Tan Malaka: Sang Revolusioner Yang Dilupakan Negeri Sendiri

  • 08 Nov 2025 11:34 WIB
  •  Takengon

KBRN, Takengon: Di sebuah pemakaman sederhana di Desa Selopanggung, Kediri, Jawa Timur, terbaring jasad seorang tokoh yang namanya kerap disebut, namun kisah hidupnya jarang dipahami secara utuh. Ia adalah Tan Malaka — pejuang, pemikir, sekaligus ideolog yang pernah dijuluki sebagai “Bapak Republik Indonesia” oleh Bung Karno sendiri.

Lahir di Nagari Pandan Gadang, Sumatera Barat, 2 Juni 1897, Tan Malaka tumbuh dalam lingkungan Minangkabau yang kental dengan semangat merantau dan berdiskusi. Setelah menempuh pendidikan guru di Belanda, ia pulang ke tanah air dengan gagasan-gagasan baru: tentang kemerdekaan, keadilan sosial, dan pendidikan bagi kaum tertindas.

Namun, pemikirannya yang radikal membuatnya kerap dianggap ancaman oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Ia ditangkap, diasingkan, dan memulai kehidupan panjang sebagai pelarian politik — dari Belanda, Filipina, Tiongkok, Birma, hingga Uni Soviet.

Bagi Tan Malaka, kemerdekaan tidak cukup hanya dengan mengusir penjajah. Ia menulis dalam karya terkenalnya, Madilog — singkatan dari Materialisme, Dialektika, dan Logika — bahwa bangsa yang merdeka harus berpikir rasional dan ilmiah. Ia menolak takhayul dan fanatisme buta, menyerukan kebangkitan intelektual rakyat Indonesia.

“Merah bukan berarti Komunis, Putih bukan berarti Nasionalis — kita semua berjuang untuk Indonesia Merdeka!” begitu tulisnya dalam Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia) pada tahun 1925, jauh sebelum proklamasi 1945 berkumandang.

Meski pernah menjadi inspirasi banyak tokoh pergerakan, perjalanan hidup Tan Malaka justru dipenuhi kesalahpahaman. Dalam dinamika politik revolusi, ia dituduh sebagai pengacau, bahkan sempat ditahan oleh pemerintahan Indonesia sendiri pada masa awal kemerdekaan.

Tragisnya, pada 21 Februari 1949, di tengah kekacauan perang kemerdekaan di Kediri, Tan Malaka dieksekusi oleh pasukan republik — tanpa pengadilan. Ia wafat dalam senyap, nyaris tanpa nisan, dan namanya baru direhabilitasi puluhan tahun kemudian.

Kini, nama Tan Malaka mulai kembali dikenang. Buku-bukunya dibaca ulang oleh generasi muda, patungnya berdiri di beberapa kota, dan kisahnya menginspirasi banyak orang untuk berpikir kritis terhadap bangsa sendiri.

Ia bukan hanya seorang revolusioner, tapi juga pemikir yang mendahului zamannya.

“Setelah aku mati, baru aku akan benar-benar hidup,” tulisnya suatu ketika. Kalimat itu kini terasa seperti ramalan. Karena dari makam sunyi di Kediri, nama Tan Malaka terus hidup — dalam setiap perdebatan tentang kemerdekaan, keadilan, dan cita-cita republik.

Tan Malaka diangkat sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1963. Namun hingga kini, kisahnya masih menjadi bahan perbincangan: antara idealisme dan politik, antara sejarah dan ingatan bangsa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....