Mengenal Runner's High, Sensasi Bahagia yang Dirasakan saat Berlari

  • 22 Jul 2026 18:55 WIB
  •  Takengon

RRI.CO.ID, Takengon : Pernah mendengar istilah runner's high? Kondisi ini menggambarkan sensasi bahagia, tenang, dan berenergi yang terkadang muncul setelah seseorang berlari dalam durasi tertentu.

Meski tidak semua pelari mengalaminya, para ilmuwan kini memastikan bahwa fenomena tersebut memang nyata dan memiliki penjelasan ilmiah.

Selama bertahun-tahun, runner's high diyakini berasal dari peningkatan hormon endorfin. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa sensasi tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh endocannabinoid (eCB), yaitu senyawa alami yang diproduksi tubuh untuk membantu mengurangi rasa sakit, menekan kecemasan, serta meningkatkan suasana hati.

Ahli saraf sekaligus konsultan performa mental, Dr. Daya Grant, menjelaskan kadar endocannabinoid meningkat saat seseorang melakukan olahraga aerobik dengan intensitas sedang hingga tinggi.

Efeknya dapat bertahan sekitar 30 hingga 45 menit setelah berolahraga, sehingga seseorang merasa lebih rileks, bahagia, dan mampu mengatasi stres dengan lebih baik.

"Sensasi runner's high diduga muncul akibat berbagai perubahan zat kimia di otak yang bekerja secara bersamaan. Proses ini melibatkan beberapa sistem di otak, termasuk sistem opioid yang menghasilkan endorfin, serta sistem endokannabinoid (eCB), yang berperan dalam menciptakan rasa nyaman dan bahagia setelah berolahraga.

Meskipun endorfin memang terlibat, zat ini tampaknya bukan penyebab utama munculnya runner's high. Peran utama tersebut justru dimiliki oleh sistem endokannabinoid (eCB), " ujar Grant.

"Kadar endokannabinoid meningkat saat seseorang berlari dengan intensitas sedang hingga tinggi dan tetap berada pada tingkat yang lebih tinggi selama sekitar 30–45 menit setelah selesai berlari. Sistem endokannabinoid (eCB) berperan penting dalam dua ciri utama runner's high, yaitu euforia dan anxiolysis, atau berkurangnya rasa cemas. Selain itu, sistem ini juga berkontribusi dalam mengurangi rasa nyeri, meningkatkan suasana hati, memperkuat ketahanan terhadap stres, serta mengubah persepsi terhadap waktu. Perubahan persepsi waktu ini juga merupakan salah satu ciri khas kondisi flow state," tutur Grant, dikutip dari TheGuardian.

Selain endocannabinoid, tubuh juga meningkatkan produksi dopamin, hormon yang berperan dalam rasa senang dan motivasi. Kadar dopamin biasanya mencapai puncaknya setelah sekitar satu jam berlari, sehingga membantu meningkatkan fokus dan daya tahan mental.

Meski sering dikaitkan dengan kondisi flow state atau saat seseorang benar-benar larut dalam aktivitasnya, para ahli menegaskan bahwa keduanya berbeda. Runner's high lebih mengarah pada perasaan euforia dan berkurangnya kecemasan, sedangkan flow state merupakan kondisi ketika tubuh dan pikiran bekerja selaras sehingga aktivitas terasa lebih ringan.

Aktivitas lari di alam terbuka juga dinilai memberi manfaat tambahan bagi kesehatan mental. Selain menghadirkan suasana yang lebih menyenangkan, medan yang bervariasi membantu menjaga fokus sehingga olahraga terasa tidak membosankan.

Tidak semua orang akan merasakan runner's high. Faktor genetik diduga memengaruhi seberapa cepat tubuh memecah senyawa endocannabinoid setelah berolahraga. Akibatnya, sebagian orang tidak merasakan euforia meski rutin berlari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....