Berhenti Membandingkan Diri dengan Kesuksesan Orang Lain
- 21 Sep 2026 15:24 WIB
- Takengon
RRI.CO.ID, Takengon: Membandingkan keberhasilan diri dengan pencapaian orang lain merupakan kebiasaan yang dapat memengaruhi kepercayaan diri. Kebiasaan tersebut dapat memunculkan rasa iri, malu, kecewa, hingga membuat seseorang merasa tertinggal dalam menjalani kehidupannya.
Membandingkan perjalanan karier dengan teman yang memiliki posisi lebih tinggi dapat memicu rasa tidak percaya diri. Ketika melihat teman mendapat promosi, jabatan baru, atau kenaikan gaji, seseorang dapat mulai mempertanyakan perkembangan kariernya sendiri.
Kebiasaan tersebut membuatnya menyimpulkan bahwa dirinya tidak memiliki pencapaian sebesar teman-temannya. Padahal, jalur karier yang dijalani setiap orang dapat berbeda.
Melansir Self, Senin(21/09/2026), menurut Sanam Hafeez, PsyD, neuropsikolog sekaligus direktur Comprehend The Mind di New York, membandingkan diri dengan orang lain merupakan hal yang secara alami dilakukan manusia.
“Hal itu sudah tertanam dalam DNA kita. Kita peduli terhadap bagaimana dunia melihat diri kita,” ujar Hafeez.
Manusia kerap melihat pekerjaan, kehidupan keluarga, liburan, maupun pencapaian orang lain sebagai ukuran untuk menilai kehidupannya sendiri. Namun, kebiasaan tersebut dapat memunculkan rasa malu, iri, dan kesal, terutama ketika perbandingan dilakukan melalui media sosial.
Pahami Perasaan yang Muncul
Langkah pertama untuk mengurangi kebiasaan membandingkan diri adalah memahami perasaan yang muncul ketika melihat pencapaian orang lain. Perasaan tersebut mungkin terlihat seperti rasa iri. Namun, jika ditelusuri lebih dalam, bisa saja terdapat rasa frustrasi, malu, rendah diri, atau ketidakpuasan terhadap kehidupan sendiri.
Hafeez menyarankan untuk mengenali perasaan tersebut tanpa menghakimi diri sendiri. Memberi nama pada emosi yang dirasakan juga dapat membantu seseorang mengelola emosi dengan lebih baik.
Setelah mengetahui perasaan yang muncul, tanyakan kepada diri sendiri mengenai penyebabnya. Rasa iri terhadap keberhasilan teman, misalnya, mungkin sebenarnya berkaitan dengan rasa tidak aman terhadap perjalanan karier sendiri. Bisa pula muncul karena tekanan keluarga, pengalaman masa lalu, kelelahan bekerja, atau kekhawatiran bahwa seseorang sedang berada di jalan yang salah.
Menurut Hafeez, kebiasaan membandingkan diri sering kali bukan benar-benar tentang orang lain, melainkan tentang seberapa puas seseorang terhadap kehidupannya sendiri.
“Orang lain hanya menjadi cermin,” katanya.
Namun, tidak semua perbandingan menunjukkan persoalan emosional yang mendalam. Terkadang seseorang memang mengetahui apa yang diinginkannya dan merasa tidak sabar karena melihat orang lain mendapatkannya lebih dahulu.
Ingat Kembali Pencapaian Diri
Ketika terlalu fokus pada keberhasilan orang lain, seseorang dapat melupakan pencapaiannya sendiri. Padahal, perkembangan tidak selalu terlihat dalam bentuk promosi jabatan atau kenaikan gaji. Setiap orang memiliki ukuran keberhasilan yang berbeda sesuai dengan pekerjaan dan kondisi kehidupannya.
Hafeez mengingatkan bahwa seseorang mungkin tidak memiliki apa yang dimiliki orang lain, tetapi mempunyai pencapaian lain yang tidak kalah berarti. Karena itu, definisi keberhasilan perlu diperluas. Jangan menggunakan ukuran kesuksesan orang lain untuk menilai seluruh perjalanan hidup sendiri.
Bagi seorang pekerja lepas, misalnya, keberhasilan dapat berupa membangun usaha sendiri, mendapatkan klien baru, meningkatkan tarif jasa, memperoleh kesempatan menulis di media besar, atau mampu menetapkan batasan pekerjaan untuk mencegah kelelahan.
Keberhasilan juga dapat hadir di luar pekerjaan, seperti memiliki hubungan yang sehat, waktu istirahat yang cukup, kemampuan mengelola keuangan, menjalani hobi, atau memiliki waktu bersama keluarga.
Setiap Orang Punya Jalannya Sendiri
Membandingkan diri dengan orang lain sering membuat seseorang hanya melihat sisi positif kehidupan orang lain dan mengabaikan pencapaiannya sendiri.
Padahal, kehidupan seseorang tidak dapat dinilai hanya dari satu ukuran. Karier, pendapatan, jabatan, hubungan sosial, kesehatan, waktu luang, maupun kepuasan pribadi dapat memiliki arti yang berbeda bagi setiap orang.
Karena itu, ketika mulai merasa tertinggal setelah melihat keberhasilan orang lain, cobalah berhenti sejenak dan melihat kembali perjalanan yang sudah dilalui.
Mengakui pencapaian diri bukan berarti berhenti berkembang. Sebaliknya, hal tersebut dapat membantu seseorang menetapkan tujuan yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan kehidupannya sendiri.
Pada akhirnya, keberhasilan tidak selalu berbentuk jabatan tinggi, pendapatan besar, atau pencapaian yang terlihat oleh banyak orang. Setiap orang memiliki ukuran keberhasilan dan perjalanan hidup yang berbeda.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....