Semangat Kepahlawanan dalam Nafas Budaya Gayo

  • 11 Nov 2025 08:36 WIB
  •  Takengon

KBRN, Redelong : Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan, RRI Takengon menggelar Dialog Pagi edisi Selasa, 11 November 2025, dengan menghadirkan narasumber istimewa — Dr. Salman Yoga, S.S.Ag., M.A., seorang budayawan Gayo sekaligus penulis buku Kesling. Acara yang dimulai pukul 08.00 WIB ini membahas bagaimana nilai-nilai kepahlawanan tetap hidup dan berdenyut dalam nafas budaya masyarakat Gayo.

Dalam dialog tersebut, Dr. Salman Yoga mengungkapkan bahwa semangat kepahlawanan bukan hanya tercermin melalui pertempuran fisik melawan penjajah, tetapi juga melalui perjuangan mempertahankan identitas, nilai, dan kebudayaan lokal di tengah arus modernisasi. Hal itu menjadi ruh utama dalam karya sastranya Kelising — sebuah buku yang berhasil menembus nominasi Penghargaan Sastra Nasional dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Menariknya, Kesling menjadi satu-satunya karya sastra dari wilayah Aceh dan Sumatera Utara yang masuk dalam nominasi tersebut.

Dr. Salman menjelaskan bahwa “Kelising” berasal dari bahasa Gayo, dan di dalamnya terdapat empat naskah teater yang sarat nilai budaya dan heroisme.

Keempat naskah tersebut menggambarkan semangat perjuangan, kearifan lokal, dan keteguhan moral masyarakat Gayo dari masa ke masa.

Naskah pertama berjudul Tungku, mengisahkan tentang sosok perempuan Gayo yang dengan tegas mempertahankan nilai-nilai budaya dan tradisi di tengah tantangan zaman. Kisah ini menggambarkan keberanian perempuan dalam menjaga kehormatan budaya, yang sejatinya juga merupakan bentuk kepahlawanan dalam konteks sosial dan moral.

Kisah kedua berjudul “Para Merah”, mengangkat penggalan sejarah dari Kerajaan Linge, salah satu kerajaan tertua di Tanah Gayo. Dalam kisah ini, diceritakan bagaimana seorang anggota kerajaan yang menyalahi aturan akhirnya menerima hukuman mati sebagai bentuk tanggung jawab dan keadilan adat. Kisah ini mengandung pesan kuat tentang kejujuran, disiplin, dan keberanian menghadapi konsekuensi — nilai-nilai yang sejalan dengan jiwa kepahlawanan.

Sementara itu, naskah ketiga, Benyang, menceritakan tentang sebuah gubuk kecil yang dijadikan tempat untuk menghalau burung-burung. Meski tampak sederhana, kisah ini sarat makna filosofis tentang ketekunan, kesabaran, dan kerja keras masyarakat Gayo yang hidup berdampingan dengan alam.

Dan yang terakhir, naskah keempat berjudul Aku Memanggilmu, Ine, merupakan kisah reflektif yang menggambarkan hubungan emosional antara seorang anak dan ibunya, sebagai simbol dari panggilan nurani, cinta, dan pengabdian yang tak terputus.

Menurut Dr. Salman Yoga, keempat naskah dalam Kelising tidak hanya mengandung nilai seni dan budaya, tetapi juga merefleksikan jiwa kepahlawanan yang hidup di tengah masyarakat Gayo — yakni keberanian menjaga identitas, ketulusan dalam pengabdian, dan kekuatan dalam mempertahankan kebenaran.

Melalui dialog ini, RRI Takengon kembali menegaskan peran media publik dalam melestarikan dan memperkenalkan karya budaya lokal yang memiliki nilai kebangsaan tinggi. Sebab, sebagaimana diungkapkan Dr. Salman, “Menjadi pahlawan hari ini bukan lagi dengan mengangkat senjata, tetapi dengan menjaga dan menghidupkan warisan budaya bangsa.”

Dengan demikian, semangat kepahlawanan tidak lekang oleh waktu — ia terus bernafas dalam karya, dalam budaya, dan dalam setiap denyut kehidupan masyarakat Gayo.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....