Seni Pepongoten Gayo Warisan Lisan Sarat Nilai Budaya
- 10 Okt 2025 10:41 WIB
- Takengon
KBRN, Takengon : Pepongoten merupakan salah satu seni tradisional lisan masyarakat Gayo di Aceh Tengah yang berfungsi sebagai media penyampaian pesan moral, nasihat, dan nilai kehidupan melalui syair atau tuturan. Seni ini biasanya disampaikan dalam bentuk pidato, pantun, atau tembang berbahasa Gayo yang dibawakan dengan intonasi khas dan penuh penghayatan.
Kata dasarnya adalah pongot, yang artinya tangisan. Tradisi ini diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh pemerintah Indonesia sejak tahun 2014. Pada awalnya, pepongoten dilakukan untuk meratapi orang yang sudah meninggal. Namun, seiring masuknya ajaran Islam, tradisi ini mulai pudar dan digeser pada konteks lain.
Dalam masyarakat Gayo, Pepongoten sering ditampilkan pada berbagai acara adat seperti pernikahan, musyawarah kampung, dan kegiatan kebudayaan lainnya. Seorang pencerita atau penyair Pepongoten akan menyampaikan pesan tentang etika, kesopanan, ajaran agama, hingga nilai kebersamaan. Penyampaiannya dilakukan secara ritmis dan disertai ekspresi tubuh yang selaras dengan isi pesan, sehingga menciptakan suasana yang khidmat dan penuh makna.
Lebih dari sekadar hiburan, Pepongoten memiliki fungsi sosial dan edukatif. Melalui syair-syairnya, masyarakat diajak untuk merenungkan makna kehidupan, menghormati orang tua, menjaga keharmonisan sosial, serta menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya sendiri. Tradisi ini juga menjadi sarana pewarisan bahasa dan sastra Gayo dari generasi ke generasi.
Di tengah arus modernisasi, keberadaan Pepongoten kini terus dijaga oleh para budayawan dan tokoh adat Gayo agar tidak hilang ditelan zaman. Upaya pelestarian dilakukan melalui festival budaya, pertunjukan seni daerah, dan pembelajaran di sekolah-sekolah berbasis muatan lokal. Dengan demikian, Pepongoten tetap menjadi identitas penting yang mencerminkan kearifan lokal dan karakter masyarakat Gayo yang beradab, santun, dan berjiwa luhur.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....