Sebulan tanpa Gula, Apa Dampaknya bagi Suasana Mood?

  • 16 Agt 2026 10:50 WIB
  •  Takengon

RRI.CO.ID, Takengon: Makanan manis sering menjadi pilihan untuk memperbaiki suasana hati. Cokelat, kue, es krim, atau makanan penutup kerap dikonsumsi sebagai hadiah setelah menyelesaikan pekerjaan atau sekadar menghibur diri setelah menjalani hari yang berat.

Namun, konsumsi gula berlebihan dapat membuat sebagian orang merasa lelah, mudah tersinggung, sulit berkonsentrasi, bahkan mengalami perubahan suasana hati.

Menyadur dari Verywellmind, seorang Penulis, Sian Fergusson, mencoba mengurangi konsumsi gula tambahan selama satu bulan untuk melihat perubahan yang terjadi pada tubuh dan pikirannya.

Minggu Pertama, Mulai Membaca Label

Pada minggu pertama, perubahan terbesar bukan langsung dirasakan pada suasana hati, melainkan pada kebiasaan.

Ia mulai membaca label nutrisi dan daftar bahan makanan sebelum membeli. Dari kebiasaan tersebut, ia menyadari bahwa gula tambahan ternyata terdapat pada banyak makanan yang selama ini dianggap sehat, termasuk beberapa makanan ringan, saus, granola, yogurt, hingga protein bar.

Menyadur dari sumber yang sama, ahli diet Marjorie Nolan Cohn, mengurangi gula secara tiba-tiba dapat memicu keinginan kuat untuk mengonsumsi makanan manis karena gula berkaitan dengan sistem penghargaan di otak.

Meski demikian, tidak semua orang mengalami gejala yang sama. Pada sebagian orang, pengurangan gula dapat menimbulkan sakit kepala, kelelahan, dan perubahan suasana hati.

Minggu Kedua, Energi Mulai Lebih Stabil

Memasuki sekitar hari ke-10, perubahan mulai terasa. Kebiasaan mengonsumsi makanan manis sebagai bentuk penghargaan atau pelarian dari stres mulai berkurang.

Ia mulai merencanakan makanan ringan dengan lebih baik, mengurangi kebiasaan membeli makanan secara spontan, serta mencoba menghadapi emosi tanpa menjadikannya alasan untuk makan.

Menulis jurnal menjadi salah satu cara yang dilakukan untuk mengenali perasaan yang biasanya memicu keinginan makan.

Pada tahap ini, energi terasa lebih stabil. Berkurangnya konsumsi makanan manis membuat perubahan energi yang sebelumnya naik turun menjadi lebih terkendali. Suasana hati pun terasa lebih stabil.

Minggu Ketiga, Pikiran Lebih Jernih

Pada minggu ketiga, manfaat mulai semakin terasa. Rasa lelah dan brain fog berkurang sehingga aktivitas kerja dapat dilakukan dengan lebih fokus.

Beberapa perubahan yang dirasakan antara lain:

  1. Pikiran lebih jernih, terutama karena tidak lagi mengonsumsi makanan manis secara berlebihan.

  2. Emosi lebih stabil, sehingga tidak mudah tersinggung.

  3. Lebih sadar terhadap perasaan, karena mulai menulis jurnal dan menghadapi emosi daripada mencoba menghilangkannya melalui makanan.

Selain itu, makanan tanpa gula tambahan ternyata tetap dapat memberikan rasa puas. Kacang-kacangan, buah, dan cokelat hitam dalam jumlah wajar menjadi beberapa pilihan yang dapat dikonsumsi.

Minggu Keempat, Keinginan Makan Manis Berkurang

Memasuki minggu keempat, keinginan terhadap makanan manis mulai berkurang. Meski sesekali masih muncul keinginan menikmati es krim atau makanan penutup, dorongan tersebut tidak lagi terasa sekuat sebelumnya.

Energi dan kualitas tidur juga dirasakan lebih baik. Suasana hati menjadi lebih stabil dan kebiasaan menjadikan makanan manis sebagai hadiah mulai berkurang.

Hal yang paling dirasakan adalah meningkatnya kemampuan mengendalikan pilihan makanan.

Gula dan Suasana Hati

Menyadur dari sumber yang sama, ahli diet Jessica M. Kelly, konsumsi gula berlebihan, terutama dari sumber gula olahan, dapat menyebabkan kadar gula darah meningkat dan turun dengan cepat. Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan rasa lelah, mudah tersinggung, serta kesulitan berkonsentrasi.

Marjorie Nolan Cohn juga menambahkan, pola makan tinggi gula dalam jangka panjang berpotensi memengaruhi kesehatan mental melalui proses peradangan dan perubahan zat kimia otak yang berhubungan dengan suasana hati.

Sejumlah penelitian juga menemukan hubungan antara konsumsi gula dan depresi. Namun, hubungan tersebut tidak berarti gula secara langsung menjadi penyebab gangguan mental. Kondisi psikologis juga dapat mendorong seseorang melakukan emotional eating atau makan sebagai respons terhadap tekanan emosional.

Tidak Perlu Menghindari Gula Secara Total

Meski mengurangi gula dapat memberikan manfaat bagi sebagian orang, ahli tidak menyarankan semua orang menghilangkan gula secara ekstrem.

Menurut Kelly, terlalu fokus menghindari gula justru dapat meningkatkan stres, kecemasan, atau memicu pola makan yang tidak sehat.

“Menghilangkan gula sepenuhnya dari pola makan, terutama jika dilakukan secara ekstrem atau terlalu membatasi, dapat berdampak negatif pada kesehatan mental seseorang. Terlalu berfokus pada upaya menghindari gula dapat menyebabkan stres, kecemasan, dan pola makan yang tidak sehat atau tidak teratur,” ujar Kelly dikutip dari Verywellmind, Sabtu (15/08/2026).

Karena itu, konsumsi gula tetap dapat dilakukan dalam jumlah wajar sebagai bagian dari pola makan seimbang. Yang lebih penting adalah memahami perbedaan antara gula alami yang terdapat dalam buah dan susu dengan gula tambahan yang ditambahkan ke dalam makanan dan minuman.
Jika ingin mengurangi konsumsi gula, langkah yang dapat dilakukan antara lain:
  1. Membaca label makanan dan memperhatikan kandungan gula tambahan.
  2. Mengurangi minuman manis dan menggantinya dengan air putih atau teh tanpa gula.
  3. Memastikan tubuh cukup terhidrasi.
  4. Menjaga kualitas tidur karena kurang tidur dapat meningkatkan rasa lapar.
  5. Mengonsumsi makanan yang mengandung protein, lemak sehat, dan serat agar kenyang lebih lama.
  6. Mengenali apakah keinginan makan manis muncul karena lapar atau karena tekanan emosional.
Bagi orang yang terbiasa makan karena stres atau emosi, mengurangi gula saja belum tentu menyelesaikan masalah. Menulis jurnal, berbicara dengan orang yang dipercaya, melakukan aktivitas fisik ringan, atau berkonsultasi dengan psikolog maupun ahli gizi dapat menjadi pilihan.
Lebih Sadar, Bukan Berarti Harus Berpantang

Pengalaman selama satu bulan tanpa gula menunjukkan bahwa perubahan kecil dalam pola makan dapat membuat seseorang lebih sadar terhadap hubungan antara makanan, energi, tidur, dan suasana hati.

Namun, bukan berarti gula harus dihindari selamanya. Menikmati makanan manis sesekali tetap dapat menjadi bagian dari pola makan sehat selama dilakukan secara bijak dan tidak dijadikan satu-satunya cara untuk mengatasi stres.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....