Apa Itu ‘Ferritin Face’, dan Apakah Anda Mengalaminya?

  • 18 Agt 2026 13:44 WIB
  •  Takengon

RRI.CO.ID, Takengon: Media sosial kembali ramai dengan istilah “ferritin face” yang disebut-sebut sebagai tanda seseorang mengalami kekurangan zat besi. Istilah ini dikaitkan dengan sejumlah perubahan pada penampilan, seperti rambut rontok, lingkaran hitam di bawah mata, bibir pecah-pecah, kulit kering, hingga wajah terlihat kusam.

“Ferritin Face” bukan istilah medis maupun diagnosis resmi. Istilah tersebut hanya populer di media sosial untuk menggambarkan kemungkinan perubahan pada kulit dan rambut yang dapat muncul ketika tubuh mengalami kekurangan zat besi.

Apa Itu Ferritin?

Dokter Yelena Ginzburg, MD, peneliti di Icahn School of Medicine, menjelaskan bahwa ferritin merupakan protein yang berfungsi menyimpan zat besi di dalam tubuh.

“Ketika tubuh membutuhkan lebih banyak zat besi untuk disimpan, tubuh akan memproduksi lebih banyak ferritin, kita memang bisa mengukur kadar zat besi, tetapi hasil tersebut hanya menunjukkan jumlah zat besi yang tersedia pada saat pemeriksaan dilakukan," ujarGinzburg. "Jika Anda baru saja mengonsumsi sarapan yang kaya zat besi, kadar zat besi dalam serum dapat meningkat selama sekitar 30 menit. Namun, hal itu tidak berarti tubuh Anda secara keseluruhan memiliki cukup zat besi, Itu hanya menunjukkan bahwa tubuh menyerap zat besi dari makanan yang baru dikonsumsi sehingga kadar zat besi dalam serum tampak meningkat sementara,” dikutip dari Vogue, Selasa (18/8/2026).

Pemeriksaan kadar ferritin melalui tes darah dapat membantu dokter mengetahui cadangan zat besi dalam tubuh. Pemeriksaan ini dinilai lebih menggambarkan persediaan zat besi dibandingkan hanya mengukur kadar zat besi dalam darah pada satu waktu tertentu.

Apa Hubungannya dengan Kulit dan Rambut?

Menyadur dari Vogue, Ketika cadangan zat besi tubuh menurun, tubuh akan memprioritaskan organ-organ penting. Kondisi tersebut dapat berdampak pada jaringan seperti kulit dan rambut.

Beberapa tanda yang mungkin muncul antara lain kulit terlihat pucat atau kusam, kulit kering, rambut lebih banyak rontok, kuku rapuh, serta muncul pecah-pecah di sudut mulut.

Meski demikian, gejala tersebut tidak otomatis menunjukkan seseorang mengalami kekurangan zat besi. Perubahan serupa juga dapat disebabkan oleh gangguan hormon, penyakit tiroid, kekurangan nutrisi lain, maupun proses penuaan.

Jangan Mendiagnosis Diri Sendiri

Dokter Regine J. Mathieu, MD, FAAD, dermatolog bersertifikat, mengatakan perubahan pada kulit dan rambut sebaiknya dipandang sebagai petunjuk, bukan diagnosis.

“Hal ini telah menarik perhatian terhadap sesuatu yang sudah lama diketahui oleh para dokter kulit, yaitu bahwa kekurangan nutrisi terkadang dapat terlihat pada kondisi kulit, rambut, dan kuku,

salah satu kesalahpahaman terbesar yang sering saya temui adalah anggapan bahwa setiap masalah kecantikan dapat diatasi dengan produk atau suplemen baru," ujar Mathieu.

"Padahal, kerontokan rambut yang terus-menerus atau perubahan pada kondisi kulit terkadang dapat mencerminkan apa yang sebenarnya terjadi di dalam tubuh. Karena itu, mendapatkan diagnosis yang tepat sama pentingnya dengan menjalankan rutinitas perawatan kulit yang baik,” dikutip dari sumber yang sama.

Untuk memastikan kekurangan zat besi, seseorang perlu berkonsultasi dengan dokter dan menjalani pemeriksaan yang sesuai. Pemeriksaan biasanya dapat mencakup ferritin, serum iron, total iron-binding capacity (TIBC), dan transferrin saturation.

Hasil pemeriksaan secara menyeluruh akan membantu dokter mengetahui jumlah zat besi yang beredar, bagaimana zat besi diangkut, serta seberapa banyak yang tersimpan di dalam tubuh.

Hati-Hati Mengonsumsi Suplemen Zat Besi

Jika kekurangan zat besi telah dipastikan melalui pemeriksaan medis, dokter dapat menentukan penanganan yang sesuai. Pilihannya dapat berupa peningkatan konsumsi makanan kaya zat besi, suplemen zat besi, atau pada kondisi tertentu pemberian zat besi melalui infus.

Namun, konsumsi suplemen zat besi tanpa kebutuhan medis tidak dianjurkan. Kelebihan zat besi juga dapat menimbulkan masalah kesehatan.

Perubahan pada rambut, kulit, atau wajah tidak selalu harus dikaitkan dengan tren kesehatan di media sosial. Yang terpenting adalah mencari penyebabnya melalui pemeriksaan yang tepat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....