Resistensi Antibiotik, Ancaman Kematian Global yang Meningkat Hingga 2050
- 02 Okt 2024 18:35 WIB
- Takengon
KBRN, Takengon : Penelitian yang dilakukan oleh Institute of Health Metrics and Evaluation (IHME) di Seattle, Amerika Serikat, memperkirakan bahwa jumlah kematian global yang disebabkan oleh resistensi antibiotik akan meningkat tajam dalam beberapa dekade mendatang. Pada tahun 2050, diprediksi 1,9 juta orang per tahun akan meninggal secara langsung akibat resistensi antibiotik, sebuah ancaman yang semakin mendesak bagi kesehatan dunia.
Resistensi antibiotik terjadi ketika bakteri dan mikroorganisme lainnya mengembangkan kemampuan untuk bertahan hidup dari obat-obatan yang seharusnya membunuh mereka. Akibatnya, infeksi yang sebelumnya dapat disembuhkan dengan antibiotik menjadi semakin sulit diobati. Resistensi ini dipicu oleh penggunaan antibiotik yang berlebihan, baik dalam praktik medis maupun sektor pertanian.
Menurut tim peneliti IHME, resistensi antibiotik pada tahun 2019 sudah mengakibatkan 1,27 juta kematian per tahun di seluruh dunia. Jumlah ini mengkhawatirkan, karena infeksi bakteri yang resistan terus meningkat. Bahkan, total kematian akibat resistensi antibiotik antara sekarang dan tahun 2050 diperkirakan mencapai 39 juta orang. Namun, lebih dari sepertiga kematian tersebut bisa dicegah jika tindakan pencegahan segera diambil.
Penggunaan antibiotik yang meluas di seluruh dunia, baik dalam perawatan kesehatan maupun pertanian, telah mempercepat penyebaran mikroba resistan. Mikroba ini dapat menyebar dengan cepat dari satu negara ke negara lain, menimbulkan ancaman serius di tingkat global. Meski begitu, skala penuh dari masalah resistensi antibiotik masih belum sepenuhnya dipahami oleh banyak pihak.
Eve Wool, peneliti utama dari IHME, dan rekan-rekannya telah menganalisis lebih dari 500 juta catatan dari berbagai negara dan kurun waktu antara tahun 1990 hingga 2021 untuk memperkirakan jumlah kematian tahunan yang disebabkan oleh resistensi antibiotik. "Kami memiliki banyak cakupan secara geografis dan lintas waktu," ujar Wool, sebagaimana dikutip dari New Scientist pada 16 September 2024.
Meskipun secara keseluruhan jumlah kematian akibat resistensi antibiotik meningkat, ada beberapa perkembangan positif. Tim peneliti menemukan bahwa angka kematian pada anak-anak kecil, khususnya yang berusia di bawah 5 tahun, justru menurun secara signifikan. Penurunan ini mencapai lebih dari 50 persen antara tahun 1990 dan 2021, berkat adanya peningkatan vaksinasi dan layanan kesehatan yang lebih baik.
Namun, sebaliknya, angka kematian pada orang dewasa berusia di atas 70 tahun justru meningkat lebih dari 80 persen dalam periode yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa populasi yang lebih tua sangat rentan terhadap infeksi yang disebabkan oleh bakteri resistan terhadap antibiotik.
Secara keseluruhan, jumlah kematian global akibat resistensi antibiotik naik dari 1,06 juta pada tahun 1990 menjadi 1,27 juta pada tahun 2019. Namun, pada tahun 2021, jumlah kematian menurun menjadi 1,14 juta, meskipun ancaman ini masih tetap tinggi.
Resistensi antibiotik merupakan krisis kesehatan global yang memerlukan penanganan segera. Tanpa intervensi yang tepat, jumlah korban akan terus meningkat, terutama di negara-negara dengan akses kesehatan yang terbatas. Langkah-langkah seperti pengendalian penggunaan antibiotik, peningkatan kesadaran masyarakat tentang bahaya resistensi, dan pengembangan antibiotik baru sangat dibutuhkan untuk mengatasi krisis ini.
Selain itu, vaksinasi dan perbaikan layanan kesehatan terus menunjukkan dampak positif, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak kecil. Namun, perlu ada upaya global yang lebih komprehensif untuk menangani penyebaran mikroba resistan dan memastikan penanganan yang tepat bagi pasien yang terinfeksi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....