Sepertiga Penduduk Dunia Belum Mampu Membeli Makanan Sehat
- 24 Jul 2026 21:06 WIB
- Takengon
RRI.CO.ID, Takengon: Pola makan sehat masih menjadi tantangan besar di berbagai negara. Laporan terbaru dari lima badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkapkan sekitar 2,69 miliar orang di dunia belum mampu membeli makanan sehat yang memenuhi kebutuhan energi dan gizi harian.
Mengutip dari The Guardian (21/7/2026), Laporan tahunan yang berjudul The State of Food Security and Nutrition in the World 2026 menyebutkan biaya rata-rata untuk mengonsumsi makanan sehat mencapai 4,28 dolar Purchasing Power Parity (PPP) per orang per hari. Angka tersebut jauh di atas garis kemiskinan ekstrem global yang berada di kisaran 3 dolar PPP per orang per hari.
Kepala Ekonom Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), Maximo Torero, mengatakan tingginya biaya pangan bergizi menjadi salah satu hambatan utama dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat dunia. Menurutnya, banyak kebijakan pemerintah selama ini masih berfokus pada subsidi bahan pangan pokok seperti serealia dan umbi-umbian, dibandingkan sumber protein, susu, buah, dan sayuran.
"Pendekatan tersebut memang membantu memenuhi kebutuhan kalori, tetapi belum mampu menghadirkan pola makan yang beragam dan bergizi seimbang," ujarnya.
Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa angka kelaparan global menurun untuk tahun ketiga berturut-turut. Pada 2025, sekitar 7,8 persen penduduk dunia mengalami kelaparan, turun dibandingkan 8,1 persen pada 2024. Meski demikian, jumlah masyarakat yang tidak mampu membeli makanan sehat masih tergolong sangat tinggi.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) turut mengingatkan bahwa pola makan yang tidak sehat berkontribusi terhadap meningkatnya kasus obesitas. Data WHO menunjukkan prevalensi obesitas pada orang dewasa meningkat dari 12,1 persen pada 2012 menjadi 16,2 persen pada 2024, yang turut meningkatkan risiko penyakit tidak menular seperti diabetes, penyakit jantung, dan kanker.
Laporan itu juga menyoroti kondisi Afrika yang menjadi kawasan dengan tantangan terbesar. Sebanyak 66,6 persen penduduk Afrika belum mampu membeli makanan sehat pada 2025. Untuk pertama kalinya, jumlah penduduk yang mengalami kelaparan di Afrika mencapai sekitar 309 juta orang, melampaui Asia yang mencatat sekitar 292 juta orang.
Menurut Torero, kondisi tersebut dipengaruhi oleh pertumbuhan penduduk yang tinggi, meski persentase penduduk yang mengalami kelaparan di kawasan tersebut mulai menunjukkan tren penurunan.
Lima lembaga PBB, yakni FAO, WHO, UNICEF, World Food Programme (WFP), dan International Fund for Agricultural Development (IFAD) menilai upaya mencapai target Nol Kelaparan pada 2030 masih membutuhkan langkah yang jauh lebih besar.
Torero mendukung peningkatan investasi pada infrastruktur pangan, penelitian, pengembangan teknologi pertanian, serta rantai pasok yang lebih efisien agar harga daging, produk susu, buah, dan sayuran menjadi lebih terjangkau. Selain itu, kebijakan yang mendorong konsumsi buah dan sayur dinilai dapat meningkatkan kesehatan masyarakat sekaligus mengurangi beban ekonomi akibat penyakit yang berkaitan dengan pola makan tidak sehat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....