Mahasiswa Pariwisata Syariah IAIN Takengon Dalami Sejarah Gayo di Loyang Mendale

  • 21 Sep 2026 18:50 WIB
  •  Takengon

RRI.CO.ID, Takengon : Mahasiswa Program Studi Pariwisata Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Takengon mengikuti pembelajaran lapangan di Situs Cagar Budaya Loyang Mendale, Takengon, Senin (21/9/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperdalam pemahaman mahasiswa mengenai sejarah, budaya, dan potensi pariwisata Gayo.

Loyang Mendale merupakan salah satu situs arkeologi yang berada di tepian Danau Lut Tawar dan telah diteliti secara intensif oleh Balai Arkeologi Sumatera Utara. Dalam kunjungan tersebut, mahasiswa mendapatkan penjelasan mengenai berbagai temuan arkeologis yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat Gayo pada masa lampau.

Dosen mata kuliah Studi Budaya dan Literatur Gayo, Dr. Al Musanna, M.Ag., mengatakan pembelajaran lapangan penting dilakukan agar mahasiswa tidak hanya memahami budaya melalui teks, tetapi juga melihat secara langsung berbagai peninggalan sejarah.

“Pembelajaran ini bukan hanya dilakukan secara tekstual, tetapi mahasiswa kita ajak melihat langsung aspek budaya, kuliner, dan berbagai hal yang berkaitan dengan pariwisata. Melalui pembelajaran ini diharapkan dapat memantik pengetahuan dan wawasan mahasiswa tentang sejarah dan potensi lokasi wisata di Dataran Tinggi Tanoh Gayo”. ujar Al Musanna.

Ia menambahkan, pemahaman terhadap sejarah dan budaya dapat menjadi salah satu pendekatan dalam mengembangkan daya tarik wisata Takengon. “Kita ingin mahasiswa memahami bagaimana caranya orang tertarik datang ke Takengon. Bukan hanya karena kopi, tetapi juga melalui pendekatan sejarah, budaya, dan ilmiah,” lanjutnya.

Dalam kegiatan tersebut, pemerhati sejarah Gayo sekaligus informan lokal dalam penelitian Balai Arkeologi Sumatera Utara, Khalisuddin, turut memberikan penjelasan mengenai nilai penting Loyang Mendale sebagai situs prasejarah. Ia menjelaskan bahwa di lokasi tersebut ditemukan kerangka manusia, pecahan gerabah atau tembikar, alat bantu memasak, dan berbagai temuan lainnya.“Setelah dilakukan pengujian karbon, fosil tersebut diperkirakan berusia sekitar 4.500 sampai 5.000 tahun yang lalu,” jelas Khalisuddin.

Menurutnya, temuan tersebut menjadi bagian penting dalam memahami sejarah masyarakat Gayo. Ia juga mengingatkan mahasiswa agar tidak melupakan identitas dan sejarah daerah sendiri.“Tempat ini merupakan identitas bagi masyarakat Gayo. Pahami sejarah dan lokasi wisata di daerah kita, kemudian teruskan data-data sejarah yang ada di daerah kita,” pesannya.

Turut hadir Kepala UPTD Museum dan Taman Budaya Negeri Gayo, Huriah, S.I.Kom., beserta tim. Dalam kesempatan tersebut, Huriah memberikan pemahaman mengenai pentingnya penguasaan sejarah dan budaya Gayo bagi mahasiswa Pariwisata Syariah.

“Mahasiswa Pariwisata Syariah harus memahami sejarah daerah ini. Ketika nanti membawa wisatawan, mereka akan lebih mudah memberikan penjelasan yang menarik karena memiliki pengetahuan tentang sejarah dan budaya Gayo,” kata Huriah.

Huriah juga mengajak mahasiswa mengunjungi Museum Negeri Gayo untuk melihat berbagai koleksi hasil temuan dari Loyang Mendale yang saat ini dipamerkan di museum tersebut.

Pembelajaran lapangan ini diharapkan dapat memberikan wawasan baru bagi mahasiswa mengenai sejarah, budaya, lokasi wisata, serta bukti-bukti ilmiah terkait asal-usul masyarakat Gayo. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat kepedulian mahasiswa terhadap pelestarian warisan budaya daerah. (Rel)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....