang membuat seseorang tidak nyaman dapat langsung disebut toksik.

Media sosial kini membuat berbagai istilah psikologi semakin mudah ditemukan dalam percakapan sehari-hari. Salah satunya adalah istilah toxic yang sering digunakan untuk menggambarkan perilaku seseorang dalam sebuah hubungan.

Namun, penggunaan istilah tersebut terkadang terlalu sederhana. Perilaku yang terlihat menyebalkan atau sulit dipahami belum tentu menunjukkan bahwa seseorang memiliki niat buruk atau sedang bersikap toksik.

Psikolog sekaligus salah satu penulis di laman Phsycologytoday, Lisa Liggins-Chambers, Ph.D, mengungkapkan bagaimana media sosial sering menyamakan perilaku toksik dengan respons yang berkaitan dengan trauma. Menurutnya,tidak semua perilaku yang tidak sehat dapat langsung disebut toksik. Sebagian perilaku sulit dapat berkaitan dengan pengalaman traumatis atau luka emosional yang belum terselesaikan, disadur dari Phsycologytoday, Senin (5/10/2026).

Pengalaman Memengaruhi Perilaku

Pengalaman masa lalu dapat memengaruhi cara seseorang memahami situasi dan merespons orang lain. Hal yang dianggap menyakitkan oleh seseorang belum tentu dipersepsikan sama oleh orang lain. Pentingnya memahami asal suatu perilaku sebelum memberikan label. Dalam hubungan, seseorang dapat melihat perilaku pasangannya sebagai toksik, padahal terdapat persoalan emosional yang lebih kompleks.

Empat hal untuk melihat persoalan dalam hubungan, yakni relasi, reaksi, peran,dan perbaikan. Keempatnya dapat membantu seseorang memahami apa yang terjadi sebelum mengambil keputusan.

Refleksi juga penting untuk melihat peran diri sendiri dalam konflik. Pertanyaannya bukan hanya apa yang dilakukan orang lain, tetapi juga bagaimana pengalaman pribadi memengaruhi cara kita menilai perilaku tersebut.

Trauma dapat memengaruhi perilaku seseorang, termasuk kesulitan mempercayai orang lain atau kebutuhan berlebihan terhadap rasa aman. Namun, trauma tidak otomatis menyebabkan perilaku toksik.

Memahami latar belakang seseorang juga bukan berarti membenarkan perilaku yang merugikan. Batasan tetap diperlukan untuk melindungi diri dan menjaga kesehatan hubungan.

Hati-Hati Memberi Label

Media sosial membuat istilah seperti gaslighting, manipulatif, mengontrol, dan egois semakin dikenal. Namun, perilaku tertentu belum tentu cukup untuk menjelaskan keseluruhan kondisi seseorang.

Menurut penulis, ketidaknyamanan dalam hubungan juga tidak selalu berarti hubungan tersebut toksik. Kemampuan menerima kritik, meminta maaf, bertanggung jawab, dan memperbaiki hubungan menjadi bagian penting dalam kematangan emosional.

Pada akhirnya, sebelum menilai seseorang, penting untuk melihat situasi secara lebih menyeluruh. Pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya “Apakah dia toksik?”, tetapi juga “Mengapa perilaku tersebut memengaruhi saya?”

Ditulis oleh: Fahrani Wildani Rangkuti - Peserta MagangHub Kemnaker

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....