Benjolan pada Lengan Pasien Cuci Darah, Waspadai Masalah pada Akses Hemodialisis
- 18 Agt 2026 13:41 WIB
- Takengon
RRI.COI.ID, Takengon : Benjolan pada lengan pasien yang menjalani cuci darah atau hemodialisis tidak selalu merupakan benjolan biasa. Pada pasien yang menggunakan akses pembuluh darah berupa arteriovenous fistula (AV fistula) atau graft, perubahan bentuk pembuluh darah dapat menjadi tanda adanya masalah pada akses dialisis.
AV fistula merupakan sambungan antara arteri dan vena, umumnya dibuat pada lengan, agar darah dapat dialirkan ke mesin hemodialisis. Akses ini merupakan bagian penting dalam proses cuci darah dan perlu dijaga agar tetap berfungsi dengan baik.
Salah satu kemungkinan adalah pelebaran pembuluh darah atau aneurisma pada akses AV fistula. Benjolan dapat terlihat semakin menonjol pada area yang sering digunakan untuk penusukan jarum saat proses dialisis.
| Baca juga: Aceh Tengah Tambah Mesin Cuci Darah |
Selain aneurisma, benjolan juga dapat berkaitan dengan pseudoaneurisma, penyempitan aliran keluar vena, gangguan aliran darah, atau infeksi. Karena penyebabnya beragam, benjolan pada lengan pasien cuci darah sebaiknya tidak langsung dianggap normal tanpa pemeriksaan tenaga kesehatan. Pedoman KDOQI/NKF secara khusus mencantumkan aneurisma dan pseudoaneurisma sebagai masalah yang perlu dinilai pada akses vaskular hemodialisis.
Kapan benjolan harus segera diperiksa?
Pasien dan keluarga perlu memperhatikan perubahan pada area akses, terutama apabila benjolan:
| Baca juga: Diabetes dan Puasa, Pentingnya Cek Gula |
- semakin besar atau berubah bentuk;
- terasa nyeri;
- kulit di atasnya menjadi tipis, luka, atau berubah warna;
- mengalami kemerahan, terasa panas, bengkak, atau mengeluarkan cairan;
- mengalami perdarahan;
- menyebabkan kesulitan saat pemasangan jarum dialisis;
- disertai perubahan getaran atau “dengungan” pada fistula;
- disertai tangan terasa dingin, kebas, kesemutan, lemah, atau jari berubah kebiruan.
Kulit yang mengalami luka atau kerusakan di atas aneurisma/pseudoaneurisma merupakan kondisi yang memerlukan perhatian segera karena terdapat risiko perdarahan.
Jangan menunggu sampai benjolan pecah
Salah satu hal yang perlu diwaspadai adalah perdarahan dari akses dialisis. Jika terjadi perdarahan yang sulit berhenti, pasien perlu segera menghubungi tim dialisis atau mendapatkan pertolongan medis. National Kidney Foundation juga menganjurkan pasien segera melaporkan perdarahan, perubahan pada akses, maupun hilangnya getaran normal pada fistula atau graft.
Bagaimana pemeriksaannya?
Dokter atau tim dialisis akan menilai kondisi fistula atau graft, termasuk melihat perubahan bentuk, meraba aliran darah dan memeriksa tanda-tanda infeksi maupun gangguan sirkulasi. Jika diperlukan, pemeriksaan lebih lanjut seperti USG Doppler atau pemeriksaan aliran pembuluh darah dapat dilakukan untuk mengetahui kondisi akses secara lebih jelas. Pada aneurisma atau pseudoaneurisma yang bermasalah, penanganan dapat berupa pemantauan ketat hingga tindakan intervensi atau pembedahan, tergantung kondisi pasien.
Cara menjaga lengan akses cuci darah
Pasien sebaiknya tidak menggunakan lengan yang memiliki fistula atau graft untuk mengukur tekanan darah, mengambil darah, atau memberikan tekanan berlebihan. Hindari pakaian atau perhiasan yang terlalu ketat dan jangan membawa beban berat yang memberikan tekanan pada lengan tersebut. Pasien juga dianjurkan memeriksa getaran atau thrill pada akses secara rutin sesuai arahan tim dialisis.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....