Imam Besar Dunia dan Imam Kecil di Kampung
- 28 Sep 2026 15:47 WIB
- Takengon
RRI.CO.ID, Takengon: ndonesia menjadi tuan rumah International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 di Jakarta. Pertemuan para imam besar dunia itu melahirkan The International Assembly of Mosque Imams (IAMI), dengan Menteri Agama Nasaruddin Umar terpilih sebagai presiden pertama. Sebuah kepercayaan internasional yang patut disambut. Namun, ada pertanyaan tentang imam-imam kecil di kampung.
Kita mengenal imam besar melalui gelar, mimbar, dan forum internasional. Mereka berbicara tentang konflik antarbangsa, harmoni, dan masa depan peradaban. Sementara itu, imam musala mengumumkan tetangga meninggal, memimpin salat berjemaah, dan menerima keluh kesah warga. Diplomasi yang satu mendunia, lainnya menyentuh halaman rumah.
Tidak ada yang keliru dengan konferensi internasional. Dunia membutuhkan percakapan lintas bangsa, apalagi ketika perang dan kebencian seperti tidak pernah kehabisan anggaran. Namun, perdamaian global akan terdengar seperti pidato di ruang berpendingin udara apabila tidak menemukan jalan menuju gang sempit, kampung padat, dan musala sederhana.
Setelah para imam besar bertukar gagasan, siapa yang memastikan gagasan itu sampai kepada imam kecil? Siapa yang menemani imam kampung menghadapi persoalan jamaah, dari anak putus sekolah hingga keluarga bertengkar? Jangan-jangan, perdamaian dunia sudah dirumuskan dengan rapi, sementara perdamaian antartetangga masih menunggu seseorang meminjamkan kursi.
Kiai Kampung dan Diplomasi Sehari-hari
Gus Dur memberi tempat penting bagi kiai kampung, para ulama yang hidup bersama rakyat dan memahami persoalan mereka dari dekat. Pada 2007, Gus Dur menghimpun ribuan kiai kampung dalam Majelis Silaturahim Ulama Rakyat. Perhatian itu menegaskan bahwa kepemimpinan keagamaan tidak hanya tumbuh di pesantren besar.
Dalam Kiai Nyentrik Membela Pemerintah, Abdurrahman Wahid (LKiS, 1997), kita menemukan perhatian Gus Dur terhadap sosok kiai dengan segala keunikan dan pergulatan sosialnya. Kiai bukan sekadar pemegang otoritas keagamaan. Ia hidup bersama masyarakat, menghadapi persoalan yang kadang tidak selesai hanya dengan satu kutipan kitab.
Kiai kampung memahami bahwa masyarakat tidak hidup dari fatwa saja. Ada beras yang harus dibeli, anak yang perlu biaya sekolah, tetangga yang berselisih, dan warga yang kehilangan pekerjaan. Agama hadir bukan untuk menghapus kenyataan tersebut, melainkan memberikan tuntunan agar manusia tidak kehilangan arah ketika kenyataan terasa berat.
Imam kampung menjalankan diplomasi tanpa paspor. Ia mendamaikan suami istri, menenangkan keluarga berduka, mengajak pemuda kembali ke masjid, dan menjaga agar perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan. Tidak ada konferensi pers setelah keberhasilannya. Bahkan, namanya sering tidak tercantum dalam daftar undangan ketika pejabat berkunjung.
Ibn Khaldun, Muqaddimah (Dar al-Fikr, 2001), menjelaskan pentingnya ‘ashabiyyah, solidaritas sosial yang menopang kehidupan masyarakat. Kekuatan komunitas bertumpu pada ikatan yang dirawat bersama. Imam kampung berada di tengah ikatan itu, menjaga kepercayaan melalui perjumpaan berulang, bukan melalui baliho kerukunan yang dipasang menjelang acara.
Robert D. Putnam, Bowling Alone, The Collapse and Revival of American Community (Simon & Schuster, 2000), membahas pentingnya modal sosial dan keterlibatan warga. Dalam kehidupan kampung, imam dapat menjadi simpul kepercayaan yang menghubungkan masyarakat. Namun, tugas sebesar itu tidak sepatutnya diserahkan kepada ketulusan semata.
Dari Panggung Dunia ke Serambi Musala
Terpilihnya Nasaruddin Umar sebagai presiden pertama IAMI membawa harapan agar diplomasi keagamaan tidak berhenti sebagai percakapan antartokoh. Organisasi ini dapat menjadi ruang penguatan kepemimpinan imam, perdamaian, dan pemberdayaan masyarakat. Kepemimpinan global akan lebih bermakna apabila manfaatnya terasa hingga masjid kecil di pelosok negeri.
Masjid yang memberdayakan umat tidak harus memiliki bangunan megah, ruang konferensi, atau layar digital. Kadang-kadang, yang dibutuhkan hanya imam yang didukung, pengurus yang bekerja bersama, dan masyarakat yang diberi kesempatan mengembangkan potensi. Peradaban tidak selalu dibangun dengan marmer; terkadang cukup dengan kepedulian.
Karena itu, pembinaan imam tidak cukup berupa pelatihan membaca khutbah atau lomba tilawah. Mereka memerlukan penguatan kapasitas dalam komunikasi, mediasi konflik, pendampingan keluarga, literasi digital, dan pemberdayaan ekonomi. Tidak semua imam harus menjadi konsultan segala perkara, tetapi mereka perlu mengetahui ke mana jamaah dapat memperoleh pertolongan.
Perhatian terhadap kesejahteraan imam juga tidak boleh dianggap urusan sampingan. Banyak di antara mereka mengabdi dengan fasilitas terbatas, bahkan tanpa penghasilan tetap. Kita meminta imam menjaga moral masyarakat, tetapi lupa bahwa ia juga harus membayar listrik, membeli beras, dan menyekolahkan anak. Tagihan rupanya belum mengenal istilah pahala.
Ukuran keberhasilan diplomasi keagamaan bukan hanya jumlah delegasi atau dokumen kesepakatan. Ukuran lainnya ialah apakah masyarakat merasakan perubahan, apakah imam memperoleh dukungan, dan apakah masjid semakin bermanfaat. Dunia boleh mengenal imam besar kita, tetapi warga kampung juga harus merasakan kehadiran pemimpin agamanya.
Kita membutuhkan imam besar dunia sekaligus perhatian besar kepada imam kecil di kampung. Perdamaian tidak selalu dimulai dari meja konferensi. Kadang-kadang, ia bermula dari imam yang mendamaikan dua tetangga, meminjamkan pengeras suara, atau membuka pintu musala bagi anak-anak yang ingin belajar mengaji dan mengeja.
Jangan sampai kita berhasil mengekspor gagasan perdamaian ke berbagai negara, tetapi gagal menghadirkan ketenteraman di halaman sendiri. Imam besar berbicara kepada dunia, imam kampung menjaga dunia kecil bernama umat. Jika dunia kecil itu dirawat dengan sungguh-sungguh, perdamaian global akan memiliki tempat untuk pulang. Wallahul musta’an.
Fahmi Arif El Muniry (Imam Masjid Jami’ Laku Luhur Al Mahabbah Demak)
Sumber: Kemenag
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....