Saat AI Semakin Cerdas, Manusia Harus Tetap Berempati

  • 05 Agt 2026 20:56 WIB
  •  Takengon

RRI.CO.ID,Takengon - Kemajuan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan otomatisasi, telah membawa dunia memasuki babak baru. Peralihan dari era Industri 4.0 menuju Society 5.0 menghadirkan berbagai kemudahan yang sebelumnya hanya menjadi angan-angan.

Aktivitas menjadi lebih cepat, pekerjaan lebih efisien, dan informasi dapat diakses hanya dalam hitungan detik. Teknologi kini menjadi bagian yang tidak terpisahkan, dari kehidupan manusia.

Di balik segala kemudahan itu, tersimpan tantangan yang tidak kalah besar. Ketika manusia semakin terhubung secara digital, justru muncul fenomena yang paradoksal: empati semakin menipis, rasa kesepian meningkat, dan gangguan kesehatan mental kian banyak.

Ruang digital yang semestinya mendekatkan manusia sering kali berubah menjadi tempat lahirnya perundungan, ujaran kebencian, hingga ledakan emosi yang sulit dikendalikan. Tanpa disadari, manusia mulai memandang sesamanya sebagai angka, data, atau sekadar akun di media sosial, bukan lagi sebagai pribadi yang memiliki perasaan.

Di tengah perubahan tersebut, mata kuliah Estetika Humanisme menawarkan perspektif yang sangat relevan. Estetika humanisme tidak hanya membahas keindahan dalam karya seni, tetapi juga mengajarkan keindahan dalam bersikap, berempati, dan memperlakukan sesama manusia secara bermartabat.

Nilai-nilai inilah yang menjadi pengingat, bahwa kemajuan teknologi harus tetap berjalan seiring dengan kemajuan karakter manusia.

Salah satu pendekatan yang dapat memperkuat karakter tersebut adalah Psikologi Humanistik. Aliran psikologi ini meyakini bahwa setiap individu memiliki potensi untuk berkembang, kebebasan menentukan pilihan hidup, serta dorongan untuk mencapai aktualisasi diri.

Manusia bukanlah mesin yang hanya bereaksi terhadap rangsangan, melainkan makhluk yang mampu berpikir, merasakan, dan menentukan arah hidupnya. Sayangnya, kehidupan digital sering kali membuat seseorang kehilangan kesadaran terhadap dirinya sendiri.

Media sosial mendorong budaya membandingkan kehidupan dengan orang lain yang tampak sempurna di layar. Akibatnya, muncul kecemasan, rasa tidak percaya diri, krisis identitas, hingga tekanan psikologis yang berlarut-larut.

Padahal, perjalanan hidup setiap orang memiliki waktu, tantangan, dan proses yang berbeda. Di sinilah kecerdasan emosional menjadi bekal yang sangat penting. Kecerdasan emosional mencakup kemampuan mengenali emosi diri, mengendalikan perasaan, memotivasi diri, memahami perasaan orang lain, serta membangun hubungan sosial yang sehat.

Kemampuan ini menjadi semakin dibutuhkan di era digital, ketika setiap orang dapat dengan mudah menyampaikan pendapat, tanpa memikirkan dampaknya bagi orang lain.

Kurangnya kecerdasan emosional menjadi salah satu penyebab maraknya konflik di media sosial. Komentar yang kasar, perundungan digital, penyebaran kebencian, hingga polarisasi masyarakat sering kali berawal dari ketidakmampuan mengelola emosi.

Karena itu, literasi digital seharusnya tidak hanya mengajarkan cara menggunakan teknologi, tetapi juga membentuk karakter agar masyarakat mampu berkomunikasi secara bijak, santun, dan penuh empati.

Pandangan ini sejalan dengan materi Kuliah Umum Mata Kuliah Umum Estetika Humanisme Universitas Siber Asia.

Dalam kesempatan itu Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Prof. Dr. Bagus Takwin, M.Hum., Psikolog, bersama Guru Besar Ilmu Komunikasi UPN Veteran Yogyakarta, Prof. Dr. Puji Lestari, S.I.P., M.Si., menegaskan bahwa pembangunan karakter dan kecerdasan emosional merupakan fondasi utama dalam menghadapi tantangan global.

Menurut Prof. Bagus Takwin, kemajuan teknologi harus diimbangi dengan kesiapan mental, etika, dan nilai-nilai kemanusiaan agar inovasi benar-benar membawa manfaat bagi kehidupan.

Pandangan tersebut juga diperkuat oleh Wakil Rektor Universitas Siber Asia, Ir. Abdul Wahab Bangkona, M.Sc., yang menekankan pentingnya kendali moral dan penguatan nilai-nilai spiritual.

Tanpa keduanya, perkembangan teknologi justru berpotensi melemahkan karakter manusia dan mengikis nilai-nilai kemanusiaan. Pada akhirnya, secanggih apa pun kecerdasan buatan berkembang, ada hal-hal yang tidak akan pernah dapat digantikan oleh mesin.

AI mampu mengolah data dalam jumlah besar, menyelesaikan pekerjaan berulang dengan cepat, bahkan membantu proses pengambilan keputusan. Namun AI tidak memiliki empati yang tulus, kasih sayang, hati nurani, maupun kebijaksanaan yang lahir dari pengalaman hidup manusia.

Oleh karena itu, tantangan terbesar di era Society 5.0 bukanlah bagaimana menciptakan teknologi yang semakin pintar, melainkan bagaimana memastikan manusia tetap menjadi pribadi yang bijaksana.

Psikologi humanistik, kecerdasan emosional, serta nilai-nilai estetika humanisme menjadi fondasi penting agar manusia tetap mampu memanusiakan manusia.

Sebab, ukuran kemajuan sebuah peradaban bukan hanya ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang dimilikinya, tetapi juga oleh seberapa besar kemampuan masyarakatnya menjaga empati, menghargai sesama, dan merawat kesehatan mental di tengah dunia yang terus berubah.(ESN)

Oleh: Eka Syamsuri Nasution (Mahasiswa Universitas Siber Asia)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....