Jejak Kejayaan Majapahit Terukir Abadi Di Candi Penataran

  • 16 Nov 2025 16:40 WIB
  •  Takengon

KBRN, Takengon: Kabut pagi yang turun perlahan di lereng Gunung Kelud membuka tabir sejarah panjang sebuah kompleks candi yang menjadi saksi perjalanan peradaban Jawa Timur. Candi Penataran—yang berdiri megah di Blitar—adalah salah satu kompleks candi Hindu terbesar dari era Majapahit. Ia bukan sekadar bangunan batu, melainkan warisan hidup yang menyimpan jejak politik, religi, dan kebudayaan dari masa ketika Nusantara mencapai puncak kejayaannya.

Sejarah Penataran berakar pada abad ke-12 hingga 15 Masehi. Candi ini pertama kali dibangun pada masa Raja Srengga dari Kerajaan Kadiri, kemudian dilanjutkan dan diperluas oleh para raja Majapahit. Relief-relief yang tersebar di seluruh kompleks menunjukkan perkembangan seni rupa dan keagamaan selama ratusan tahun, menjadikan Penataran sebagai salah satu situs arkeologi paling lengkap dalam merekam perjalanan budaya Jawa.

Yang menarik, letak Penataran di kaki Gunung Kelud bukan tanpa alasan. Pada masa lalu, erupsi Kelud dianggap sebagai ancaman besar bagi kerajaan. Maka, pendirian Candi Penataran memiliki fungsi spiritual penting: sebagai tempat pemujaan kepada dewa-dewa Hindu untuk meredakan murka Kelud, serta memohon keselamatan bagi kerajaan dan rakyat. Aspek ini menjadikan Penataran unik dibanding kompleks candi lain yang lebih berfungsi sebagai tempat peribadatan umum atau pusat pendidikan agama.

Arsitektur Penataran memperlihatkan tiga tingkatan utama, masing-masing merepresentasikan konsep kosmologi Hindu: dunia bawah (bhurloka), dunia tengah (bhuwarloka), dan dunia atas (swarloka). Struktur bertingkat ini tidak hanya menunjukkan tingkat spiritualitas yang harus dilalui pemuja, tetapi juga menggambarkan perkembangan arsitektur Jawa Timur dari masa ke masa. Ruang-ruang terbuka, gapura paduraksa, dan balai-balai kecil yang saling terhubung mempertegas bahwa candi ini dulunya merupakan kompleks peribadatan yang aktif.

Namun yang paling memikat perhatian para peneliti adalah relief-relief berkisah yang menghiasi dinding-dinding candi. Ramayana, Krisnayana, dan kisah-kisah epik Hindu lainnya terpahat dengan detail mengagumkan, menunjukkan kecanggihan seniman Majapahit dalam merekam narasi keagamaan. Relief ini bukan hanya simbol keagamaan, tetapi juga media pembelajaran bagi masyarakat masa itu yang belum mengenal tulisan luas. Dari relief-relief inilah para sejarawan memetakan kembali nilai moral, estetika, dan tata sosial zaman Majapahit.

Candi utama Penataran, yang disebut sebagai Candi Penataran Lor, berdiri dengan bentuk punden berundak—gaya arsitektur asli Nusantara yang kemudian berpadu dengan sentuhan Hindu India. Perpaduan inilah yang menjadikan Penataran begitu unik: sebuah titik temu antara budaya lokal dan pengaruh luar, menghasilkan identitas arsitektur yang sepenuhnya Jawa.

Meski sempat terlantar selama masa-masa perpindahan pusat kekuasaan setelah runtuhnya Majapahit, Penataran kembali ditemukan pada abad ke-19 oleh pemerintah kolonial Belanda. Pemugaran dilakukan secara hati-hati, meski masih banyak bagian candi yang kehilangan struktur aslinya. Namun hingga kini, keutuhan kompleks Penataran tetap menjadi salah satu yang terbaik dalam sejarah candi-candi Hindu di Indonesia.

Candi Penataran hari ini adalah ruang berlapis waktu. Setiap anak tangga yang dijejak pengunjung membawa mereka menembus abad ke-13, merasakan kembali suasana ketika para pendeta memimpin ritual suci dan kerajaan berdiri dengan penuh kejayaan. Di sela-sela batu yang berlumut, masih terasa denyut kehidupan masa lalu yang mengajarkan bahwa peradaban besar tidak hanya dibangun oleh kekuasaan, tetapi juga spiritualitas dan seni.

Ketika matahari sore menyentuh seluruh kompleks dan menciptakan siluet keemasan, Penataran tampak seperti lukisan hidup dari masa Majapahit. Sejarahnya yang panjang dan kompleks menjadikannya bukan sekadar destinasi wisata, melainkan buku terbuka tentang perjalanan budaya Jawa Timur. Di sini, warisan Majapahit tidak hanya dilihat—tetapi dirasakan, dihirup, dan diingat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....