Mengapa Kemampuan Mendengarkan Sama Pentingnya dengan Berbicara
- 14 Agt 2026 17:29 WIB
- Takengon
RRI.CO.ID, Takengon: Sejak kecil, kita menghabiskan banyak waktu untuk belajar berbicara. Mulai dari latihan membaca dan berbicara di depan kelas, membuat laporan buku, mengikuti debat, hingga melakukan presentasi menggunakan PowerPoint di sekolah, perguruan tinggi, dan tempat kerja.
Bahkan, banyak buku dan pelatihan yang mengajarkan bagaimana menjadi pembicara yang baik. Budaya populer juga sering mengagungkan kemampuan berbicara melalui berbagai acara seperti TED Talk dan sesi bercerita di depan publik.
Namun, bagaimana dengan kemampuan mendengarkan?
Bagi sebagian besar orang, waktu yang digunakan untuk benar-benar belajar mendengarkan justru sangat sedikit. Kalaupun ada, biasanya hanya melalui terapi, pelatihan tertentu, atau seminar tentang kecerdasan emosional dan active listening.
Menyadur dari Psychologytoday, dalam pelatihan mendengarkan, seseorang biasanya diajarkan menjaga kontak mata, mengarahkan tubuh kepada pembicara, meniru bahasa tubuh, mengangguk, serta mengulangi inti pembicaraan dengan kalimat seperti, "Jadi, yang saya dengar adalah..."
Teknik tersebut memang dapat membuat seseorang terlihat seperti pendengar yang baik. Namun, mendengarkan yang sebenarnya bukan sekadar menunjukkan bahwa kita memperhatikan, melainkan benar-benar hadir dan memahami orang yang sedang berbicara.
Mendengarkan Berpengaruh pada Banyak Hal
Kemampuan mendengarkan ternyata menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi hubungan, kepemimpinan, negosiasi, hingga kinerja seseorang.
Dalam sejumlah penelitian, kemampuan mendengarkan bahkan dapat memberikan pengaruh yang lebih kuat dibandingkan beberapa aspek kepribadian, keterampilan teknis, maupun IQ.
Sayangnya, di tengah kehidupan yang semakin dipenuhi distraksi, kemampuan mendengarkan justru semakin terabaikan.
Kita mungkin pernah merasakan bagaimana rasanya berbicara kepada seseorang yang sebenarnya tidak benar-benar hadir. Matanya sesekali melihat ponsel, memperhatikan orang yang lewat, atau melihat ke arah pintu. Ia mengangguk terlalu cepat dan memberikan respons sekadarnya.
Akibatnya, orang yang sedang bercerita dapat kehilangan kepercayaan diri. Cerita yang seharusnya disampaikan secara lengkap akhirnya dipersingkat. Bagian yang paling penting, lucu, atau emosional justru dilewati karena merasa lawan bicara tidak benar-benar tertarik.
Mendengarkan Membutuhkan Rasa Ingin Tahu
Dalam hubungan, kemampuan mendengarkan bukan hanya persoalan teknik. Seseorang bisa saja menguasai berbagai teknik active listening, tetapi tetap membuat pasangannya merasa tidak didengarkan.
Hal yang sering hilang adalah rasa ingin tahu yang tulus. Rasa ingin tahu membuat seseorang benar-benar ingin memahami apa yang belum diketahuinya. Bukan sekadar menunggu giliran berbicara atau memikirkan jawaban berikutnya.
Perbedaan antara benar-benar memperhatikan dan sekadar berpura-pura memperhatikan sebenarnya dapat dirasakan oleh orang lain.
Ketika seseorang merasa didengarkan, ia cenderung lebih nyaman untuk terbuka. Sebaliknya, ketika merasa diabaikan atau dihakimi, seseorang akan lebih memilih menutup diri.
Mendengarkan Membantu Menenangkan
Mendengarkan juga bukan hanya bertujuan untuk memberikan respons. Kemampuan ini dapat membantu seseorang merasa lebih tenang dan aman dalam berkomunikasi.
Ketika seseorang merasa benar-benar didengar, kondisi pikiran dan tubuhnya dapat menjadi lebih rileks. Dalam keadaan yang lebih tenang, seseorang biasanya lebih mampu berpikir jernih, menyampaikan pendapat dengan jujur, menemukan ide, dan mengambil keputusan.
Karena itu, mendengarkan dapat menjadi bagian penting dalam membangun kerja sama, menyelesaikan konflik, maupun menciptakan hubungan yang sehat.
Jadilah Pendengar yang Benar-Benar Hadir
Mendengarkan dengan baik tidak membutuhkan peralatan khusus. Yang dibutuhkan adalah kemauan untuk memberikan perhatian dan rasa ingin tahu terhadap orang yang sedang berbicara.
Tidak perlu selalu mencari jawaban atau memberikan nasihat. Terkadang, seseorang hanya membutuhkan ruang untuk menyampaikan apa yang dirasakan tanpa merasa diabaikan.
Menjadi pendengar yang baik bukan tentang terlihat seperti sedang memperhatikan, tetapi benar-benar hadir dan tertarik memahami.
Sebab, ketika kita benar-benar mendengarkan, kita tidak hanya memahami kata-kata seseorang, tetapi juga membantu menciptakan ruang yang membuat mereka merasa aman untuk berbicara.
Seperti yang dikutip dari Kate Murphy dalam bukunya tentang seni mendengarkan, “Anda tidak perlu berpura-pura seolah-olah sedang memperhatikan jika memang benar-benar memperhatikan.”
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....