Cahaya Lebaran di Kota Pahlawan
- 23 Mar 2026 21:21 WIB
- Takengon
RRI.CO.ID, Takengon : Suasana malam di dataran tinggi Gayo terasa sejuk dan damai. Dari studio RRI Takengon, program spesial “Story Idul Fitri” mengudara mulai pukul 20.00 WIB, menghadirkan kisah hangat tentang makna Lebaran dari sudut pandang perantau. Mengusung tema “Cahaya Lebaran di Kota Pahlawan”, siaran ini menghadirkan narasumber Supriadi Mahmud, seorang tour guide yang pernah merasakan perayaan Idul Fitri di dua tempat berbeda: Takengon dan Surabaya.
Dalam perbincangan yang santai namun penuh makna, Supriadi membagikan pengalaman pribadinya menjalani hari kemenangan jauh dari kampung halaman. Ia menggambarkan bahwa Lebaran di Takengon memiliki nuansa kekeluargaan yang begitu kental. Dikelilingi oleh sanak saudara dan handai taulan, momen silaturahmi terasa lebih hidup dan penuh kehangatan.
“Kalau di Takengon, suasana Lebaran itu benar-benar terasa ramai dan hangat. Kita bisa berkumpul dengan keluarga besar, saling bermaafan, dan menikmati kebersamaan dari pagi hingga malam,” ungkap Supriadi.
Berbeda halnya ketika ia merayakan Idul Fitri di Surabaya, yang dikenal sebagai Kota Pahlawan. Di sana, suasana Lebaran terasa lebih sederhana dan tenang. Supriadi mengaku hanya merayakan hari raya bersama sang istri yang berasal dari Blitar. Meski tanpa kehadiran keluarga besar, makna Lebaran tetap terasa.
“Di Surabaya, memang tidak seramai di kampung halaman. Hanya bersama istri, suasananya lebih sederhana. Tapi esensi Lebaran tetap sama, yaitu kebersamaan dan saling memaafkan,” tambahnya.
Menariknya, meskipun terdapat perbedaan suasana dan jumlah anggota keluarga yang berkumpul, Supriadi menegaskan bahwa secara tradisi, pelaksanaan Idul Fitri di Takengon dan Surabaya tidak memiliki perbedaan yang signifikan. Mulai dari shalat Id, tradisi saling berkunjung, hingga hidangan khas Lebaran, semuanya tetap dijalankan dengan nilai-nilai yang sama.
Hal ini menunjukkan bahwa di mana pun seseorang berada, semangat Idul Fitri sebagai momentum untuk mempererat silaturahmi dan memperbaiki hubungan tetap menjadi inti utama.
Program “Story Idul Fitri” malam itu tidak hanya menjadi ajang berbagi cerita, tetapi juga menghadirkan refleksi bagi para pendengar bahwa makna Lebaran tidak ditentukan oleh tempat, melainkan oleh hati yang tulus untuk saling memaafkan dan berbagi kebahagiaan.
Dari Takengon hingga Surabaya, cahaya Lebaran tetap bersinar—menghangatkan hati, menyatukan jiwa, dan mengingatkan kita bahwa kebersamaan adalah anugerah terindah di hari yang fitri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....