Candi Prambanan: Jejak Cinta, Keimanan Dan Kejayaan Nusantara

  • 16 Nov 2025 16:46 WIB
  •  Takengon

KBRN, Takengon: Di dataran subur antara Yogyakarta dan Klaten, berdiri megah gugusan candi batu yang menjulang tinggi ke langit—Candi Prambanan. Siluetnya yang anggun di bawah sinar mentari pagi menjadi saksi bisu kejayaan masa lalu. Prambanan bukan sekadar bangunan purbakala, melainkan juga kisah cinta, legenda, dan spiritualitas yang telah menembus batas waktu lebih dari seribu tahun.

Candi Prambanan dibangun sekitar tahun 850 Masehi, pada masa pemerintahan Rakai Pikatan dari Wangsa Sanjaya. Candi ini merupakan kompleks Hindu terbesar di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara. Pembangunannya diyakini sebagai penanda bangkitnya agama Hindu di Pulau Jawa setelah masa kejayaan Buddha pada era Dinasti Syailendra yang melahirkan Candi Borobudur.

Prambanan sesungguhnya bukan hanya satu candi, melainkan kompleks dengan lebih dari 240 candi. Tiga candi utama didedikasikan kepada Trimurti—tiga manifestasi utama Tuhan dalam ajaran Hindu, yaitu Brahma Sang Pencipta, Wisnu Sang Pemelihara, dan Siwa Sang Pelebur. Di antara ketiganya, Candi Siwa adalah yang terbesar dan tertinggi, mencapai 47 meter.

Di dalam Candi Siwa, terdapat arca besar Dewa Siwa Mahadewa, disertai dengan arca Durga, Agastya, dan Ganesha. Sosok Durga di candi ini dikenal luas sebagai “Durga Mahisasuramardini”, yang oleh masyarakat lokal sering disebut “Roro Jonggrang”—sebuah nama yang akan terus bergaung dalam legenda cinta yang tragis.

Setiap pengunjung Prambanan hampir tak bisa lepas dari kisah Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso. Legenda ini hidup dari tutur ke tutur, menjadi bagian tak terpisahkan dari pesona candi.

Dikisahkan, Bandung Bondowoso, seorang pangeran sakti dari Kerajaan Pengging, jatuh cinta kepada putri cantik dari Kerajaan Boko bernama Roro Jonggrang. Namun sang putri menolak lamaran itu karena Bandung telah membunuh ayahnya dalam perang.

Untuk menolak secara halus, Roro Jonggrang mengajukan syarat mustahil: Bandung harus membangun seribu candi dalam satu malam. Dengan bantuan pasukan jin, Bandung hampir menuntaskan tugasnya. Melihat itu, Roro Jonggrang panik dan memerintahkan rakyatnya menumbuk padi serta menyalakan api untuk meniru fajar. Jin-jin pun pergi, dan pembangunan terhenti di candi ke-999.

Marah karena tipu daya sang putri, Bandung Bondowoso mengutuk Roro Jonggrang menjadi batu—dan legenda mengatakan, arca Durga di Candi Siwa adalah jelmaan sang putri cantik itu. Dari sinilah, masyarakat menyebut Prambanan sebagai “Candi Roro Jonggrang.”

Secara arsitektural, Prambanan merupakan puncak pencapaian seni Hindu Jawa kuno. Susunan candinya menggambarkan kosmologi Hindu, dengan halaman berlapis tiga—masing-masing mewakili dunia manusia, dunia para dewa, dan dunia tertinggi. Relief-relief pada dinding candi menceritakan kisah Ramayana dan Krishnayana, dipahat dengan detail luar biasa oleh tangan-tangan pengrajin masa lampau.

Ketika cahaya senja menyentuh ukiran-ukiran itu, bayangan kisah Ramayana seolah hidup kembali. Setiap relief menggambarkan nilai kesetiaan, pengorbanan, dan dharma (kebenaran)—pesan moral yang tetap relevan hingga kini.

Namun, perjalanan panjang Prambanan tidak selalu mulus. Gempa besar dan letusan gunung berapi berulang kali meruntuhkan sebagian strukturnya. Candi ini sempat terkubur oleh waktu, terlupakan dalam semak dan tanah selama berabad-abad. Baru pada abad ke-19, masa pemerintahan Hindia Belanda, Prambanan kembali ditemukan dan direstorasi secara bertahap.

Pemugaran besar dilakukan setelah Indonesia merdeka. Usaha panjang ini akhirnya membuahkan hasil ketika UNESCO menetapkan Candi Prambanan sebagai Situs Warisan Dunia pada tahun 1991. Kini, Prambanan bukan hanya monumen arkeologi, melainkan juga simbol kebanggaan nasional.

Salah satu daya tarik yang menambah keindahan Prambanan adalah Sendratari Ramayana Prambanan, sebuah pertunjukan kolosal yang memadukan tari, musik gamelan, dan kisah epos India kuno. Digelar di panggung terbuka dengan latar belakang candi yang diterangi cahaya bulan, pertunjukan ini menghadirkan pengalaman spiritual dan artistik yang menakjubkan.

Para penari mengekspresikan kisah Rama, Sinta, dan Rahwana dengan gerakan halus dan penuh makna. Cahaya lampu yang menyorot siluet candi menciptakan suasana magis—seakan masa lalu dan masa kini berpadu dalam satu harmoni.

Kini, Candi Prambanan bukan hanya tempat wisata, tetapi juga ruang pertemuan antara sejarah dan masa depan. Setiap tahun, ribuan wisatawan domestik dan mancanegara datang untuk menyaksikan keagungan budaya Jawa-Hindu ini. Pemerintah dan masyarakat setempat pun terus berupaya menjaga keseimbangan antara pelestarian dan pariwisata.

Selain menjadi destinasi sejarah, Prambanan juga menjadi pusat penelitian arkeologi, kegiatan kebudayaan, dan pendidikan. Banyak pelajar, seniman, dan peneliti datang untuk mempelajari nilai-nilai filosofi yang terkandung dalam arsitekturnya.

Candi Prambanan adalah simbol keabadian cinta dan keimanan manusia kepada Tuhan. Ia menjadi saksi bahwa peradaban Nusantara sejak dahulu telah menjunjung tinggi nilai seni, spiritualitas, dan kemanusiaan. Dalam setiap batu yang tersusun rapi, dalam setiap relief yang diukir penuh ketelatenan, tersimpan pesan: bahwa keindahan dan kebesaran lahir dari keyakinan dan pengorbanan.

Seribu tahun telah berlalu, namun Candi Prambanan tetap berdiri anggun, seolah membisikkan rahasia masa lalu kepada setiap jiwa yang menatapnya. Ia bukan hanya candi—ia adalah puisi batu yang ditulis oleh peradaban besar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....