Matt Damon Kritik Netflix : Penonton Kurang Fokus

  • 28 Jan 2026 15:51 WIB
  •  Takengon

RRI.CO.ID, Takengon : Perkembangan teknologi digital dan kebiasaan menonton lewat ponsel disebut telah membawa industri film memasuki era baru yang oleh  sebagian kritikus disebut sebagai “the pub bore age of cinema”. Istilah ini menggambarkan kondisi ketika film kehilangan daya magisnya sebagai tontonan sinematik dan berubah menjadi hiburan latar, layaknya obrolan membosankan di sudut pub.

Istilah “pub bore age of cinema” sendiri merujuk pada era ketika film lebih banyak “berbicara” daripada “menunjukkan”. Dialog panjang, eksposisi berlebihan, dan cerita yang terasa datar dianggap sebagai konsekuensi dari budaya menonton sambil lalu. Film menjadi seperti seseorang yang terus berbicara di pub tanpa benar-benar menarik perhatian lawan bicaranya.

Fenomena ini tidak lepas dari semakin dominannya ponsel pintar dan layanan streaming seperti Netflix dalam keseharian penonton. Film dan serial kini lebih sering dikonsumsi lewat layar kecil, sambil melakukan aktivitas lain seperti membuka media sosial, membalas pesan, atau bahkan bekerja. Akibatnya, pengalaman menonton yang utuh dan fokus perlahan memudar.

Para pengamat menilai perubahan ini turut memengaruhi cara film dibuat. Durasi adegan cenderung lebih singkat, dialog dipadatkan, dan alur cerita disederhanakan agar tetap bisa diikuti meski penonton tidak sepenuhnya memperhatikan layar. Film tak lagi dituntut untuk memikat penonton dalam gelapnya bioskop, melainkan cukup “hadir” di layar ponsel sebagai pengisi waktu luang.

Salah satunya ialah Aktor Hollywood Matt Damon justru melontarkan kritik terhadap Netflix saat mempromosikan film terbarunya, The Rip. Film thriller polisi senilai US$100 juta yang dibintanginya bersama Ben Affleck itu saat ini menjadi film paling banyak ditonton di Netflix.

Dalam wawancara di podcast The Joe Rogan Experience, Damon membandingkan pengalaman menonton film di bioskop dengan menonton lewat layanan streaming. Ia menilai menonton film di layar lebar menghadirkan pengalaman yang jauh lebih fokus dan imersif dibandingkan menonton di rumah.

Damon mengungkapkan, pihak platform streaming kerap meminta pembuat film untuk menyederhanakan cerita. Salah satunya dengan menghadirkan adegan aksi besar di awal agar penonton tetap bertahan. Netflix juga disebut menyarankan agar alur cerita diulang beberapa kali lewat dialog, karena banyak penonton menonton sambil memainkan ponsel.

Menurut Damon, kebiasaan tersebut mulai memengaruhi cara cerita disampaikan dalam film. Ia menilai pendekatan itu berpotensi menggerus kualitas penceritaan dan membuat film terasa terlalu banyak penjelasan.

Di sisi lain, kehadiran Netflix dan platform streaming juga membuka ruang bagi lebih banyak kreator dan cerita yang sebelumnya sulit mendapat tempat di layar lebar. Produksi film dan serial meningkat pesat, genre semakin beragam, dan penonton memiliki pilihan hampir tak terbatas. Namun, melimpahnya konten ini justru memicu kekhawatiran akan menurunnya kualitas dan kedalaman sinema.

Sejumlah sineas dan kritikus menyerukan pentingnya mengembalikan pengalaman menonton yang lebih fokus dan imersif. Bioskop dinilai masih menjadi ruang ideal untuk menikmati film sebagai karya seni visual, bukan sekadar konten pengisi waktu. Tanpa perhatian penuh penonton, sinema dikhawatirkan kehilangan kekuatan utamanya: kemampuan untuk menggugah emosi dan pemikiran.

Di tengah dominasi ponsel dan streaming, masa depan sinema kini berada di persimpangan. Apakah film akan terus beradaptasi dengan kebiasaan multitasking penonton, atau justru kembali menuntut perhatian penuh seperti pada era keemasan layar lebar, masih menjadi perdebatan panjang di dunia perfilman global.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....