Bandara Kemayoran, Pelopor Penerbangan Sipil Indonesia
- 23 Nov 2025 15:50 WIB
- Takengon
KBRN, Takengon: Di tengah padatnya gedung tinggi dan jalan raya Jakarta masa kini, ada sebuah nama yang perlahan memudar dari ingatan publik: Bandara Kemayoran. Meski kini hanya tersisa jejak sejarah, bandara inilah yang membuka babak baru penerbangan sipil Indonesia. Dari tempat inilah bangsa yang baru merdeka memperkenalkan diri kepada dunia melalui udara.
Bandara Kemayoran diresmikan pada Kemerdekaan RI tahun 1940 oleh pemerintah Hindia Belanda. Letaknya berada di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat—wilayah yang pada masa itu masih berupa tanah lapang luas. Pembangunan bandara ini menandai kebutuhan baru: jalur udara sebagai penghubung penting antara Batavia, kota-kota besar di Indonesia, serta negara-negara lain di Asia.
Kemayoran menjadi bandara modern pertama di Hindia Belanda yang dibangun khusus untuk penerbangan komersial. Terminalnya relatif maju untuk ukuran zamannya: memiliki ruang tunggu, fasilitas imigrasi, hingga area teknis untuk perawatan pesawat.
Setelah Indonesia merdeka pada 1945, Bandara Kemayoran mengambil peran penting dalam konsolidasi penerbangan nasional. Dari sinilah maskapai-maskapai awal Indonesia seperti Garuda Indonesian Airways (GIA) memulai operasi rute domestik dan internasional.
Kemayoran juga menjadi saksi berbagai momen sejarah nasional, seperti:
- Penerbangan perdana Garuda menggunakan pesawat Douglas DC-3 pasca-penyerahan dari maskapai Belanda.
- Kedatangan tokoh dan tamu negara pada era awal pemerintahan Sukarno.
- Arus diplomasi udara, ketika Indonesia mulai memperkuat hubungan dengan negara-negara Asia-Afrika.
Nama Kemayoran kian mendunia ketika kodenya, JKT, menjadi identitas internasional bagi penerbangan dari dan menuju Indonesia.
Pada tahun 1950–1970-an, Bandara Kemayoran mengalami masa keemasan. Setiap hari puluhan pesawat dari Asia, Eropa, hingga Timur Tengah mendarat dan lepas landas dari runway-nya. Maskapai-maskapai besar seperti KLM, Pan American, Qantas, dan Japan Airlines pernah singgah di sini.
Bandara ini juga dicintai masyarakat karena kerap menjadi lokasi pagelaran akrobatik udara dan pameran penerbangan. Masyarakat Jakarta kala itu menjadikan area Kemayoran sebagai tempat berkumpul untuk menyaksikan pesawat raksasa dari dekat—sebuah hiburan langka di masa itu.
Salah satu jejak populernya adalah lagu legendaris “Di Bawah Lindungan Ka’bah” dan ikon budaya “Anak Kemayoran”, yang ikut mengabadikan nama bandara dalam karya seni.
Memasuki awal 1970-an, perkembangan kota Jakarta semakin pesat. Kepadatan penduduk di sekitar Kemayoran membuat aktivitas bandara kian berisiko. Pemerintah memutuskan untuk memindahkan aktivitas penerbangan ke Bandara Halim Perdanakusuma dan kemudian Bandara Soekarno–Hatta.
Pada 31 Maret 1985, Bandara Kemayoran resmi ditutup. Pesawat komersial terakhir yang terbang meninggalkan Kemayoran menjadi simbol berakhirnya sebuah era. Sejak itu, area bandara perlahan dialihfungsikan menjadi kawasan perkantoran, permukiman, dan pusat pameran internasional JIEXPO Kemayoran.
Runway dan terminal bandara dibongkar, digantikan jalan raya dan bangunan baru. Kini hanya sedikit yang tersisa: nama jalan seperti Bendungan Kemayoran, Apron, atau Landasan Pacu, yang menjadi petunjuk samar bahwa tempat itu dulunya adalah pusat penerbangan nasional.
Meski fisiknya hilang, Bandara Kemayoran meninggalkan warisan berharga bagi Indonesia:
- Bandara komersial pertama Indonesia
- Pusat lahirnya penerbangan sipil nasional
- Gerbang diplomasi udara Indonesia pada era awal kemerdekaan
- Tempat Garuda memulai sejarahnya
- Ikon budaya dan memori kolektif masyarakat Jakarta
Kemayoran bukan sekadar landasan pesawat. Ia adalah tempat bangsa belajar menyapa dunia lewat angkasa. Tempat yang melahirkan semangat kemandirian di awal republik berdiri.
Hingga kini, meski wujudnya sudah berubah total, sejarahnya tetap tertanam dalam identitas penerbangan Indonesia. Bandara Kemayoran tetap diingat sebagai pionir—pelopor perjalanan udara yang membawa Indonesia menuju cakrawala modernitas.