Tragedi Kapal Tampomas II: Api di Tengah Laut

  • 11 Nov 2025 19:02 WIB
  •  Takengon

KBRN, Takengon: Matahari baru saja terbit di ufuk timur pada pagi 27 Januari 1981, ketika laut di sekitar perairan Masalembo, antara Pulau Madura dan Sulawesi, berubah menjadi saksi bisu dari salah satu tragedi pelayaran paling memilukan dalam sejarah Indonesia — tenggelamnya kapal penumpang KM Tampomas II.

Kapal yang seharusnya membawa para perantau menuju tanah harapan itu justru menjadi kuburan massal di tengah samudra.

KM Tampomas II adalah kapal penumpang besar milik PELNI (Pelayaran Nasional Indonesia) yang dibuat di Jerman Barat dan diresmikan pada 1980. Kapal ini memiliki panjang hampir 100 meter, dengan kapasitas lebih dari 1.500 penumpang.

Rutenya saat itu adalah Jakarta–Surabaya–Ujung Pandang–Ambon, dan setiap pelayaran selalu dipenuhi warga yang hendak merantau, berdagang, atau sekadar pulang kampung.

Pada 24 Januari 1981, kapal itu berangkat dari Tanjung Priok, Jakarta.

Sore itu, langit cerah dan ombak bersahabat. Tak seorang pun menyangka bahwa pelayaran itu akan menjadi yang terakhir.

Tercatat sekitar 1.142 penumpang dan awak kapal berada di dalamnya, termasuk ratusan anak-anak dan keluarga.

Tiga hari setelah berlayar, pada 27 Januari 1981, sekitar pukul 02.00 dini hari, petaka datang.

Kebakaran terjadi di geladak bawah kapal, tepatnya di ruang mesin yang berisi bahan bakar dan minyak pelumas.

Diduga api muncul akibat korsleting listrik atau tumpahan minyak yang tersulut percikan api.

Dalam hitungan menit, api membesar dan menjalar ke seluruh bagian kapal. Kepulan asap tebal menyelimuti ruangan, membuat banyak penumpang panik.

Suara teriakan, doa, dan tangis anak-anak bercampur menjadi satu dalam gelombang keputusasaan. Kapal yang seharusnya menjadi rumah sementara di tengah laut itu berubah menjadi neraka terapung.

Dalam kondisi darurat, nakhoda kapal M. Abdulrachman berusaha mengendalikan situasi dan mengirimkan sinyal SOS.

Namun posisi kapal yang berada di tengah lautan dan jauh dari jalur pelayaran utama membuat pertolongan datang terlambat.

Penumpang berlarian menuju dek atas dan berebut naik ke sekoci. Sayangnya, jumlah sekoci tidak cukup untuk semua.

Banyak sekoci yang rusak atau terbalik diterpa ombak. Sebagian penumpang nekat melompat ke laut tanpa pelampung, berharap bisa diselamatkan kapal lain.

Sekitar pukul 07.00 pagi, api melahap seluruh badan kapal.

Tampomas II perlahan miring ke kiri, lalu tenggelam dengan suara dentuman besar.

Ratusan tubuh tampak terapung di laut, beberapa masih berusaha bertahan di potongan kayu atau pelampung seadanya.

Wilayah tenggelamnya kapal, perairan Masalembo, kemudian menjadi terkenal dan sering dijuluki sebagai “Segitiga Bermuda Indonesia”.

Selain Tampomas II, di wilayah ini juga pernah terjadi berbagai kecelakaan laut dan udara yang misterius.

Namun bagi keluarga korban, misteri bukanlah yang utama — yang paling menyakitkan adalah kehilangan tanpa kabar pasti.

Berita tenggelamnya KM Tampomas II menyebar cepat.

Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, dipenuhi keluarga penumpang yang menangis histeris menunggu kabar.

Di Jakarta, kantor PELNI diserbu warga yang menuntut kejelasan daftar korban.

Pemerintah segera mengerahkan kapal dan pesawat untuk mencari korban. Namun laut Masalembo yang luas dan ganas menyulitkan pencarian.

Setelah beberapa hari, ratusan jenazah berhasil ditemukan — banyak dalam kondisi mengenaskan.

Dari laporan resmi, lebih dari 580 orang dinyatakan tewas atau hilang, sementara sekitar 400 lainnya berhasil diselamatkan.

Namun banyak pihak meyakini jumlah korban sebenarnya lebih besar, karena banyak penumpang naik tanpa tiket resmi.

Hasil penyelidikan menunjukkan bahwa kapal membawa muatan berlebih, termasuk bahan mudah terbakar seperti bensin dan kendaraan bermotor yang tidak ditempatkan sesuai aturan.

Selain itu, sistem keamanan dan peralatan penyelamat di kapal dinilai tidak memadai.

Pemerintah kemudian menindak sejumlah pejabat PELNI dan pihak yang dianggap lalai.

Namun bagi keluarga korban, sanksi itu tak sebanding dengan kehilangan yang mereka derita.

Banyak yang hanya bisa menerima jasad tanpa identitas, atau bahkan tak pernah menemukan kerabatnya hingga kini.

Empat dekade telah berlalu, namun Tragedi Tampomas II tetap hidup dalam ingatan bangsa.

Di beberapa tempat, terutama di Sulawesi dan Jawa, keluarga korban masih menggelar doa setiap bulan Januari.

Bagi mereka, laut bukan hanya sumber kehidupan, tetapi juga tempat di mana ratusan mimpi terkubur.

Bangkai kapal Tampomas II hingga kini dipercaya masih terbaring di dasar laut Masalembo, sekitar 90 meter di bawah permukaan.

Penyelam yang pernah menelusurinya menyebut suasana di sana hening, misterius, dan menyedihkan — seolah waktu berhenti di detik tragedi itu terjadi.

Tragedi Tampomas II menjadi pelajaran penting tentang arti keselamatan dan tanggung jawab dalam dunia pelayaran.

Ia mengingatkan bangsa ini bahwa di balik keindahan samudra Nusantara, selalu ada bahaya yang menuntut kewaspadaan dan kedisiplinan tinggi.

Kini, setiap kali kapal berangkat meninggalkan pelabuhan, suara sirene panjang yang terdengar bukan sekadar tanda perpisahan, tetapi juga doa agar tragedi serupa tak terulang lagi.

Sebab dari api dan gelombang Masalembo, Indonesia belajar bahwa kelalaian sekecil apa pun di laut dapat menelan nyawa ribuan manusia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....