LPPM IAIN Takengon Angkat Kisah Inspiratif Perjuangan 'Ph.D. Mom' di Australia

  • 22 Agt 2026 18:43 WIB
  •  Takengon

RRI.CO.ID, Takengon : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Takengon menggelar kegiatan akademik rutin bertajuk Coffee Morning pada Rabu (19/8/2026). Kegiatan yang berlangsung di Ruang Meeting LPPM ini menghadirkan narasumber Khoiriyah Shofiyah Tanjung, M.Pd, Ph.D., alumni The University of Newcastle, Australia, yang juga salah seorang Dosen IAIN Takengon dengan mengusung tema “Being a Ph.D mom in Australia”.

Diskusi ilmiah yang dikemas santai ini mengupas pengalaman Khoiriyah menyeimbangkan peran ganda sebagai seorang mahasiswa doktoral sekaligus ibu dari tiga orang anak di negeri kanguru. Kegiatan ini turut dihadiri oleh pimpinan lembaga, jajaran dosen, dan para peneliti di lingkungan IAIN Takengon.

Dalam paparannya, Khoiriyah mengungkapkan bahwa menjalani studi Ph.D. di Australia memiliki tantangan akademik yang ketat, terutama pada tahun pertama yang dikenal dengan masa confirmation.

“Jika gagal pada percobaan pertama, masih ada kesempatan kedua. Namun jika gagal lagi, mahasiswa harus kembali ke negaranya atau turun ke jenjang master,” ujarnya menggambarkan beratnya tekanan akademik di awal studi.

Selain beban akademik, tantangan terbesar yang dihadapi adalah tingginya biaya hidup (living cost). Khoiriyah menceritakan bahwa untuk menyewa rumah di sana, biayanya bisa mencapai 20 juta rupiah per bulan. Hal ini diperberat dengan pengalaman harus mencari tempat tinggal di masa-masa awal kedatangan yang menguras air mata.

“Saya sempat menangis dan berdoa di bulan Ramadan. Alhamdulillah, sehari sebelum Idul Fitri ada teman yang menelepon dan memberi kabar ada rumah sewa,” kenangnya.

Pengalaman mendebarkan juga ia hadapi ketika salah satu anaknya harus menjalani operasi leher di saat masa tunggu (waiting period) asuransi kesehatan belum genap satu tahun. Hal tersebut membuat keluarganya harus menanggung biaya penuh yang sangat mahal. Di tengah segala keterbatasan tersebut, Khoiriyah sangat bersyukur atas dukungan penuh dari sang suami yang mengambil peran utama dalam mengasuh anak-anak dan mengurus pekerjaan rumah tangga agar dirinya bisa menuntaskan studi.

Di balik kisah perjuangan yang menguras air mata, diskusi ini juga diwarnai dengan gelak tawa saat narasumber menceritakan gegar budaya (culture shock) yang ia alami di lingkungan akademik Australia.

Lebih lanjut, Khoiriyah menceritakan kelucuan anak-anaknya yang lebih cepat beradaptasi dengan bahasa Inggris ketimbang dirinya. Suatu ketika, anaknya pernah mengkritik kemampuan bahasa Inggrisnya dengan mengatakan, “Mom, your English is so bad,” yang sontak memecah tawa para peserta Coffee Morning.

Kegiatan Coffee Morning ini diharapkan dapat menjadi motivasi dan memberikan wawasan empiris bagi civitas akademika IAIN Takengon, khususnya bagi para dosen dan peneliti yang bercita-cita melanjutkan studi ke luar negeri. Pesan utama dari diskusi ini menegaskan bahwa kesuksesan studi di luar negeri bukan semata soal kecerdasan intelektual, melainkan juga ketangguhan mental, resiliensi finansial, serta kuatnya support system keluarga. (rel)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....