Migrain Kini Lebih Dipahami, Terapi Baru Beri Harapan
- 22 Jul 2026 18:54 WIB
- Takengon
RRI.CO.ID, Takengon : Migrain selama bertahun-tahun sering dianggap hanya sakit kepala biasa. Padahal, para ahli kini memastikan migrain merupakan gangguan neurologis yang dapat mengganggu aktivitas dan kualitas hidup penderitanya.
Profesor Neurologi University of Birmingham, Alexandra Sinclair, menjelaskan migrain terjadi akibat aktifnya sistem trigeminovaskular yang memicu pelepasan zat Calcitonin Gene-Related Peptide (CGRP).
Zat ini mengaktifkan pusat nyeri di otak sehingga menyebabkan sakit kepala berdenyut yang sering disertai mual serta sensitif terhadap cahaya dan suara, dikutip dari TheGuardian.
Migrain umumnya diawali gejala seperti mudah lelah, sering menguap, atau muncul keinginan mengonsumsi makanan tertentu. Sekitar 30 persen penderita juga mengalami aura, seperti gangguan penglihatan atau kesemutan, sebelum serangan berlangsung selama 4 hingga 72 jam.
Penelitian terbaru juga membantah anggapan bahwa cokelat atau keju menjadi penyebab migrain. Menurut Sinclair, keinginan mengonsumsi makanan tersebut justru merupakan bagian dari gejala awal migrain, bukan pemicunya.
Kabar baiknya, perkembangan ilmu kedokteran menghadirkan terapi baru yang menargetkan zat CGRP, seperti obat golongan Gepants dan CGRP monoclonal antibodies.
Gepants, yang bekerja dengan menghambat reseptor CGRP, serta antibodi monoklonal CGRP (CGRP monoclonal antibodies) yang diberikan melalui suntikan bulanan.
Terapi ini dinilai mampu mengurangi frekuensi dan tingkat keparahan serangan migrain, meski aksesnya masih terbatas karena biaya yang relatif tinggi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....