Lari Setiap Hari, Benarkah Selalu Baik untuk Tubuh?
- 11 Agt 2026 11:58 WIB
- Takengon
RRI.CO.ID, Takengon : Bagi sebagian pelari, berlari setiap hari menjadi simbol kedisiplinan dan komitmen terhadap kebugaran. Namun, apakah berlari setiap hari benar-benar baik untuk tubuh?
Pelatih lari asal Boston, Anoush Arakelian, mengatakan jawabannya tidak bisa disamaratakan.
Menurutnya, baik atau buruknya kebiasaan berlari setiap hari sangat bergantung pada kondisi tubuh, intensitas latihan, pengalaman berlari, serta bagaimana seseorang mengatur waktu pemulihan, dilansir dari Self, Selasa (11/8/2026).
“Baik” atau “buruk” seolah membuat pertanyaan tersebut hanya memiliki jawaban ya atau tidak. Padahal, kondisi setiap pelari berbeda.
“Kata baik atau buruk menjadikannya sebuah pertanyaan yang jawabannya hanya ‘ya’ atau ‘tidak,” ujar Arakelian.
Tidak Semua Lari Harus Berat
Jika setiap sesi lari dilakukan dengan intensitas tinggi, berlari setiap hari justru dapat memberikan tekanan berlebihan pada tubuh. Sebaliknya, beberapa sesi dapat dilakukan sebagai latihan pemulihan, misalnya joging singkat dengan kecepatan rendah.
Lari ringan dapat membantu tubuh tetap bergerak tanpa memberikan tekanan berlebihan pada persendian dan otot. Namun, tantangannya adalah banyak pelari justru kesulitan memperlambat kecepatan ketika seharusnya melakukan latihan ringan.
Arakelian mengatakan kemampuan untuk menahan diri dan tidak selalu mengejar kecepatan menjadi salah satu hal penting dalam meningkatkan frekuensi latihan.
“Saya menemukan bahwa banyak orang secara mental tidak mampu berlari cukup pelan sesuai kebutuhan mereka pada hari-hari latihan ringan. Jika Anda tidak mampu memperlambat ritme, berarti ada sesuatu yang Anda lakukan dengan tidak benar,” ujarnya.
Pelari Berpengalaman Lebih Mampu Mengatur Ritme
Kemampuan membedakan antara latihan berat dan latihan ringan sering kali berkembang seiring pengalaman. Arakelian menyebutnya sebagai semacam tingkat kematangan seorang pelari.
”Ada beberapa pelari yang sangat berpengalaman yang bekerja dengan saya, tetapi mereka rentan mengalami cedera dan membutuhkan dua hari istirahat dalam seminggu. Semuanya sangat bergantung pada kondisi masing-masing individu.” Jelas Arakelian.
Pelari yang lebih berpengalaman biasanya tidak terlalu tertekan untuk selalu mengejar pace cepat atau jarak jauh. Mereka juga lebih mampu menjalani hari latihan ringan dengan benar-benar santai.
Hal tersebut penting karena peningkatan frekuensi berlari bukan hanya soal seberapa sering seseorang berlari, tetapi juga seberapa baik tubuh mendapatkan kesempatan untuk pulih.
Hari Istirahat Tetap Dibutuhkan
Meski sebagian pelari mampu berlari dengan frekuensi tinggi, bukan berarti hari istirahat dapat dihilangkan sepenuhnya. Kebutuhan istirahat setiap orang berbeda.
Ada pelari yang mungkin cukup mengambil satu hari penuh untuk beristirahat setiap beberapa minggu, sementara lainnya membutuhkan setidaknya satu hari istirahat dalam seminggu.
Riwayat cedera, total jarak tempuh mingguan, usia, kondisi tubuh, serta intensitas latihan menjadi beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan.
Bahkan pelari berpengalaman yang rentan mengalami cedera dapat membutuhkan dua hari istirahat dalam seminggu.
Dengarkan Sinyal dari Tubuh
Salah satu cara mengetahui apakah rutinitas lari setiap hari cocok untuk tubuh adalah dengan memperhatikan respons tubuh.
Jika berlari setiap hari membuat tubuh terus-menerus lelah, kesulitan menyelesaikan latihan, atau mulai merasa enggan melakukan lari jarak jauh, kondisi tersebut bisa menjadi tanda bahwa tubuh membutuhkan lebih banyak waktu untuk pulih.
Rasa sakit juga tidak boleh diabaikan. Nyeri yang muncul dan menetap dapat menjadi tanda adanya masalah yang perlu diperhatikan.
Menurut Arakelian, memaksakan diri berlari setiap hari tanpa strategi pemulihan yang tepat dapat meningkatkan risiko sejumlah masalah, termasuk cedera akibat tekanan pada tulang, gangguan pada tendon, serta kelelahan yang berkepanjangan.
“Jika Anda berlari setiap hari tanpa melakukannya dengan bijak, Anda dapat mengalami cedera atau dampak buruk dalam berbagai hal. Saya rasa tidak ada manfaat besar dari berlari setiap hari. Jika seseorang membutuhkan rutinitas seperti itu dalam hidupnya, tidak masalah—tetapi sebenarnya tidak ada manfaat khusus dari melakukannya setiap hari,” ungkapnya.
Tren Running Streak Tidak Selalu Diperlukan
Belakangan ini, running streak atau kebiasaan mencatat minimal satu mil lari setiap hari selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun cukup populer di kalangan pelari.
Namun, menurut Arakelian, kebiasaan tersebut tidak selalu memberikan manfaat tambahan bagi pelari yang sudah berpengalaman.
Jika rutinitas tersebut memberikan struktur dan motivasi dalam kehidupan seseorang, tidak ada masalah untuk melakukannya. Namun, tidak berarti semua orang harus berlari setiap hari untuk mendapatkan hasil latihan yang baik.
Utamakan Kualitas Latihan dan Pemulihan
Daripada mengejar jumlah hari berlari, pelari disarankan lebih memperhatikan kualitas latihan dan pemulihan. Latihan seharusnya terasa produktif, sementara sesi pemulihan aktif tetap dilakukan dengan intensitas ringan. Lari jarak jauh juga idealnya tidak membuat tubuh benar-benar terkuras hingga mengganggu latihan pada minggu berikutnya.
Dengan pengaturan yang tepat, tubuh memiliki kesempatan untuk beradaptasi sekaligus menjadi lebih kuat.
Pada akhirnya, berlari setiap hari bukanlah ukuran utama keberhasilan seorang pelari. Yang lebih penting adalah bagaimana mengatur keseimbangan antara latihan, intensitas, istirahat, dan kemampuan tubuh untuk pulih.
Jadi, tidak perlu memaksakan diri berlari setiap hari hanya demi mempertahankan catatan. Berlari dengan cerdas, memberikan tubuh waktu untuk beristirahat, dan mendengarkan sinyal tubuh justru dapat membantu menjaga konsistensi latihan dalam jangka panjang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....