Dry House Tenaga Surya Perkuat Usaha Perempuan Petani Kopi Gayo
- 24 Agt 2026 13:53 WIB
- Takengon
RRI.CO.ID, Takengon: Ketergantungan pada cuaca masih menjadi salah satu tantangan utama dalam proses pascapanen kopi Arabika Gayo. Bagi perempuan petani yang tergabung dalam Koperasi Kopi Wanita Gayo (Kokowagayo), perubahan cuaca dapat memperpanjang waktu pengeringan, meningkatkan risiko kontaminasi, dan memengaruhi konsistensi mutu kopi.
Untuk menjawab persoalan tersebut, tim Universitas Teuku Umar bersama Universitas Gajah Putih melaksanakan Program Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk “Penguatan Ekonomi Perempuan Petani Kopi Pascabencana melalui Penerapan Pengering Kopi Berbasis Energi Surya”. Program ini memperoleh pendanaan tahun 2026 melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, dalam Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat.
Kegiatan diketuai Dr. Vellayati Hajad, M.A. dari Universitas Teuku Umar, dengan anggota Dr. Ikhsan, S.IP., M.I.P. dari Universitas Teuku Umar dan Hajar Ashwad, S.Sos., M.SP dari Universitas Gajah Putih. Mitra kegiatan adalah Kokowagayo yang beranggotakan 363 perempuan petani dari tujuh desa sentra produksi kopi di Kabupaten Bener Meriah.
Sebelum program dilaksanakan, proses pengeringan masih banyak mengandalkan sinar matahari langsung. Dalam kondisi normal, pengeringan membutuhkan sekitar 10-14 hari dan dapat meningkat menjadi 18-25 hari pada musim hujan. Ketergantungan terhadap cuaca membuat proses sulit diprediksi serta meningkatkan risiko kadar air tidak seragam, pertumbuhan jamur, debu, dan kontaminasi lingkungan.
Program kemudian menerapkan teknologi pengering kopi berbasis energi surya dengan konsep greenhouse solar dryer. Teknologi menggunakan ruang pengering tertutup yang memanfaatkan panas matahari, didukung sistem ventilasi untuk membantu mengeluarkan udara lembap. Rancangan sistem juga mencakup rak pengering, panel surya, blower atau exhaust fan, perangkat pemantauan suhu dan kelembapan, serta komponen kelistrikan pendukung.
Sebanyak 25 anggota dan pengelola Kokowagayo mengikuti rangkaian sosialisasi, pelatihan, praktik, serta pendampingan pada 12-16 Juni 2026. Materi meliputi prinsip pengeringan, pemeriksaan alat, pengaturan kopi pada rak, ketebalan hamparan, pembalikan kopi, pemantauan kadar air, kebersihan ruang, dan perawatan dasar.
Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan kapasitas peserta. Pemahaman prinsip pengeringan meningkat dari 32 persen menjadi 88 persen. Kemampuan mengoperasikan alat naik dari 20 persen menjadi 80 persen. Pemahaman kontrol kadar air meningkat dari 24 persen menjadi 88 persen, sedangkan kemampuan melakukan perawatan dasar naik dari 12 persen menjadi 76 persen.
Dari sisi teknis, pengering surya juga menunjukkan hasil yang menjanjikan. Waktu pengeringan yang sebelumnya sekitar 12 hari dapat dipersingkat menjadi sekitar enam hari atau berkurang 50 persen. Kadar air akhir turun dari sekitar 14,0 persen menjadi 11,8 persen. Sistem ruang tertutup juga membantu menurunkan ketergantungan terhadap cuaca dan risiko kontaminasi, serta menghasilkan proses yang lebih seragam.
Untuk menjaga keberlanjutan, tim menyusun dan menyerahkan Standar Operasional Prosedur (SOP) Pengeringan Pascapanen Kopi. SOP mencakup pemeriksaan ruang pengering, rak, ventilasi dan exhaust fan, panel surya, sambungan kabel, kebersihan, rangka, penutup, hingga langkah perlindungan ketika terjadi hujan deras atau angin kencang.
Meski capaian teknis dan kapasitas peserta telah terlihat, peningkatan pendapatan belum dinyatakan secara kuantitatif. Tim masih akan memantau volume produksi, biaya, harga jual, penjualan, dan pendapatan dalam beberapa siklus penggunaan teknologi. Pendampingan juga akan dilanjutkan untuk meningkatkan kemampuan perawatan peserta menuju target minimal 80 persen.
Penerapan pengering surya menunjukkan bahwa teknologi tepat guna dapat memberi dampak lebih luas ketika dipadukan dengan pelatihan dan penguatan kelembagaan. Perempuan petani tidak hanya menjadi penerima alat, tetapi mulai berperan sebagai pengguna dan pengelola teknologi pascapanen. Dalam konteks pascabencana dan cuaca yang semakin sulit diprediksi, kombinasi teknologi, SOP, dan peningkatan kapasitas tersebut menjadi bagian penting dalam memperkuat keberlanjutan usaha kopi Gayo.
Hajar Ashwad
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....